Home Khazanah Menilik I’jaz Kalimat Pertama dan Terakhir pada Dalil Isra’

Menilik I’jaz Kalimat Pertama dan Terakhir pada Dalil Isra’

367
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

Pada peringatan Isra Mi’raj 27 Rajab, banyak acara yang diadakan, seperti pembacaan kitab tentang Isra’ Mi’raj bersama para masyayikh, begitu pula pada tahun ini. Kemaren malam, banyak majelis yang diadakan -walau secara online-, diantaranya pembacaan Kitab al-Ibtihaj bi al-kalam ‘ala Isra wa al-Mi’raj, Qishotu Isra wa Mi’raj li Imam Barzanji, al-Shirroth al-Wahhaj fi Qishoti Isra wa Mi’raj li sayyidi syekh Sholih Ja’fary dan lain-lainnya.

Selain kitab yang dibaca bersama, banyak pula tulisan para ulama yang bisa kita baca sebagai refleksi akan peristiwa agung ini. Salah satunya yang akan saya jadikan rujukan pada tulisan kali ini, yaitu beberapa poin penting dan pendapat Syekh Mutawalli al-Sya’rowi. Walau beliau tidak menulis buku ini sendiri, tapi insyAllah melalui buku yang diterbitkan oleh Majma’ Buhuts ini bisa kita rasakan manfaatnya bersama.

Pada tulisan tentang Isra’ Mi’raj sebelumnya, saya juga merujuk dari Imam Para Du’at, -begitulah julukan bagi Syekh Mutawalli Sya’rowi-. Jika sebelumnya telah kita bahas aturan akal tentang jarak dan waktu yang dipatahkan saat Isra’ (baca di: https://bacalatansa.com/isra-miraj-hukum-akal-yang-dipatahkan/ ), kali ini saya ingin menariknya ke dasar peristiwa ini, ‘illah atau sebab dari dalil tentang Isra’. Lebih khususnya dilihat dari segi bahasa (pemilihan kata) serta sir (rahasia) dibaliknya.

Baro’atul Istihlal pada Pembukaan Surat al-Isra

Dalam Balaghoh -khususnya ma’ani-, kata baro’atul Istihlal sudah sering kita temui. Dalam bahasa kita, bisa dipahami sebagai kecapakan/ kemahiran dalam memulai pembicaraan. Nah di sini, kita lihat bagaimana baro’atul Istihlal pada pembukaan Surah al-Isra sebagai dalil akan peristiwa Isra.

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” ( Q.S. Al-Isra: 1)

Ayat inilah yang menjadi dalil akan peristiwa agung ini, dan harus paten kita imani; tanpa harus membandingkannya dengan nalar dan kekuatan manusia biasa. Seperti yang kita bahas sebelumnya, karena Isra dan Mi’raj adalah bagian dari Mu’jizat Rasulullah Saw.

Pada pembukaan surat ini, terdapat kata “Subhana… “ yang menjadi titik sumber  pembahasan kali ini. Allah Swt memulai dengan kalimat ini bukan tanpa sebab. Dalam bahasa Arab, kalimat Subhana memiliki makna tanzih (pensucian). Jadi ketika pertama kali membaca ayat ini -jika telah memahami fungsi kalimat subhana– maka pada benak kita kalimat ini memberikan makna yang kuat berupa tanzih yang menjauhkan kekuasaan Allah saat Isra (menjalankan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ) dari kekuatan lainnya atau perbandingan yang menyerupainya. Dengan bahasa yang lebih gampang dipahami bahwa kekuatan Allah Swt dalam peristiwa ini tidak bisa dibandingkan dengan hukum akal manusia, atau hukum bumi.

Kalimat “Subhana Allah” berarti bahwa Allah Swt munazzah (suci) dalam dzat-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya. Maka jika yang disebutkan dalam ayat pertama Surat al-Isra adalah kehendak Allah, maka kehendak Allah dengan kekuatan-Nya menjalankan Rasulullah Saw dalam peristiwa Isra tidak bisa dibandingkam dengan hukum akal manusia di bumi. Ini artinya sudah masuk ranah keimanan dan harus diimani.

