Home Artikel Mendudukkan Kembali Hakikat Tubuh dan Kebebasan: Merefleksi Makna Pergantian

Mendudukkan Kembali Hakikat Tubuh dan Kebebasan: Merefleksi Makna Pergantian

367
0

Oleh: Ayu Arba Zaman*

Pergantian adalah momen yang sudah tentu ditunggu-tunggu setiap orang yang menunggu hadirnya perubahan atau perpindahan. Dalam matematika, kita mengenal koordinat Cartesius, yang mengajarkan kita tentang letak dan perpindahan. Absis dan Ordinat yang memiliki tak hingga angka positif dan negatif jelas memberi tahu kepada kita bahwa apabila kita menginginkan perpindahan kita diharuskan bergerak, berekspresi, entah itu maju atau mundur.

Maka tidak sedikit—kita—manusia yang memaknai hadirnya pergantian dengan ragam ekspresi. Ragam ekspresi tersebut diaktualisasikan manusia melalui tubuhnya sebagai entitas yang fisis. Dan tentu saja, ekspresi tersebut bisa terwujud karena manusia berhak dan memiliki kebebasan akan hal itu. Ada yang mengekspresikannya cukup dengan menyesap teh bersama keluarga di rumah, bertemu kawan di lingkaran yang kaya dengan ilmu, atau hal sederhana lain yang menyenangkan tapi tetap bermakna. Semua ekspresi tersebut berasal dari dorongan jiwa manusia, yakni hasrat.

Jacques Lacan si Filsuf yang lahir nan jauh di Perancis sana mengatakan, hasrat ialah apa yang menggerakkan manusia melalui sesuatu yang lain karena kekurangan diri suatu subjek. Maka manusia sebagai subjek yang memiliki kekurangan, untuk dapat bergerak melalui sesuatu yang lain di luar dirinya, harus memahami apakah ‘sesuatu yang lain’ itu diperbolehkan atau dilarang untuk dicapai, dalam hal ini tentu saja agama sebagai barometernya.

Hasrat untuk memperingati hari kelahiran dengan cara mengeksplorasi segala bentuk kebebasan akan diri, misalnya, tentu saja tidak diperbolehkan meskipun dalam fitrahnya manusia memang memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan yang mana hal tersebut tidak secara holistis terdapat dalam dirinya.

Misalnya kepada tubuhnya. Belakangan ini narasi tentang otoritas manusia untuk menguasai tubuhnya sesuai kehendaknya, menjadi topik hangat yang berhasil membangkitkan wacana di kalangan masyarakat urban, bahkan pedesaan. Tubuh dipandang sebagai sebuah modus untuk memperoleh kebebasan mutlak; dimana ia harus terlepas dari segala macam intervensi, kontrol atau pembatasan dari pihak di luar dirinya. Narasi bertajuk ‘Otonomi Tubuh’ tersebut contoh kecilnya, telah berhasil menganulir makna frasa free sex menjadi safe sex, pro life ditabrakkan dengan pro choice, dan lain sebagainya. Lalu adakah maksud tertentu di balik pergantian istilah-istilah tersebut? Namun sebelum itu coba kita simak terlebih dulu curhat filsuf perempuan ini:

Ialah Simone de Beauvoir, seorang mentor sekaligus mantan kekasih filsuf besar bernama Jean Paul Sarte, yang memiliki narasi masyhur tentang eksistensialisme dan kebebasan mutlak manusia untuk esensi hidupnya. Simone pernah mengatakan dalam karyanya The Second Sex “Betina dianggap budak bagi spesies. Tubuh perempuan adalah salah satu elemen esensial dalam situasi dunia. Tubuh tidak cukup mendefinisikan perempuan, tidak ada kenyataan hidup yang sesungguhnya kecuali yang dimanifestasikan oleh individu, yang sadar melalui kegiatan dan apa yang ada dalam masyarakat.”

Simone agaknya memiliki pengalaman emosional yang panjang tentang posisi perempuan dalam tatanan masyarakat di mana ia berada, sehingga ia cukup cakap dalam menafsirkan keadaan tersebut dalam tulisannya yang menceritakan tentang pengalaman ketertindasan perempuan. Yang mau tidak mau mesti didobrak melalui perlawanan akan dominasi yang berupaya merebut definisi tubuh perempuan dengan cara melakukan kontrol atasnya.

