Home Artikel Mengenang Kembali Hari Wafatnya Rasulullah Saw

Mengenang Kembali Hari Wafatnya Rasulullah Saw

498
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

Wafatnya Rasulullah Saw. Hari ini merupakan 1388 tahun yang lalu, saat alam raya dilputi kesedihan. Cahaya dan Rahmat-Nya bagi alam semesta dipanggil oleh Sang Pencipta untuk menemui-Nya. Hampir tak percaya, setiap jiwa belum siap kehilangan sosoknya. Siapa yang rela ditinggal kekasihnya, jika bukan karena ia beriman pada Allah dan Rasul-Nya serta yakin atas janji Allah akan mempertemukannya kembali di Hari Akhir kelak. Pada waku Dhuha, Senin 12 Rabi’ul Awwal 11 H atau 8 Juni 632 H pada usia 63 tahun di kediaman Sayyidah Aisyah Ra, kaum muslimin kehilangan cahayanya.

Anas bin Malik Ra berkata bahwa hari di mana tibanya Rasulullah Saw di Madinah, cahaya kedatangannya menerangi segalanya. Adapun ketika hari wafatnya Rasulullah seketika gelapkan segalanya. Keadaan tersebut mengejutkan umat muslim, banyak emosi yang diluapkan, dari keterkejutan, tangis kesedihan, di antara mereka ada yang tak mampu untuk berdiri, lisan terdiam tak mampu berkata, bahkan ada yang mengingkari wafatnya Rasulullah Saw.

Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Dr. Ali Muhammad Shalaby, dituliskan bahwa Imam Qurtuby dalam tafsirnya menjelaskan bahwa musibah paling besar adalah musibah yang menimpa agama… Rasulullah Saw bersabda: Jika salah seorang di antara kamu ditimpa suatu musibah maka bayangkanlah musibahku, maka hal itu adalah termasuk musibah yang besar. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah Saw, tekan kembali Imam Qurthuby, karena musibah yang menimpanya -yaitu wafatnya beliau- lebih besar dari setiap musibah yang menimpa seorang muslim hingga Hari Kiamat, seperti terputusnya wahyu yang turun, tiada lagi masa kenabian, hingga dapat dikatakan pertama kalinya muncul keburukan dengan murtadnya bangsa arab, bahkan menjadi pertama kali terputusnya kebaikan dan kekurangan. Musibah terbesar itulah wafatnya Rasulullah Saw, yang mengakibatkan terjadinya hal-hal yang disebutkan di atas oleh Imam Qurthuby.

Ketika Sahabat Mendengar Kabar Baginda Nabi Wafat

Setiap jiwa dirundung berbagai macam keadaan. Sejumlah sahabat menanggapi respon yang berbeda-beda atas wafatnya Rasulullah Saw. Seperti Umar bin Khathab yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw belum wafat, hingga ia mengacungkan pedang mengancam siapa yang mengatakan bahwa Baginda Nabi telah wafat, lalu Utsman bin Affan yang kelu lidahnya untuk berkata-kata, begitu pula Ali bin Abi Thalib yang mundur lemas, hingga keadaan saat itu semakin tak terkendali.

Saat itu pula sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan keteguhan hatinya dengan lantang mengatakan, “barang siapa yang menyembah Muhammad, sungguh Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak mati.” Kemudian ia membacakan surah Ali-Imran ayat 144 yang artinya, “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, makai ia tidak merugikan Allah sedikitpun. Allah akan menerima balasan kepada orang yang bersyukur.”

Begitulah keberanian dan keteguhan hati Abu Bakar Ra dalam menghadapi musibah besar ini, hingga keadaan kembali tenang dan yang tersisa hanya air mata para pecinta dan perindu Baginda Nabi melepas kepergiannya. Hingga tiba saat yang berbahagia bagi tanah yang Rasulullah Saw disemayamkan di dalamnya. Pusara yang amat sangat beruntung dipenuhi cahaya, dibersamai kekasihnya. Hari ini, 1388 tahun yang lalu.

Tak terhenti di hari wafat Rasulullah, kesedihan tersebut masih belanjut. Bilal bin Rabbah pun mengalami hal serupa, pasca wafatnya Rasulullah Saw tangisnya pecah tiap kali mengumandangkan adzan pada lafal “asyhadu anna muhammadan rasulullah”. Bilal tak sanggup menahan kesedihan hingga ia putuskan untuk meninggalkan Madinah.

