Home Artikel Mengeja Dunia Bersama Rektor Universitas Darussalam, Duo Maestro Peradaban Islam

Mengeja Dunia Bersama Rektor Universitas Darussalam, Duo Maestro Peradaban Islam

294
0
Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA. Berbicang Santai dengan Warga IKPM Kairo 18/9

Oleh: Muflihah Rahmadia MA*

“Banyak orang telah memiliki beragam kunci kesuksesan, namun sedikit dari mereka yang menggunakan kunci itu”; demikianlah salah satu pesan yang tersirat dari perkumpulan tadi malam. “Kami berdua adalah pegiat tulen disiplin keilmuan yang kami tekuni, namun dunia meminta lebih. Dunia hanya tahu jika kita adalah generalis dalam berbagai spesialis”. Itulah kesimpulan daripada kalimat pembuka yang disampaikan oleh Rektor Universitas Darussalam, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA.

Mengurai nilai yang disebutkan pada pembuka pertemuan itu, ia melanjutkan dengan alur kisah kedatangannya ke Mesir dengan pembawaan penuh kharismatik. Sang Maestro Filsafat itu membawa para hadirin tegun mendengarkan penuh kekaguman. “Benar, saya itu spesialis Filsafat dan Dr. Hafidz Zaid ini spesialis Bahasa Arab, namun selama ini saya selalu diundang menjadi pembicara dalam beberapa konferensi, seminar di luar spesialisasi yang saya geluti. Saat ini pun, yang mengundang kami adalah Menteri Perwakafan Republik Mesir, darimana ada cerita bahwa saya pernah mengecap ilmu Syari’ah?!”, para hadirin menyaut dengan tawa hangat. “Bahkan Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi pun adalah spesialis sejarah dan peradaban, tetapi selalu diminta mengajar materi pendidikan dan pengajaran. Demikianlah dunia meminta, tak peduli apa spesialis kita. Mereka hanya tahu bahwa kita adalah spesialis yang generalis”

Setelah melakukan kunjungan dalam rangka MoU dengan Universitas Al-Azhar pada siang hari, akhirnya suatu momen berkualitas terwujudkan di tengah kesibukan kunjungan Rektor dan Wakil Rektor Universitas Darussalam ke Mesir. Quality Time yang khidmat dan hangat yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit di Aula KMN-TB bersama warga IKPM cabang Kairo, dengan pengantar penuh Bahasa Arab menjadi salah satu momen paling dirindukan oleh para alumni PMDG. Benar saja, menjalani hari dengan dua bahasa komunikasi wajib; Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai ‘mahkota pondok’ adalah hal yang selalu dijunjung oleh para penghuni pondok dalam berbagai kalangan.

Terpancar kerinduan itu dari tiap wajah para warga yang hadir, bagaimana tidak?! Mengetahui kabar kedatangan sang Guru Besar itu saja merupakan kabar gembira yang sangat dinantikan perjumpaanya. Terlebih wejangan yang disampaikan dengan kefashihan Bahasa Arab yang diucapkan, menjadi dorongan motivasi tersendiri untuk para mahasiswa, yang mungkin sudah jarang ditemukannya sebuah lingkungan kondusif antar mahasiswa bahkan masyarakat Indonesia di Mesir sebagaimana di pondok dulu. Lingkungan kondusif adalah Poin kedua yang disampaiakan oleh putra pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Imam Zarkasyi.

 Alumni Pascasarjana Universitas Darul ‘Ulum, Mesir ini menjabarkan dari apa yang dimaksudkannya dengan ‘lingkungan kondusif’.  Ia jabarkan dalam dua komponen. Pertama adalah pada kondusifitas praktek dalam keilmuan, kedua adalah kondusifitas praktek dalam sosialisasi bermasyarakat. Pada praktek keilmuan, professor Filsafat Islam ini berhasil menenggelamkan para hadirin hanyut dalam perjalanan akademiknya di Mesir. Pokok awal dari uraianya menegaskan akan kesadaran diri yang butuh asupan dalam praktek literasi atau tulis menulis. “Biasakanlah diri kalian untuk menulis, karena dari kebiasaan saya dahulu yang mungkin penuh keterpaksaan untuk menuliskan empat ratus hingga lima ratus halaman dengan tulisan tangan karena belum ada computer, mengantarkan saya menjadi professor di Malaysia”, teduh mata itu memandang dalam menyampaikan pesan.

Sang pakar Filsafat Kharismatik itu melanjutkan nasehatnya yang kini dengan karakter khasnya sebagai bapak kepada anaknya dengan kisah yang jarang ditemui oleh pemandangan masisir secara umum. “Berkawanlah dengan warga negara lain selain Indonesia, selain akan menambah relasi, Bahasa arabmu juga akan semakin terasah dengan baik. Salah satu hal yang indah bagi saya di Mesir adalah, siding thesis saya dihadiri oleh kawan-kawan saya lintas negara. Benar, sidang thesis saya dihadiri oleh beberapa kawan dari berbagai negara sebagai buah sosialisasi saya bersama mereka, dan itu baru sebagian kecil dari apa yang saya rasakan”.

