Home Tak Berkategori Memantik Nalar Sharaf lewat Matan Bina

Memantik Nalar Sharaf lewat Matan Bina

509
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Sekilas Tentang Matan Bina

Kitab yang berjudul Bina Al-Asas atau yang populer dengan Matan Bina ini bisa dikatakan langkah awal dalam ilmu sharaf. Isinya ringkas, padat dan mudah dipahami. Susunannya pun sangat teratur dan rapih, sehingga sangat memudahkan siapapun yang ingin menghafalnya.

Penulisnya tidak diketahui sampai saat ini, meskipun di sana ada sejumlah nama yang sering dinisbatkan sebagai peletaknya. Di antaranya adalah Imam Abu Hanifah. Tapi ini tertolak. Menurut Sidi Faozi dalam majlisnya, buku ini tidak mungkin ditulis pada periode sang Imam. Dengan alasan bahwasanya Ibnu Jinni, ulama bermazhab Hanafi yang merupakan raksasa ilmu sharaf usai Sibaweih, sama sekali tidak menyinggung buku ini dalam masterpiecenya, yaitu Al-Khasais. Padahal Al-Khasais sendiri merupakan buku pamungkas dalam ilmu sharaf setelah Al-Kitab milik Sibaweih.

“Andai benar Abu Hanifah penulisnya, Matan Bina sudah pasti disinggung dan dikutip isinya oleh Ibnu Jinni –yang merupakan pengikut Mazhab Hanafi dan intens dalam dunia sharaf!” begitu ujarnya.

Ada juga nama Az-Zanjani yang sering dianggap sebagai penulis kitab ini. Asumsi berikut datang karena kitab masyhur miliknya, yakni Tashriful ‘Izzi, sering disatukan dengan kitab Matan Bina di banyak percetakan. Sehingga orang pun menyangka bahwa dua kitab ini ditulis oleh penulis yang sama, yaitu Abdul Wahab az-Zanjani. Padahal tidak.

Sidi Faozi pun sampai pada kesimpulan bahwa penulis kitab ini tidaklah diketahui. Kemungkinan besarnya, sang penulis, dengan sifat kerendahan hati dan penuh keikhlasannya, tidak ingin menyantumkan namanya di dalam buku yang ditulis olehnya. Dan niat tulus itu pun terbukti. Sampai saat ini buku berjudul Matan Bina terus eksis dan dikaji di manapun.

Secara keseluruhan ada tiga bagian yang dibahas dalam Matan yang sederhana ini –meskipun penulis tidak membaginya secara eksplisit seperti yang akan saya sebutkan. Yang pertama adalah bentuk perubahan pola suku kata dalam verba/kata kerja (tasriff al-Af’al), baik yang suku katanya asli (mujarrad) ataupun yang suku katanya menuai tambahan (maziid). Kedua adalah pembagian kata kerja yang banyak corak dan ragamnya menjadi beberapa bagian, seperti shohih dan mu’tal. Kemudian yang terakhir ialah hukum yang berkaitan dengan kata kerja serta perubahannya tersebut, seperti idgham, I’lal dan ibdal.

Namun secara global buku ini agaknya lebih dikhususkan kepada bagian pertama, yaitu tasriif al-‘Af’al. Ini bisa kita lihat bagaimana penulis hanya menyantumkan pembahasan nomor dua dan tiga secara sekilas dalam 1-2 halaman saja. Atau bahkan seharusnya ia tidak menuliskannya, namun terpaksa ia cantumkan dengan tujuan sebagai pengantar bagi pemula ketika akan masuk ke buku level selanjutnya.

