Home Al Azhar Mengudar Akar Filosofis Ide Talaqi

Mengudar Akar Filosofis Ide Talaqi

479
0

Oleh: S Rahman*

Tahun-tahun awal di Mesir, saya berpikir bahwa belajar itu ya harus dengan guru, nggak bisa tidak. Tapi kemudian suatu ketika terbesit di benak saya untuk mempertanyakannya, “apa iya harus begitu?”  Tentu jawaban-jawaban normatif seperti adagium; “Barang siapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan,”  atau, “Barang siapa yang belajar dari buku, maka salahnya lebih banyak daripada benarnya,” tidak memuaskan dahaga saya.

Sama halnya dengan jawaban bahwa bentuk pembelajaran berguru (bersanad) adalah satu-satunya model yang diwariskan Rasulullah. “Loh, itu kan bil khusus perihal agama yang diturunkan dengan wahyu, gimana dengan ilmu-ilmu lain? Politik, ekonomi, psikologi dll.? Apakah hanya dengan punya guru lantas sah bagi kita berbicara di semua bidang?”  Saya tidak akan mempersempit pembahasan hanya pada berguru dalam hal agama, namun berguru secara umum, untuk setiap disiplin ilmu.

Selanjutnya mungkin masih akan ada yang mengejar saya dengan pertanyaan, “Bukannya kalau kita hendak meragukan konsep belajar harus berguru, justru itu berarti kita merutuhkan prinsip ekspertasi? Law la al-isnad la qala man sya`a ma sya`a, tanpa sanad semua orang akan ngomong apa saja semau-maunya sendiri.” Iya, saya setuju. Bahwa sanad ibarat ijasah formal atau gelar di dunia pendidikan modern, dengannya prinsip ekspertasi akan terjaga. Akan tetapi apalah artinya prinsip, jika ia dijunjung-junjung hanya karena status quo-nya. Narasi bahwa meragukan status quo adalah tindakan yang pasti merusak, tidak bisa dibenarkan. Toh tidak sedikit ide besar nan konstruktif justru lahir dari keraguan terhadap keadaan.

Maka dari itu agar tindakan dan kebijakan yang kita ambil tidak sekedar ikut-ikutan, sesuai apa yang sedang laku di pasaran, mari luangkan waktu sejenak untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan yang cukup mendasar dan erat dengan kehidupan kita para pelajar. Pertama tama mari pertanyakan apa itu belajar berguru?

Pastinya lawan dari belajar berguru adalah belajar tanpa guru, agar lebih jelas lagi kita memetakannya. Meminjam klasifikai penulis How to Read The Book, proses belajar (memperoleh pengetahuan) terbagi menjadi dua; (i) belajar dengan bantuan dari luar dan (ii) belajar tanpa bantuan, dengan melakukan eksperimen di laboratorium atau semacamnya. Selanjutnya belajar dengan bantuan terbagi lagi menjadi dua; belajar dengan bantuan guru atau seorang ahli secara langsung (tatap muka) dan belajar dengan bantuan guru yang secara tidak langsung (melalui buku, rekaman dan lainnya). Mari sebut belajar secara langsung tadi dengan sebutan talaqqi, karena memang akar kata talaqqi sendiri bermakna pertemuan atau tatap muka.

Lebih jauh lagi, proses belajar talaqqi bisa kita bagi berdasarkan konsentrasi utama objek-objek yang dipelajari menjadi; talaqqi ilmu-ilmu agama dan talaqqi ilmu-ilmu duniawi atau sekuler, meminjam klasfikasi ilmu Imam Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin. Di saat yang sama bisa juga kita membagi  talaqqi berdasarkan formalitasnya menjadi; talaqqi non-formal dan formal. Contoh dari jeni pertama antara lain: model pembelajaran para filosof stoa dan para ulama Islam tradisional, sedangan jenis kedua bisa diwakili oleh proses belajar di sekolah dan kampus-kampus. Maka, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, pembanding yang sepadan (qasiim) dari talaqqi adalah belajar dengan bantuan guru yang secara tidak langsung, bukannya proses belajar di lembaga pendidikan formal.

Oke, dari sini saya anggap kita sudah sepakat mengenai belajar berguru atau talaqqi. Selanjutnya kita akan menggali lebih lanjut mencari akar filosofis yang mendasar talaqqi ini, tapi sebelum menemukannya, agar lebih mantap lagi mari kita runtut masalahnya dari sebelum tumbuh akar, dari benihnya, dengan mempertanyakan kenapa manusia harus belajar, atau apa yang mendorong manusia untuk belajar?

Kita bisa menjawabnya dengan pemaparan Ibnu Khaldun dalam Mukadimah, bahwa belajar-mengajar adalah keniscayaan bagi makhluk sosial seperti manusia. Karena manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri, maka interaksi sosial pasi terjadi dalam kehidupannya. Interaksi sosial bisa menghasilkan maslahat, juga bisa menghasilkan mudarat. Maka dari itu Tuhan membekali manusia akal budi sebagai modal untuk meminimalisir terjadinya mudarat, juga sebagai pembeda manusia dari jenis makhluk hidup lainnya. Keberadaan akal budi menjadikan aktvitas berfikir keniscayaan bagi manusia, makanya dikenal definisi manusia adalah hewan yang berfikir. Salah satu akibat dari aktivitas berfikir ini adalah terakumuluasi dan tersusunnya pengetahuan-pengetahuan menjadi disiplin ilmu tertentu. Karena tuntutan untuk menghindari mudarat tadi, juga karena aktivitas alami akal budi, manusia dari generasi selanjutnya tertuntut untuk mempelajari ilmu-ilmu ini dari para ahli di generasi sebelumnya dalam rangka efisiensi dan pemanfaatan apa yang sudah ada. Itulah mengapa aktivitas belajar-mengajar menjadi keniscayaan bagi manusia.

