Home Artikel Menggugah Spirit Santri Lewat Film Taqdim

Menggugah Spirit Santri Lewat Film Taqdim

564
0


Oleh: Bana Fatahillah*


Jika hendak melihat ‘spirit’ santri maka lihatlah film Taqdim. Film yang disutradarai oleh Andri Sofiansyah, seorang lulusan Institut Kesenian Jakarta yang juga alumni Gontor 2008, mampu memvisualkan bagaimana kesungguhan, keuletan dan tanggungjawab seorang santri. Atau lugasnya, film Taqdim ini “santri banget, deh!”

Lanang Teguh Samudra adalah tokoh utamanya. Ia seorang santri kelas akhir yang dalam beberapa purnama lagi akan lulus dari pondok. Meski akademisinya tidak bagus, namun anaknya gigih dan pekerja keras. Orangnya humoris, meski terkadang suka naik darah. Disamping mempelajari ilmu agama, sebagai santri, Lanang juga mencintai musik, khususnya lagu yang dibawakan Iwan Fals.

Sebagaimana nama film ini, Taqdim, yang berarti laporan, disini Lanang dan semua santri akhir harus mengumpulkan karya ilmiah atau paper sebagai syarat kelulusan. Namun ditengah menulis, takdir berkata lain. Di suatu malam, Lanang dikabari ibunya meninggal dunia. Ia yang belum lama ini menelpon ibunya dan berjanji akan menjadi alumni, terdiam seribu kata. Hadiah ‘menjadi alumni’ yang akan ia persembahkan pada ibunya pun sirna. Matanya berkaca-kaca. Mukanya murung. Sambil berjalan perlahan dengan menyeret sandalnya, ia pun kembali ke asramanya.

Hatinya hancur. Parasnya tak seceria seperti biasanya. Ia dilema; apakah harus pulang mengok ibunya atau menetap di pondok. Konsekuensinya, jika pulang, ia harus mengulang perjuangannya satu tahun kembali menjadi santri akhir. Namun jika menetap, ia terpaksa tak melihat wajah indah ibunya untuk kali terakhir. Dengan penuh pertimbangan ia memilih untuk menetap di pondok.

Lanang pun bergegas mencari kawan dekatnya, Zulfadli. Sebagai teman, Lanang yakin Zul dapat membantunya. Selain orangnya “asyik” Zul juga termasuk santri yang cerdas. Zul pun tau, memang sudah seharusnya ia membantu Lanang yang dalam tanda kutip agak “geblek”. Zul awalnya sempet ketawa saat melihat Lanang ingin mencopy–paste paper pendahulunya. Dalam arti, ia tidak ingin temannya melakukan ini. Akhirnya Zul pun mengajari Lanang tentang apa dan bagaimana penulisan paper itu.

Setelah diuji oleh Zul dengan sejumlah pertanyaan, Lanang pun semakin mantap untuk melaporkan papernya kepada pembimbingnya, yaitu ustadz Pakwo. Namun apadaya, Lanang masih disuruh mengoreksi tulisannya oleh Pakwo. Meski masih menyimpan kekesalan karena usahanya tidak begitu memuaskan hasil, namun Lanang tak mau putus asa. Ia kembali mengoreksi tulisannya ditemani Zul.

Sampai tiba suatu malam, saat sedang merivisi papernya, Lanang pun tertidur karena saking lelahnya. Dan Kalian tau apa yang terjadi malam itu? Tangannya menyenggol secangkir kopi yang berada di meja sehingga kopi itu tumpah dan membasahi papernya. Ia pun terbangun kaget. Ia mengacak-ngacak kertas itu sambil berteriak kesal. Zul tersentak bangun. Ia langsung mengingatkan kawannya. Tapi Lanang sudah terlanjur kecewa. Ia merasa perjuangannya pupus.

Pikirannya sudah buyar. Ia kembali terbayang wajah ibunya. Terbesit penyesalan yang mendalam, “kenapa tidak pulang saja, ya!”. Malam itu ia rindu dengan ibunya. Dengan wajah penuh kekecewaan, Lanang menundukkan kepala seakan mencapai titik lelahnya. Saya menduga Lanang akan putus asa dan tidak akan melanjutkan papernya.

Ternyata dugaan saya salah. Keesokan harinya ia pun menulis ulang hasil revisinya di masjid. Ia bermunajat pada Allah agar dimudahkan. Kemudian ia pun mengumpulkannya kepada Pakwo. Meskipun pada saat itu ia dikecewakan untuk kesekian kalinya karena papernya ditelantarkan begitu saja di depan kamar Pakwo yang saat itu tidak ada. Lanang pun kembali ke kamarnya dengan beribu kekecewaan. “sepertinya aku harus pulang!” ujar lanang dalam hati.

