Oleh : Ibnu Husaini

Suatu hari perhatikanlah bab terakhir kitab Muqaddimah Ajrûmiyyah. Di dalamnya, penulis mengakhiri pembahasannya dengan bab makhfudhat—yakni isimisim yang dibaca dalam keadaan khafd (kasrah). Ia tidak mengakhiri kitabnya dengan sebuah penutup (ikhtitam) yang zahir sebagaimana yang sering dilakukan oleh ulama dalam tradisi penulisan kitab klasik. Ibnu Malik, misalnya, yang mengakhiri Alfiyyah dengan untaian doa, shalawat, serta harapan dan permohonan dari dibentuknya kitab tersebut—begitupun ulama lainnya.

Abu Abdillah atau yang terkenal dengan Ibnu Ajrum menutup kitabnya pada kalimat “khâtamu hadîdin” yang diletakkan sebagai contoh dari idhâfah yang dibaca kasrah. Kemudian di akhir ia hanya menulis “wallâhu a’lam.”

Meski bukan suatu kewajiban meletakkan ikhtitâm sebagaimana ulama lainnya, namun timbul sebuah pertanyaan: apa rahasia di balik pembahasan makhfûdhât yang diletakkan di akhir kitab dengan meniadakan penulisan ikhtitâm di akhir.

Jawaban singkatnya, mungkin karena bab makhfûdhât adalah pembagian terakhir dari pembahasan isim mu’rab. Dan jika mengikuti kaidah ‘taqdim wa al-Takhîr’ pun rasanya pembahasan bab ini memang harus diakhirkan. Sebab  makhfûdhât bukanlah pembahasan yang primer (‘umdah) dalam nahwu seperti isim yang dibaca marfû’ ataupun manshûb, ia hanya bersifat sekunder (fudhlah).

Dan untuk pertanyaan kedua, bisa saja kita jawab, bahwa memang penyantuman ikhtitâm bukanlah suatu keharusan dalam penulisan kitab. Ini hanya sebuah tradisi. Jadi tak masalah jika tidak dicantumkan. Terlebih ini hanya sebuah matn, yang mana komposisinya tidak mesti lengkap sebagaimana syarh atau hâsyiyah. Sebab matan memang dibuat seringkas dan sepadat mungkin agar memudahkan pelajar pemula.

Tapi jawaban ini terlalu bersifat subjektif dan primordial, singkat serta lugas. Penulis berharap jawaban ini bisa sama seperti apa yang digagas oleh ulama dahulu. Namun setelah membaca-baca, ternyata tidak. Ini semua benar-benar jawaban super subjektif dari gagasan penulis.   

Seorang ulama bernama Ahmad bin Muhammad bin Hamdun atau yang terkenal dengan Ibn al-Haj, penulis kitab “Al-‘Aqd Al-Jawhariy min Fath al-Hay al-Qayyûm fî Halli Syarh al-Azhariy ‘Ala Muqaddimati Ibni Ajrûm” mengatakan bahwa ada sebuah indikasi dan pesan di balik pembahasan makhfûdhât yang diletakkan di akhir oleh Ibnu Ajrum. Ia juga berpendapat bahwa sebenarnya ada penutup dari penulis, namun itu tidak zahir.

Kata ‘makhfûdhât’ yang mempunyai asal kata خفض memiliki makna ‘rendah’. Dari sinilah,  ulama bernama Ibnu al-Haj tersebut mencoba menafsirkan pesan yang tersembunyi di balik penempatan kata ini.

Lebih jelasnya, Ibn al-Haj mengatakan bahwasanya pembahasan makhfûdhât–yang diakhirkan oleh Ibnu Ajrum– mengindikasikan sebuah pesan: bahwa bagi siapa saja yang diberikan peran oleh Allah Swt untuk mengajarkan ilmu atau mengarang sebuh buku, untuk tidak merasa congkak atau merasa lebih sempurna dari yang lainnya setelah pekerjaan itu selesai. Akan tetapi seharusnya ia bersifat rendah hati dan tawadu serta meninggalkan rasa angkuh; karena sifat-sifat tersebut akan mengakibatkan pada kehancuran.

Kata خفض banyak sekali kita jumpai di al-Qur`an, salah satunya adalah ayat tentang adab dan sikap kepada orang tua. Allah berfirman واخفض لهما جناح الذل من الرحمة yang artinya “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” Dan dalam kamus al-Wajîz dijelaskan bahwa kata خفض bermakna lemah lembut terhadap sesama dan bersifat rendah hati (alaana jaanibahu wa tawaadha’a lahum)

Selanjutnya Ibn al-Haaj mengutip perkataan Syekh Zarruq, yang sering berwasiat kepada muridnya untuk menghindari sifat sombong atau sifat ‘merasa’ seperti halnya perkataan, “ana ‘âlim” (aku adalah orang yang alim)  atau  “ana khoirun minhu” (aku lebih baik darinya). Sebab perkataan ini akan menghancurkan dirinya sebagaimana orang-orang sebelum mereka yang telah dibinasakan.

