Home Opini Membacalah!

Membacalah!

318
0

Oleh: S Rahman*

Tidak seperti warga kota yang gandrung akan produk-produk pencarian jati diri dan identitas, warga desa saya masih cukup akrab dengan identitas dan budaya yang tumbuh dari dirinya sendiri. Di desa saya tidak ada para pengajar agama, baik guru TPQ, takmir masjid sampai penceramah yang dipanggil ustaz ataupun ustazah. Paling pol dipanggil Pak atau Bu, tidak kurang tidak lebih.

Suatu sore selepas Salat Magrib di beranda langgar terjadi perbincangan antara saya dan Pak Kis, guru ngaji sewaktu kecil yang akrab saya panggil Paklik Kis. Ia membuka majelis dengan pertanyaaan yang cukup berat, “Apa pendapat sampean tentang ushul tsalashah?” Sebenarnya sebisa mungkin saya ingin menghindari pertanyaan semacam ini, sebagai sosok asing yang baru pulang ke desa setelah bertahun-tahun belajar di negeri orang, saya merasa tidak sopan tiba-tiba memantik ketidaksepahaman dengan siapa saja di desa. Meski pada akhirnya saya dipojokkan dan terpaksa menjawab dengan ilmu yang belum terlalu matang. Terlepas dari apa jawaban yang saya berikan. Setelahnya Paklik Kis benar-benar bertanya, tidak lagi menguji, “Apa sampean sudah pernah membaca buku tentang ushul tsalatsah?” “Belum pernah membacanya langsung.” Jawabku.

Sepulang dari langgar saya teringat pesan seorang guru, seyogyanya kita tidak buru-buru menghakimi atau menyalahkan sebuah ideologi sebelum kita memahaminya bahkan lebih jauh dan mendalam daripada pemahaman para pengusung ideologi itu. Dalam diskursus ilmu mantiq biasa disebut ungkapan bahwa hukum segala sesuatu tergantung pada pemahaman konsep awal tentang sesuatu itu, al-hukmu ‘ala syai` far’un ‘an tashawwurihi. Nah, bagaimana mencapai pemahaman utuh tentang sesuatu? Ya dengan membaca, apakah itu membaca literatur atau membaca realita, tergantung objek dan disiplin ilmu yang terlibat di dalamnya.

Karena kasus yang diajukan Paklik Kis berada pada lingkup ideologis, maka aktivitas membaca yang sesuai adalah membaca literatur. Namun demikian, tidak semua pembaca berhasil mencapai pandangan utuh dari aktivitas membacanya. Di antara faktor ketidakberhasilan itu adalah diabaikannya seni dan aturan dasar membaca buku. Seni ini dalam tradisi keilmuan Islam dikenal dengan istilah adab muthala’ah, sebagaimana termaktub di salah satu risalahnya Hamid Al-Ghifari. Sementara itu, masih dalam lingkup seni yang sama, dari dunia Barat rasanya kita sudah akrab dengan buku How to Read a Book karya Mortimer Adler & Charles Van Doren.

Membaca buku memiliki prinsip dasar yang sama terlepas dari bahasa dan tradisi keilmuan penulisnya. Membuktikan hal ini saya akan mengangkat dua buku yang saya sebut sebelumnya sebagai sampel, setidaknya ada tiga poin kesamaan dalam prinsip membaca Al-Ghifari dan Adler. Bahwa pembaca yang baik akan melakukan tiga poin itu dengan runtut dan bertahap, tiga poin (tahap) itu adalah; membaca menyeluruh, membaca analitis dan membaca sintopikal.

Membaca menyeluruh, tujuan utama tahap ini adalah untuk memperoleh kerangka umum pikiran penulis dari awal sampai-akhir. Pembaca yang mengabaikannya, setelah sampai halaman terakhir dari buku yang berjilid-jilid akan merasa bingung dan bertanya-tanya, “Dulu awalnya apa membahas ya?” Akibatnya ia hanya akan menghakimi penulis berdasarkan pernyataan akhir tanpa turut melibatkan susunan argumen yang membangunnya.