Selanjutnya kita akan menjawab pertanyaan apakah proses belajar harus dilakukan secara langsung/talaqqi dengan seorang pakar? Ada dua alasan filosofis yang saya sarikan dari tujuh argumen Ibn Buthlan dalam pasal pertama  Al-Maqalat Al-Masriyyahnya. Alasan pertama, konsep maratibul wujud. Eksistensi/wujud terbagi menjadi; wujud fil a’yan (realita), wujud fil azhan (ide/konsep), wujud fil alfadz (ungkapan dengan lisan)dan wujud fil kitabah (ungkapan dengan tulisan). Belajar talaqqi, langsung bertatap muka dengan guru adalah proses pemindahan makna yang eksis sebagai ide dengan perantara lisan. Sehingga makna yang disampaikan dengan talaqqi melewati lebih sedikit level wujud daripada makna yang disampaikan dalam proses belajar tidak langsung (untuk mempermudah mari sematkan nama non-talaqqi). Karena ia melewati lebih sedikit level wujud maka kemungkinan sampainya makna secara utuh lebih besar.

Alasan kedua, bentuk komunikasi dialektis tidak terwujud dalam pembelajaran non-talaqqi. Bentuk komunikasi dialektis atau komunikasi dua arah akan mempermudah sampainya makna secara utuh pada pelajar. Belajar talaqqi memungkinkan pelajar bertanya pada guru makna yang belum dipahami, sehingga guru akan mengekspresikan makna tersebut dengan cara lain, hal ini tidak terjadi pada proses belajar non-talaqqi. Selain itu bentuk komunikasi ini juga sangat berguna dalam pembentukan kesadaran (ilmu) baru, seperti yang dilakuakan Socrates dan kawan-kawannya dalam diskusi mereka. Bahkan Ibn Buthlan menyebutkan bahwa ada satu pendapat Aristoteles dalam ilmu logika yang tidak akan bisa difahami kecuali dengan penjelasan yang ia berikan khusus pada dua muridnya.

Meski demikian, bukan berarti pengetahuan atau bahkan kebenaran tidak bisa dicapai dengan menempuh proses belajar non-talaqqi. Allen M. Tough, seorang profesor di OISE (Ontario Institute For Studies in Education) melakukan penelitian yang menyatakan bahwa self-teaching bisa dan bahkan sering dilakukan oleh orang dewasa. Menurut data yang ia kumpulkan dari 40 orang dewasa sebagai objek penelitiannya, rata-rata bisa mandiri mengerjakan 8-9 dari 12 fungsi guru yang ia ajukan. Loh itu kan hasil yang didapatkan dari peneliti Barat dengan pendekatan pragmatisnya! Oke, mari kita beralih ke Timur.

Imam Suyuthi dalam al-Ta’rif bi Adab al-Ta`lif  lebih memilih memaknai ‘ilmun yuntafa’u, dalam hadis 3 amal manusia yang tidak akan terputus, dengan tashnif (karya tulis) daripada ta’lim. Selain itu tradisi syarh dan hasyiyah juga lahir dari asumsi bahwa dengan ilmu alat makna yang tersimpan dalam buku bisa dicapai. Ini adalah bukti nyata bahwa tradisi keilmuan Islam tidak anti dengan proses belajar non-talaqqi. Tentu saja ada syarat dan ketentuannya.

Dengan dasar konsep maratibul wujud klasifikasi yang saya sebut sebelumnya, bisa kita katakan bahwa bentuk asal dari belajar dengan bantuan pakar adalah talaqqi, pertemuan secara langsung, bukan via buku atau rekaman. Maka dari itu pembelajaran non-talaqqi tidak diperuntukkan bagi seluruh segmen pembelajar. Penelitian self-teaching sendiri hanya menggunakan objek orang dewasa, lebih khusus lagi yang sudah pernah mengikuti pembelajaran di kampus. Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal klasifikasi pelajar menjadi; mubtadi’ (pemula), mutawassith (pertengahan), muntahi (tingkat akhir). Yang sepenuhnya memenuhi kualifikasi untuk melakukan pembelajaran mandiri adalah pelajar muntahi, sedangkan yang tidak memiliki kapabilitas sama sekali adalah pelajar mubtadi’.

Jadi selain argumen-argumen normatif retoris yang lebih sering di angkat ke permukaan, sistem pembelajaran talaqqi juga memiliki dasar argumen filosofis. Alangkah baiknya jika kita mengkaji ulang hal-hal yang kelihatannya lumrah karena status quo-nya, apakah ia memiliki dasar argumen burhani atau hanya sekedar khitabi. Socrates mengatakan, “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak berarti.” Wallahu A’lam.

*Penulis adalah Sarjana Aqidah Filsafat Universitas al-Azhar Mesir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here