* * *

Meski dengan ending yang menyedihkan, secara garis besar film ini sangat layak untuk menggambarkan seorang santri. Bagi saya santri itu bukan hanya selembar ijazah. Santri itu identitas. Santri itu soal penjiwaan. Dalam konteks ini secara gamblang saya katakan “Lanang dan Zul adalah santri sejati. Dengan kebesaran jiwanya mereka berdua sangat mewakilkan seorang santri!”

Kenapa Lanang tidak pulang? Saya menilai Lanang ingin tetap membanggakan ibunya meski telah tiada. Keadaan tidak akan bisa berubah dengan kepulangannya. Ini sudah takdir. Yang harus di lakukan saat itu adalah bagaimana ia dapat husnul khatimah lulus dari pondok pesantren. Fenomena seperti ini, kata sang sutradara, pernah ia saksikan di pondok. Saya pun pernah mendengar juga, bahwa ada santri yang orang tuanya meninggal pada masa-masa ujian. Pilihannya sama seperti Lanang, antara pulang dan menetap.

Di sinilah seorang santri harus berani memutuskan pilihannya dan menaggung segala resiko. Santri harus berani berkorban; berkorban demi agama, bangsa, keluarga, atau apapun yang ia cintai. Hal ini sebagaimana sejarah santri yang bisa kita saksikan di masa kemerdekaan.

Scene yang paling ‘harus’ Kalian lihat adalah saat duo sahabat itu saling tukar pikiran. Sebagai santri Lanang pasti tau nasehat Imam Ali yang berbunyi “aku akan menjadi hamba bagi siapapun yang mengajariku satu huruf” (man allamani harfan sirtu lahu abdan). Inilah mengapa ia tak sungkan-sungkan diajari oleh kawannya sendiri, Zul.

Zul pun begitu. Ia tau ilmu itu harus diamalkan. Ia tidak mau disebut ‘orang gila’ karena tidak mau mengamalkan ilmunya, sebagaimana perkataan Hujjatul Islam, (al-Ilmu bilaa amalin junuunun). Sebagai seorang santri, Zul tidak hanya menghafal jargon-jargon seperti “ballighuu anni walau aayah” “falyuballigh al-Syahid minkum al-Ghaib” tapi ia juga mengamalkan perkataan tersebut dengan mengajarkan apa yang ia tau. Inilah budaya santri; budaya tukar pikiran; budaya ilmu pengetahuan; budaya bantu-membantu dalam kebaikan.

Menurut saya adegan inilah yang paling seru dan menarik. Dimana mereka berdua sedang duduk bersama di dalam kelas. Yang satu mengajarkan, yang satu menyimak, meski kadang di sela-sela itu ada satu dua perkataan yang dibuat canda, khususnya oleh Lanang. Tapi sekali lagi itu sungguh renyah. Kita seakan diajak ikut tertawa dalam adegan itu. Jujur, sebagai seorang santri, saya –mungkin kalian juga– akan kangen dengan masa nyantri jika melihat scene ini. Apalagi bahasa yang dipakai sangat akrab ditelinga kita. Bahasa arab ala ala gitu. Sudahlah, itu fix lucunya.

Sebagai penutup, ada satu perkataan Lanang yang menurut saya bisa direnungkan. Saat ditanya oleh Zul, “apa obat yang dibutuhkan untuk orang yang tersakiti?” Lanang mengatkan:

“BERUBAH!”

“Jangan mengaku diri kita sebagai manusia kalau belum berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Insyaallah, kalau tekat sudah kuat, maka jalan (untuk berubah itu) akan terbuka dengan sendirinya. Inilah penawar yang dibutuhkan bagi orang yang tersakiti,” lanjut Lanang.

Lanang berkaca pada dirinya. Kepergian Ibunya membuat ia putus asa. Seakan dunia dan seisinya gelap. Karenanya ia berprinsip harus berubah dari mindset yang memenjarakan dirinya. Ia harus kembali bersemangat, kembali meneruskan cita-citanya. Sebab jika manusia tidak ingin berubah menjadi lebih baik, ia akan selalu berada pada kerugian di setiap harinya. Sebagaimana pepatah arab yang mengatakan: “barang siapa yang harinya sama seperti hari kemarin, maka rugilah ia!” (man kaan yaumuhu sawaaun min amsihi fahuwa khaasir)

Karenanya, di hari santri nasional ini marilah kita sama-sama berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Spirit santri tak cukup hanya di pondok. Berapa banyak santri rajin ibadah dan belajar di pondok tapi saat lulus malah hidup gak karuan. Kalau kata Lanang, orang-orang seperti itu tidak pantas mengaku sebagai manusia. Atau dalam bahasa Kyai kami, jika kalian tidak menjadi lebih baik dari para pendahulumu, lebih baik kalian mati saja dan kami tetap hidup.. kalian hanya menghabiskan jatah beras saja! Wallahu a’lam bi al-Shawab.


Bagi yang ingin nonton filmnya, bisa lihat disini


*Penulis adalah Alumni Pondok Modern Gontor tahun 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here