Makhluk pertama yang hancur sebab perkataan ini adalah Iblis, yang pernah mengatakan, “saya lebih baik dari manusia; diciptakan dari api sedangankan ia (manusia) dari tanah” (Qs. Al-A’raf [7]: 12), yang akhirnya ia dilaknat oleh Allah dan dikeluarkan dari surga-Nya.

Yang kedua adalah Fir’aun yang mengatakan “Sayalah tuhan kalian yang agung” (Qs. Al-Naziat [79]: 24). Yang kemudian ia harus ditenggelamkan di laut merah. Dan yang terakhir adalah Qorun yang pernah berkata “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (Qs. Qashah [20] : 78), sehingga ia beserta hartanya pun habis ditelan oleh bumi.

Untuk menguatkan asumsi berikut, Ibnu al-Haj mengutip sebuah hadis Rasulullah yang berbunyi:

أخرج الطبراني في الأسط وأبويعلى أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يظهر قوم يقرؤون القرآن, يقولون : من أعلم منا؟ من أفقه منا ؟ من أقرأ منا ؟ ثم قال لأصحابه : هل في اولئك من خير؟ قالوا : الله ورسوله أعلم, قال : اولئك هم وقود النار

Dari Al-Thabrani dan Abu Ya’la, bahwasanya Umar bin Khattab Ra berkata : Rasulullah Saw bersabda: “Akan datang suatu kaum yang membaca al-Quran. Kemudian mereka berkata “adakah yang lebih alim dari kami?” “adakah yang lebih faqih dari kami” dan “adakah yang lebih bagus bacaannya dari kami”. Kemudian Rasulullah bertanya pada sahabatnya: “Apakah kalian melihat kebaikan dalam diri mereka?” Sahabat pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui yang demikian.” Rasulullah pun menjawab: “Mereka semua adalah yang akan disiksa oleh api neraka kelak.”

Ia juga mengutip sebuah pepatah arab yang mengatakan:

وقل لمن يدعي في العلم معرفة # علمت شيأ وغابت عنك أشياء

“Dan katakanlah bagi mereka yang merasa dirinya berilmu, kau hanya mengetahui satu hal tapi bodoh akan banyak hal”

Maka jelaslah, bahwa bab makhfûdhât memiliki nasehat yang amat penting dalam hal kerendahan hati dan sifat tawadhu, sebagaimana dalam makna bahasa. Seakan Ibnu Ajrum ingin berpesan pada pembaca tentang pentingnya sifat-sifat mulia ini usai membaca atau mengajarkan kitab miliknya.

Di akhir, Ibn al-Haj berpendapat bahwa secara implisit kalimat “khâtamu hadidin” merupakan sebuah ikhtitam. Kata ‘khâtamun’ menandakan bahwa kata ini diletakkan sebagai penutup kitab Jurumiyyahnya, karena kata khatamun berasal dari ‘khatama’  ختم yang berarti ‘menyudahi’. Adapun ‘hadîdin’ diambil dari kata had yang berarti batasan atau tolak ukur yang mana menunjukkan pada hatinya. Yakni, hatinyalah yang menjadi tolak ukur atau batasan usai menulis kitab tersebut.

Kita ketahui bersama bahwa kitab Jurumiyyah adalah kitab yang dibuat ikhlas karena Allah semata. Dikarang oleh penulisnya tepat di hadapan ka’bah. Kemudian, karena ingin menguji ketulusan dari apa yang dibuat, Ibnu Ajrum pun rela menghanyutkan kitab tersebut ke laut, seraya berkata: “Jika kitab ini dibuat dengan penuh keikhlasan, maka kitab ini tidak akan basah dan akan terus ada”. Dan sampai saat ini pun telah terbukti.

Pelajaran Penting

Dalam hal ini, Ibn al-Haj melakukan pendekatan yang berbeda dalam menafsirkan perkataan Ibnu Ajrum. Atau kita bisa menyebutnya ‘interpretasi sufistik’ terhadap jurumiyyah. Jika biasanya yang ditelisik adalah pembahasan ala-nahwu, kini ia melakukan kajian sufistik versi jurumiyyah, tepatnya di pembahasan terkahir pada kitab tersebut.

Pesan yang bisa diambil adalah: (i) jangan pernah memiliki sifat ‘merasa’; merasa lebih, merasa hebat, atau apapun. (ii) ikhlaslah dalam setiap perbuatan. Karena ketika hati sudah ikhlas, Allah pun akan menerima segala perbuatan yang kita kerjakan dan (iii) bersifat rendah hati lah dalam segala hal.

Semoga ini semua dapat menjadi pengingat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran yang berharga. Dan ternyata, pembahasan Jurumiyyah (ilmu nahwu) tidak hanya sebatas mu’rab dan mabni saja, masih banyak yang lainnya. Maka dari itu jangan pernah berhenti belajar, dan tetap semangat! Dan jangan lupa tanamkanlah sifat rendah hati sebagaimana bab makhfudhat yang menyimpan berbagai pesan meski diletakkan di akhir. Wallahu a’lam bi al-Shawab

Editor: Eka Fathurrahman

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here