Dalam curahan hatinya Simone jelas ingin menyampaikan; tubuh perempuan, akan bermakna nihil apabila manifestasi yang muncul darinya bukan berasal dari individu itu sendiri. Simone sepertinya tahu bahwa tubuh tidak memiliki tujuan pada dirinya, tujuan itu akan ada apabila ‘dihubungkan’ dengan jiwa yang dimiliki individu, sehingga apa yang diaktualisasikan tubuh menjadi bermakna bagi individu itu. Sayangnya pada saat yang bersamaan Simone gagal menemukan jawaban atas pertanyaan apa yang seharusnya menggerakkan manusia melalui sesuatu yang lain berkenaan dengan kekurangan yang ada pada dirinya? Kegagalan ini agaknya bukan kegagalan pertama kalinya, mengingat Simone telah memutuskan meninggalkan agama di usianya yang ke empat belas.

Gagasan Simone akan ‘kebebasan’ tubuh perempuan dari kontrol dan pembatasan hingga kini menjadi pedoman feminis dalam melakukan klandestin kepada anak-anak muda untuk siap menyuarakan kebebasan atas tubuhnya. My body is mine; Tubuhku otoritasku; Don’t tell us how to dress. Tell them : Don’t rape!; free sex dianulir menjadi safe sex, yang artinya tatanan moral tidak lagi penting selagi aktifitas tersebut aman dan sesuai dengan kehendak individu; muncul frasa pro choice yang membela kebebasan perempuan yang tidak berkehendak atas janin yang di kandungnya. Sedemikan sehingga dapat kita pahami, apabila kebebasan artinya adalah kehendak individu (consent) maka segala bentuk kontrol dan pembatasan adalah kekerasan. Control is violence.

Kebebasan bagi mereka yang menafikan agama memang selalu bersifat antroposentris, berpusat pada manusia dan arah perkembangannya serta mengakomodasi segala bentuk ekspresinya saat itu yang dalam istilah al-Attas ialah ke di sini kinian. Maka itulah yang sebenarnya menjadi apa yang menggerakkan—bagi mereka.

Segala bentuk ekspresi manusia tersebut, yang kata Sartre merupakan bentuk pencarian esensi manusia wajib hukumnya dibela dan dilindungi karena bertujuan menegaskan dan memperkuat eksistensinya. Ia tidak mengindahkan sifat ketidakabadian manusia serta tidak juga mengenal konsep pertanggungjawaban di masa yang akan datang (hari akhir) dalam paradigma berpikirnya.

Konsep kebebasan demikian sejatinya bermula dari cara memandang manusia yang salah. Manusia dipandang sebagai entitas yang terlahir ke dunia dalam keadaan ‘tiada’. Dari kesadaran akan ‘ketiadaan’ tersebut, manusia memiliki kebebasan mutlak untuk membentuk dirinya sesuai kemauan serta tindakannya berdasarkan kesadarannya. Pandangan tersebut tentunya bertentangan dengan hakikat manusia (fitrah) di mana tujuan penciptaannya ialah untuk beribadah kepada Allah dan memiliki peran penting di muka bumi yakni sebagai khalifah fi al-ard. Oleh karenanya, sebagai makhluk yang memiliki tujuan dan fungsi penciptaan demikian, ia memiliki kebebasan yang terbatas dengan pertanggungjawaban namun juga tidak terikat secara penuh. Manusia berada pada dua posisi. Pertama, yang ia tidak punya kuasa dan kehendak di dalamnya. Kedua, ia punya kuasa dan pilihan di dalamnya, dengan pertimbangan akalnya, antara mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya.

Islam telah mengajarkan konsep kebebasan yang komprehensif. Melihat manusia tidak semata entitas yang bertubuh, akan tetapi memiliki jiwa yang telah terikat perjanjian dengan Allah. Dengan kebebasan tersebut, layaknya momen pergantian diartikan sebagai mahjar, untuk bertanggung jawab dan memohon ampun atas segala bentuk-bentuk ekspresi maju-mundur kita di atas kordinat Cartesius setahun ke belakang. Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis adalah Sarjana Matematika Universitas Islam Gunung Djati dan Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here