Hingga pada menit keempatpuluh, sang guru besar itu menggiring para mahasiswa/I nya pada motivasi untuk bersabar dalam menuntut ilmu, sambil mengutip kalimat sang penakluk kota Andalus, Thariq bin Ziyad “In shabartum ‘alal Asyaqqi qolilan, Istamta’tum bil arfahi aladzi thowilan”. “Tidak perlu khawatir nak, memang di Mesir itu sulit. Gagal dalam ujian itu adalah ‘hal biasa’ dan sukses dalam ujian itu adalah sebuah ‘kabar’”, ungkapnya dengan tawa ringan. Saya pernah rasib (red:gagal) sekali. Kemudian saya mendapat surat dari ayah saya untuk mencoba dan berusaha lebih giat lagi, dan apabila saya gagal, saya disuruh pulang lalu menikah”, tambahnya, sambil tertawa bersama para hadirin. “Tetapi saya tidak berputus asa, justru saya semakin rajin dengan membuat rangkuman segala materi secara terperinci hingga saya mampu menghafal dan memahami segala materi diluar kepala, yang kemudian akan saya tuliskan dalam jawaban ujian berdurasi 3 jam”.

“Bahkan kawan saya berterimakasih sekali dengan saya karena kesehariannya yang disibukkan dengan kegiatan di luar kuliah, ternyata berhasil dan lulus dalam ujian dengan membaca rangkuman saya beberapa jam sebelum ujian, jadi saya lulus ujian dengan rangkuman saya, demikian pula dengan kawan saya. Setelah itu saya berkirim surat ke ayah saya bahwa saya lulus ujian di tahun itu dan tidak jadi menikah”. “Jadi saya terlambat menulis thesis disbanding kawan-kawan saya setahun, tetapi ternyata saya bisa selesai menulis bahkan lebih cepat dari kawan-kawan saya yang lain”, sahut ayahanda tercinta kami dengan balasan tawa hangat pada malam yang penuh kebahagiaan itu.

Tidak berhenti disitu, kehangatan semakin menyelimuti pertemuan singkat penuh makna itu dengan tambahan motivasi besar yang terbukti ampuh. Siapalagi kalau bukan dari wakil rektor III  Universitas Darussalam, Dr. Hafidz Zaid, MA yang masyhur dengan kecerdasannya dan kefashihannya berbahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Kurang lebih 40 menit terakhir peraih predikat summacumlaude dalam disertasinya memberikan point penting sederhana namun terbukti menghasilkan dan menggetarkan dunia pendidikan. Berbagai pujian mengenai kualitas keterampilan Bahasa arabnya adalah salah satu daya tarik tersendiri bagi dunia pendidikan Bahasa Arab di kancah dunia maupun international.

Mulai dari predikat mumtaz yang disandangnya semasa menempuh jejang pendidikan strata satu kemudian dilanjut hingga jenjang pendidikan doktoralnya, kini ia duduk sebagai wakil rektor di Universitas Darussalam menggantikan Alm. Dr. Dihyatun Masqon yang bahkan masyhur menguasai hingga sepuluh lisan Bahasa dunia. Diamanahkan menjadi MC tatkala kunjungan Grand Syekh Azhar Ahmad Muhammad Ahmad At-Thayyib yang mampu menarik perhatiannya dari kefashihan berbicaranya, ketajaman pandangan, serta charisma dalam mempimpin jalanya acara pada tahun 2016 silam. Hingga kemudia diminta oleh badan kenegaraan untuk menjadi protokol GSA Ahmad Ath-Thayyib pada kunjungan dikali keduanya pada tahun 2017.

Sebenarnya apa rahasia dibalik kesuksesannya dalam bidang yang ditekuninya tersebut hinga mampu mencapai predikat Master of Arabic Language? Sederhana, ternyata jangka waktu 10 tahun yang ditempuhnya selama menuntut Ilmu hingga jenjang Master di Universitas Al-Azhar Al-Syarif itu adalah keistikamahannya dalam praktek berbicara 2 macam Bahasa dalam kesehariannya. “Saya selalu mengharuskan diri saya untuk dapat selalu berkonsekuensi dengan baik dalam berbahasa. Jangan sampai saya terbawa untuk memahami orang lain dengan keinginan mereka yaitu berkomunikasi dengan Bahasa yang mereka pahami dan mereka ingini. Tidak! Justru saya yang harus menuruti apa yang saya butuhkan untuk kebaikan diri saya dan sekitar dengan berbicara kepada siapapun menggunakan Bahasa ‘Amiyah diluar kampus dan Bahasa Fushah tiap kali saya memasuki gerbang kuliyah dan ketika berada di dalamnya”. Sangat santun dan penuh kerendahan diri sosok kharismatik itu berbicara kepada para pelajarnya.

Sederhana, namun terbukti menghasilkan!. “Jangan jadi Ibnu al-Bi’ah atau seseorang yang terbawa oleh kondisi lingkungannya”, itulah seruan yang senantiasa digaungkan oleh Pimpinan Ponpes PMDG KH.Hasan Abdullah Sahal. Sejatinnya, para pemuda yang telah mencapai perjalanan hidupnya hingga berada di umur keduapuluh telah mampu akal, pengalaman dan berbagai hal yang menjadi kunci kehidupannya, namun semua tergantung dengan apa dan bagaimana yang kita lakukan dengan kunci itu. Perkumpulan akhirnya ditutup dengan doa oleh Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA dan dilanjut dengan foto bersama dalam suasana hangat kekeluargaan.

*Penulis Merupakan Mahasiswi Strata 1 Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here