Home Artikel Membaca Nur Rasulullah Saw Ala Mantiqy

Membaca Nur Rasulullah Saw Ala Mantiqy

144
0

*Oleh: Nafisah Aliyah

Setiap suatu yang terdapat di alam raya ini tentunya memiliki esensi (mahiyah) dalam substansinya. Secara logis suatu materi yang ada, dapat dibagi dalam dua kategori yakni al-ashul (asal) dan al-far’u (cabang).

Dalam bahasa lain dapat kita katakan, yang asal adalah maqsum (yang dapat dibagi), dan yang cabang adalah qism (bagian dari suatu yang telah terbagi).
Al-Far’u yakhruju min al-Ushul

Mari kembali membahas tentang esensi (mahiyah). Ada satu hal penting yang menjadi kaidah paten, yakni mahiyah maqsum yadkhulu fi mahiyati qism, esensi dari apapun suatu yang usul (dapat dibagi) pasti masuk menjadi esensi dari suatu bagian yang telah terbagi darinya.

Sebelum membahas lebih dalam, penulis akan memberikan contoh yang sangat sederhana. Sekarang ibaratkan saja di depan kita ada sebuah apel. Setelah itu kita ingin membagi apel itu kepada empat orang teman kita. Akhirnya kita membagi apel tersebut menjadi 4 potong apel.

Adanya esensi oleh satu buah apel otomatis terbagi dan masuk ke dalam 4 buah apel. Dengan kata lain, esensi dari setiap 4 potong apel itu sama dengan buah apel yang masih utuh sebelumnya. Karena bagaimanapun pembagian yang ada, esensinya masih sama, yakni sama-sama buah apel.
“Esensi dari semua macam qism (bagian), pasti terbentuk dari esensi maqsum (yang dibagi)”

Setelah membicarakan tentang kaidah hubungan maqsum dan qism berdasarkan hakikat esensinya (mahiyah). Sekarang kita berlanjut menyinggung pembahasan yang lebih mendalam.

Sebagaimana kita tahu bahwa alam raya ini adalah bentuk ciptaanNya yang hadits (tidak kekal). Adanya sifat tidak kekal inilah menjadi salah satu bentuk dari sifat qism/farú. Dengan kata lain butuh adanya maqsum, yakni suatu yang asal. Atau jika dijabarkan secara gamblang, Allah Swt menciptakan alam raya ini tentu ada sebab dan alasannya, dimana sebab ataupun alasan itu menjadi usul/asas mengapa Allah Swt menciptakan alam ini.

Dalam qashidah Imam Bushiri terdapat lirik: kayfa tad’ù ilà al-dunyà dharùratu man – lawlàhu lam tukhrij al-dunyà min al-‘adami.
Perkataan Imam Bushiri ini cukup dapat disandarkan pada hadits qudsi riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi yang menyatakan bahwa kalau bukan karena Nabi Muhammad Saw, Allah takkan menciptakan nabi Adam As.

والأصل في ذالك ما رواه الحاكم و البيهقي من قول الله تعالى لآدم لما سأله بحق محمد أن يغفر له ما اقترف من صورة الخطيئة و كان رأى على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله سألتني بحقه أن أغفر لك ولولاه ما خلقتك فوجد آدم عليه السلام متوقف على وجود صلى الله عليه و سلم

Artinya: Dari hadits riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam perihal jawaban Allah Swt kepada Nabi Adam As yang meminta dengan nama Nabi Muhammad Saw ampunan terkait kesalahannya. Nabi Adam As ketika itu melihat tulisan ‘la ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’ di ‘Arsy. Allah menjawab ‘Kau meminta dengan namanya (Nabi Muhammad) agar Aku mengampunimu. Sungguh kalau bukan karenanya, Aku tidak akan meciptakanmu. (Hasyiyah al-Baijuri ala Matn al-Burdah).

Dari pemaparan singkat mengenai dalil di atas sekarang mari kita tarik keterikatan antara hubungan dari kaidah yang telah dijabarkan dengan alasan Allah Swt menciptakan alam ini karena nur Sayyidina Rasulillah Saw. Jika sebelumnya telah dijelaskan bahwa nur Rasululah Saw menjadi alasan penciptaanya, maka nur Rasulullah Saw di sini menempati posisi maqsum (yang asal dan dapat dibagi), dan alam semesta beserta isinya menjadi qism yang terbagi dari maqsum. Oleh karena itu alam beserta seluruh isi yang ada, baik dari makhluk hidup sampai yang benda matipun menjadi qism daripada maqsum.