Begitupula para penyair arab yang lihai memainkan kata, pasca wafatnya Rasulullah Saw meluapkan kesedihannya dalam bait syair miliknya, seperti Hasan bin Tsabit. Rasa sedih dan pilu dirajut menjadi bait syair, saat dibaca jiwa semakin condong pada yang dicinta dan dirindu. Berisikan rasa kehilangan yang mendalam, pilu yang mencekam, gambaran aura kehilangan yang belum usai, kehilangan yang menyebabkan kebingungan karena cahaya yang selama ini menjadi penerang alam tak lagi hidup bersama. Hasan bin Tsabit menggambarkan kesedihan yang tak tertandingi sepanjang masa.

وهل عدلت يوما رزية هالك رزية يوم مات فيه محمد؟
“Adakah hari yang menyedihkan sepanjang masa melibihi hari wafatnya Nabi Muhamad Saw?”

فبكّي رسول الله يا عين عبرة ولا أعرفنك الدهر دمعك يجمد
“Maka tangisilah Rasulullah Saw wahai mata sebagai tanda bukti, agar jangan sampai zaman tidak mengenalmu tentang tetesan air matamu yang tetap membeku dengan hal itu”

Tutur Hasan bin Tsabit dalam bait Syairnya. Yaitu gambaran kesedihan yang mendalam, hingga air mata yang mengalir jadi saksi atas kehilangan ini. Kehilangan dan musibah terbesar yang dialami hingga Hari Kiamat.

وما فقد الماضون مثل محمد ولا مثله حتى القيامة يفقد
“Tiada kehilangan selamanya, seperti kehilangan Muhammad Saw, yang tiada menyamai kehilangannya hingga kiamat”

Baca juga artikel lainnya: Hikmah Dibalik Makam Rasulullah Saw

Begitu mendalam rasanya ditinggalkan. Jika para sahabat pun sedemikian rindu dan merasa kehilangan seperti dalam bait syair Hasan bin Tsabit, bagaimanakah rasanya yang tak pernah melihat wajahnya yang penuh cahaya? Yang tak pernah hidup berdampingan secara langsung? Hanya bisa menghadirkan sosoknya lewat sirah-sirah yang dituliskan serta cerita para masyayikh yang resapkan cinta di hati. Namun hebatnya, ketika tak pernah hidup bersamaan, akan tetapi rindu dan cinta meresap begitu dalam. Jika ditanya contohnya, sudah tak asing lagi bagi kita, sebut saja para tabi’in dan ulama-ulama yang karyanya kita jadikan rujukan. Sebut saja Imam Bushiri dengan bait burdahnya yang fenomenal hingga saat ini, serta masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan di sini.

Mereka memang belum hidup bersama Nabi di masanya, namun Nabi hidup bersama dalam hati mereka, hidup dalam tiap nafas pergerakan, pun hidup di bumi yang sudah mulai rapuh ini bersama kita, begitu juga kamu yang membaca tulisan ini. Yaitu dalam hati tiap insan, seperti dalam firman-Nya, ‘wa’lamu anna fikum rasulallah’ yang artinya ketauhilah bahwa dalam dirimu terdapat Rasulullah Saw. Bertemu dengan Rasulullah di dunia pun bukan hal yang mustahil, yaitu termasuk impian paling tinggi selama di dunia, bertemu dengannya walau melihatnya dalam mimpi. Begitupula berziarah ke Madinah, kota yang di dalamnya terdapat Rasulullah menjadi tujuan sebagai obat rindu bertemu Baginda Nabi di pusaranya.

Begitulah para sahabat dan ulama-ulama terdahulu yang merindu dan mencintai baginda Nabi. Wujud kesedihan yang diluapkan dengan berbagai keadaan, seperti sahabat Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan Bilal radiallau ‘anhum, serta Hasan bin Tsabit dalam syairnya menjadi salah satu bukti cinta dan rindu pada Baginda Nabi. Begitupula torehan tinta para ulama yang mengabdikan dirinya pada ilmu, para ulama yang tuliskan sirah Baginda Nabi, para ulama yang rajut kata demi kata indah dalam bait syair serta cara-cara lainnya yang gambarkan cinta padanya. Lalu apa kabar kita? Generasi yang terpaut jauh dengan Rasulullah, para sahabat dan ulama-ulama lainnya.

Akankah kita merasa hadirnya Baginda Nabi bersama kita saat ini, hingga kita merasa terawasi dan mencontoh akhlaknya yang mulia? Memang merajut rindu dan cinta pada Baginda Nabi tak semudah membaca tulisan ini, karena amal yang sulit pada zaman ini adalah menggerakkan rindu dan cinta pada Rasulullah Saw, begitulah tutur Syekh Muhammad Aroby dalam salah satu majelis ilmu. Semoga kita semua dikumpulkan bersama Rasulullah Saw di Surga-Nya kelak, al-mar’u ma’a man ahabba. Wallahu a’lam bi al-showwab.

*Penulis merupakan mahasiswi Universitas al-Azhar Kairo Fakultas Bahasa Arab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here