Hal di atas contoh tanzih kehendak Allah Swt. Adapun contoh lain yang menunjuklan makna subhana sebagai tanzih ada di beberapa ayat dalam Al-Qur’an, dan ini pun berkaitan juga dengan waqf wa al ibtida (kapan harus berhenti dan melanjutkan bacaan) saat membacanya.

Seperti pada ayat yang mensucikan bahwa Allah Swt tidak mempunyai anak saat orang-orang kafir berkata demikian. “Waqalu ittakhodza Allah walada, subhanah… ” kata subhanah di sini juga sama, sebagai tanzih. Saat selesai perkataan orang-orang kafir kita harus waqf -sebagian pendapat ahli al-ada berkata bahwa waqf di kata walada adalah waqf lazim-. Lalu kita lanjutkan memulai lagi dengan kata subhanah, sebagai jawaban dan  bantahan terhadap perkataan orang-orang kafir. Jadi di sini subhanah memilki faidah yang sama sebagai tanzih dzat, sifat dan kehendak Allah Swt.

2 misal di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa kata subhana sebagai bentuk bantahan atas orang-orang yang tidak mempercayai hal yang Allah firmankan. Begitupula yang ada pada surah al-Isra, bantahan yang bertubi tubi menyerang Rasulullah Saw saat menyatakan perihal Isra dan Mi’raj. Di sinilah kata subhana sebagai baro’atul istihlal untuk mengawali mu’jizat dan kesucian Allah Swt.

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rowi juga menambahkan bahwa pembukaan Surah al-Isra dengan menggunakan kalimat subhana, agar ketika pertama kali membaca ayat ini kita mempersiapkan diri terhadap kejadian yang luar biasa dan ghorib (asing) di akal manusia. Karena jika Allah Swt berfirman Subhana, menunjukkam Ke-Maha Suci-an Allah Swt dan menjelaskan serta menegaskan bahwa qanun (aturan) Allah Swt berbeda dengan qanun manusia dalam kehendak-Nya. Yaitu menjalankan Rasulullah Saw dalam peristiwa agung Isra’ Mi’raj.

Jika pembahasan di atas adalah pada baro’atul istihlal, maka di akhir tulisan ini juga akan saya tambahkan pembahasan di akhir ayat perta Surah al-Isra ini. Yaitu sebab dari runtutan kandungan ayat pertama (dalil Isra); Allah yang menjalankan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha untuk menunjukkan ayat kekuasaan Allah. Di akhir ayat disebutkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Melihat, Innahu huwa al-Sami’ al-Bashir.

Di akhir ayat ini, Syekh Mutawalli memancing kita untuk berfikir. Mengapa Allah menutup ayat tersebut dengan kata sami’ (Maha Mendengar) dan bashir (Maha Melihat)? Padahal bisa saja untuk menggunakan penutup lain setelah menunjukkan kuasa-Nya dengan kata inna Allah ‘ala kulli syai’ qadir, Inna Allah wahhab.. Allah.. dan lain sebagainya. Tanya syekh Sya’rowi dalam bukunya.

Kalimat penutup “Innahu huwa al-Sami’ al-Bashir” menunjukkan al-‘illah al-haqiqiah. Begitu jawab beliau. ‘Illah haqiqiyah (sebab hakiki) bahwa Allah Swt senantiasa mendengar doa kekasih-Nya, Rasulullah Saw; setelah disakiti dan mendapatkan tantangan, kesinisan, kekerasan, serta celaan saat awal mula berdakwah. Semuanya tak lain dengan Sifat Maha Melihat dan Maha Mendengar Allah Swt. Maka ketika Allah Swt melihat keadaan Rasulullah Saw dan mendengarnya, Allah Swt dengan kehendak-Nya menunjukkan kebesaran dan kekuasaannya (linuriyahu min ayatina); yaitu dengan menjalankan Rasulullah Saw dalam Isra Mi’raj.

Dan jawaban dari beliau ini memberikan kita bukti bahwa Allah Swt tidak meninggalkan kekasih-Nya dalam kesedihan pasca meninggalnya Sayyidah Khadijah dan pamannya Abu Thalib dalam waktu yang berdekatan; sebagai penghibur hati kekasih-Nya, Rasulullah Saw. Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad.

Selamat Memperingati Isra’ Mi’raj, 27 Rajab 1442 H. Kullu ‘am wa antum bikhoirin.

*Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here