Baik Al-Ghifari maupun Adler sama-sama menyebut tahap ini dengan pra-membaca, belum aktivitas membaca yang sesungguhnya. Terlihat dari diksi yang dipilih Al-Ghifari, ia mengatakan

إذا شرعت في المطالعة، فانظر في المبحث من أوله إلى آخره نظرا اجماليا

Lafaz syara’a di atas memiliki arti hendak, sehingga secara utuh ungkapan ini bisa diterjemahkan menjadi, “Sebelum mentelaah sebuah bahts/buku, maka hendaklah anda membacanya secara menyeluruh dari awal sampai akhir.”

Di sisi lain Adler memaparkan bahwa secara teknis tahap ini bisa diimplementasikan dengan membaca daftar isi dan pengantar penulis, namun akan lebih bagus lagi jika dilanjutkan dengan benar-benar membaca secara keseluruhan dengan meletakkan fokus pada kata-kata kunci yang digunakan penulis. Keduanya pun senada mengatakan bahwa tidak cukup membaca buku hanya dengan tahap ini, harus diteruskan ke tahap berikutnya.

Fase selanjutnya adalah membaca analitis. Di sini Hamid Al-Ghifari menggunakan istilah diqqatu nazar untuk makna mencapai kata sepakat dengan penulis dan istibshar untuk makna mengkritisi penulis. Penting untuk diperhatikan kata sepakat harus ditempuh terlebih dahulu sebelum mulai mengkritisi, Adler menyayangkan banyaknya pembaca yang ia jumpai mengabaikan urut-urutan ini.

They pick up a book and soon begin to tell you what is wrong with it… They are more like people you know who think a conversation is an occasion for talking but not listening.

Kata sepakat sendiri bisa ditempuh dengan mengklasifikasi genre buku yang hendak ditelaah, mengetahui struktur buku, mengetahui kata kunci dan istilah khusus dari penulis kemudian menemukan masalah-masalah yang diangkat penulis beserta jawaban yang ia tawarkan.

Sedangkan untuk mengkritisi dengan tepat Al-Ghifari membuka dua kemungkinan titik yang bisa dikritisi; hal-hal yang berkaitan dengan definisi (tashawwury) dan yang berkaitan dengan susunan argumen/silogisme (tashdiqy). Kritik pada hal-hal tashawwury bisa ditujukan pada definisi dan istilah yang digunakan penulis. Sedangkan kritik pada hal-hal tasdiqi bisa ditujukan pada bentuk formal dan material dari silogisme penulis. Dalam turast Islam tradisi kritik semacam ini jamak kita temui di buku-buku syarh dan hasyiyah.

Membaca sintopikal, dalam tahap ini pembaca menggunakan beberapa buku dari penulis yang berbeda, sehingga pertama kali ia harus berdamai dengan penulis-penulis itu. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mencari kesamaan makna dari masing-masing penulis dengan sejenak mengabaikan apapun istilah yang mereka gunakan. Untuk selanjutnya, tidak jauh berbeda dengan proses mencari kata sepakat, pembaca harus dengan jelas mencari apa masalah yang menjadi pertanyaan dan apa jawaban dari masing-masing penulis.

Membayangkan proses membaca yang cukup panjang ini, mungkin anda akan mengeluh dan bilang itu melelahkan. Wajar, karena sejatinya tidak ada aktivitas membaca yang benar-benar pasif. Dan karena itu juga bisa saya katakan bahwa gugatan Paklik Kis tentang absennya aktivitas membaca saya secara tidak langsung bermakna, “Apa sampeyan sudah berlelah-lelah mencari tahu tentang hal itu?” Meski tentu saja Paklik Kis sendiri tidak tahu menahu siapa itu Adler, siapa Hamid Al-Ghifari, apa itu membaca analitis, bagaimana mencapai kata sepakat dengan penulis, bahkan juga tentang adagium al-hukmu ‘ala syai` far’un ‘an tashawwurihi. Karena memang ia hanya seorang guru TPQ.

*Penulis adalah Sarjana Jurusan Akidah Filsafat Universitas Al-Azhar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here