Memantik Nalar Sharaf

Matan Bina hadir dengan membawa dasar dan prinsip yang ada pada ilmu sharaf. Ia menyajikan 35 bab dalam tashrif al-Af’al sebagai patokan hampir semua kata kerja yang ada pada bahasa arab, baik prosa maupun puisi. Dalam artian, hampir seluruh kata kerja yang ada dalam bahasa arab tidak akan keluar dari 35 bab ini. Dan bab-bab inilah yang menjadi tolak ukur –atau dalam bahasa sharafnya disebut dengan ‘wazan’– setiap kata kerja yang ada. Kenapa hampir semua tapi tidak semuanya? Hal ini karena adanya perbedaan pendapat dalam penyebutan bab dalam pembahasan mulhaq. (bisa komparasikan Matan Bina dengan Durus al-Tashrif milik Syekh Muhyiddin, hal.80-81)

Sebagai contoh, tatkala mendengar kata kerja “’alima ya’lamu” seseorang akan tau bahwa kata ini masuk dalam bab ‘fa’ila yaf’alu’. Hal ini karena yang menjadi timbangannya (fa’ila-yaf’alu) dengan yang ditimbang (‘alima-ya’lammu) itu sama dan serupa dalam jumlah huruf dan harakatnya . karenanya dengan sebab inilah kita memasukkan kata ‘alima ke bab fa’ila.

Dan inilah yang saya maksud dari nalar sharaf pada tulisan kali ini, yaitu nalar atau ‘kepekaan’ akan prinsip dan dasar yang ada pada ilmu sharaf yang dibangun pada seseorang lewat kitab Matan Bina. Mendengar kata kerja apapun dalam bahasa arab, maka nalar pertama yang terpantik adalah: “kata kerja ini masuk dalam bab yang mana?”

Sebenarnya tidak sampai disitu. Matan bina turut membangun nalar sharaf dengan menyebutkan apa yang menjadi tanda pada bab tersebut berupa harakat serta fungsi yang ada dibalik kata kerja itu. Karenanya pada kata ‘alima ya’lamu, selain masuk bab fa’ila yaf’alu, penulis juga memberikan tanda –yang mungkin sudah maklum adanya– berupa harakat kasrah pada fi’il madhi dan harakat fathah pada fi’il mudhari’. Juga makna yang tersirat di balik ‘alima, yaitu makna muta’addi, yang berarti verba yang membutuhkan objek.

Sehingga jika ingin dikumpulkan, pondasi dasar yang dibangun oleh Matan Bina pada nalar sharaf seorang pelajar adalah: seputar bab tashriful af’al, tanda berupa harakat pada bab tersebut, serta makna implisit di balik bab tersebut.

Tapi jika ditelisik, sebenarnya nalar seperti ini merupakan nalar dasar dalam sharaf jika ia melihat matan bina secara mentah, yakni melihat Matan nya saja. Namun jika ingin membaca syarh-nya atau mendengar penjelasan dari guru, seorang pelajar akan diberikan rangsangan yang lebih dari ini, meskipun levelnya agak lebih sulit. Layaknya pembahasan i’lal, atau seperti narasi: Jika ada kata kerja yang terdapat huruf waw atau ya berharakat dan sebelumnya ada huruf berharakat fathah, maka waw atau ya tersebut diganti dengan huruf alif. Kenapa demikian? Sebab huruf alif dalam isim ataupun fi’il tidak mungkin menjadi huruf asli pada suku kata, kedudukannya kalau bukan sebagai pengganti (I’lal) ia sebagai tambahan (ziyadah)

Tapi sekali lagi nalar seperti ini didapatkan apabila ia melihat apa yang ada di balik Matan Bina. Namun untuk pemula, nalar dasar yang dibangun Matan Bina (sebagaimana yan saya sebutkan d atas) sudah sangat cukup untuk menghidupkan nalar sorof para pelajar pemula, seperti anak-anak SD atau SMP misalnya. Setidaknya ia sudah meraba-raba dunia sharaf lewat pembelajaran seperti ini. Namun untuk kelas mahasiswa, sudah semestinya melihat apa di balik teks-teks zahir. Dan untuk Matan Bina, Kalian bisa lihat penjelasan milik Syarh Kafawi atau Talkhisul Asas milik Sayyid Utsman. Dua kitab itu dijadikan satu dalam cetakan Halabi. Segera dapatkan! Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Tafsir Universitas Al-Azhar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here