Dari sini juga bisa disimpulkan bahwa mahiyah (esensi) dari bagian-bagian tersebut terdapat esensi maqsum. Artinya esensi dari semua yang ada di alam ini, termasuk juga diri kita, di dalamya terdapat esensi nur Sayyidina Rasulillah Saw.
Ada perumpamaan menarik yang dapat kita petik dari perkataan Said Nursi. “Dan di kala Anda melihat alam semesta ini seperti pohon besar, Anda akan menempatkan cahaya maknawi Rasulullah Saw yang pertama kali sebagai bijinya dan yang kedua kalinya sebagai buah.” Dalam perkataan ini dapat kita teladani bersama, alasan mengapa nur Sayyidina Rasulillah Saw diperumpakan sebagai sebuah biji, tidaklah lain karena dari bijilah awal tumbuhnya suatu tumbuhan. Akar, batang hingga menghasilkan buah.

Dan dari adanya tumbuhan, dapat menjadi sumber kehidupan makhluk hidup lainnya, menyimpan air dalam bumi, dan membersihkan udara yang kita hirup. Sedangkan manusia telah dimisalkan sebagai buahnya, karena buah merupakan salah satu bagian dari tumbuhan yang paling sempurna. Tafsiran yang lebih dalam lagi bahwa dalam setiap buah terdapat biji. Jika tadi kita memisalkan biji adalah perumpamaan nur Sayyidina Rasulilllah Saw, maka jelas dapat kita katakan bahwa dalam setiap diri manusia terdapat nur Sayyidina Rasulillah Saw.

Selanjutnya penulis akan memaparkan kaidah mantik lainnya yang menyinggung seputar hubungan antara alasan penciptaan alam dengan nur Rasulillah Saw. Adanya hubungan di antara keduanya dapat kita masukkan ke dalam kategori nisbah bayna kulliyayni yakni dalam model yang pertama, nisbah tasawi.

Dalam kaidah mantik, maksud dari nisbah tasawi yakni berlakunya lafadz kulliy yang masing-masing màshadaqnya tidak berbeda, alias sama. Secara bahasa nisbah berarti hubungan dan tasawi artinya sama, oleh karena itu diantara dua lafadz yang disandingkan ini -yakni nur Sayyidina Rasulillah Saw dan segala ciptaan Allah Swt- harusnya memiliki kesamaan.

Umumnya kita mencontohkan nisbah tasawi dengan menggunakan kata insàn (manusia) dan nàthiq (berpikir). Dari sini individu yang tercangkup oleh kata insàn juga tercangkup oleh kata nathiq, begitu juga sebaliknya. Hingga kita bisa mengatakan bahwa setiap insàn itu nàthiq -setiap manusia itu dapat berpikir- dan begitu juga setiap makhluk hidup yang dapat berpikir adalah manusia.

Sekarang mari kita misalkan dengan pembahasan sebelumnya, yakni antara nur Sayyidina Rasulillah Saw, dengan semua ciptaan Allah Swt. Katakan saja individu/bagian dari nur Sayyidina Rasulillah Saw adalah cipratan-cipratan nur yang telah terbagi-terbagi, sedang individu/bagian dari ciptaan Allah swt adalah semua yang ada di alam ini, baik meliputi hewan, tumbuhan, manusia, bahkan benda mati sekalipun layaknya batu. Dan sebagaimana dijelaskan di atas bahwa setiap dari partikel ataupun materi dari ciptaan-Nya maka di situ pula terdapat nur Sayyidina Rasulillah Saw.

Dengan ini sah-sah saja, apabila kita menisbatkan hubungan diantara keduanya ke dalam nisbah tasawi. Yakni setiap ciptaan Allah Swt itu terdapat nur Sayyidina Rasululah Saw. Begitu juga tidak diragukan jika cipratan dari nur sayyidan Rasulillah itu terpancar dan terdapat di setiap ciptaan-Nya.

“Dalam setiap individu yang tercakup oleh nur Rasulullah Saw adalah individu yang tercakup oleh makhluk ciptaan Allah Swt.”

Dalam momentum yangn indah dan mulia ini, mari kita gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Sebagaimana menjadi bentuk ciptaan-Nya yang paling sempurna dengan adanya nikmat akal dan hati, mari bersama menghidupkan mahiyah (esensi) hakiki yang ada dalam diri kita, yakni menghidupkan cipratan nur Sayyidina Rasulillah Saw yang telah ada.

Marhaban Ya Sayyid al-Kawnain, Marhaban Ya Rasulullah Saw.

*Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here