Home Tak Berkategori Menjadi Santri Beridentitas yang Mengajarkan Dunia

Menjadi Santri Beridentitas yang Mengajarkan Dunia

481
0


“Anak-anakku yang ada di luar negeri dan di mana saja berada, bersyukurlah antum-antum diajarkan menjadi muallim dan mutaaliim, dituntut menjadi santri yang baik dan diharapkan menjadi mundzirul qoum pengajar-pengajar dunia. Kita mengajar dunia dari gontor!”
(K.H. Hasan Abdullah Sahal)


Oleh: Ummu Maghfiroh*
Meremajakan Nilai dan Identitas Santri
Menjadi santri, atau pernah nyantri dan menginjakkan kaki di pondok sebagai santri berarti punya tanggung jawab dengan label santri nya. Label itu tidak berakhir saat lulus dari pondok atau setelah mengabdi satu, dua atau lima tahun di pondok. Melainkan akan terus kita bawa dimanapun kita berada dan berperan. Ini sebagaimana yang sering diingatkan oleh pak Kyai: Ingat, di jidat Kalian ada tulisan PM (Pondok Modern)!.
Ini berlaku untuk semuanya, tidak terkecuali mereka yang lulus dari Pondok dan pergi bertebaran di seluruh penjuru dunia; menuntut ilmu jauh dari bumi pertiwi, bahkan di negara yang minoritas muslim. Merea pun tetap membawa lebel santri nya dan tetap menjadi anak pak kyai, dan tetap menjadi harapan sebagai mundzirul qoum, sebagaimana syiar pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor.


Namun dalam realitanya alumni tidaklah seperti santri yang dekat dengan lingkungan pondok juga Kyai. Hal itu menuntut mereka untuk meremajakan nilai dan identitas yang pernah ditanamkan saat santri yang mungkin saja kabur dan menghilang sedikit demi sedikit. Kita pasti ingat istilah perpeloncoan atau peremajaan saat Pekan Perkenalan Khutbatu-l-Arsy ditahun ajaran baru. Jika baru dipelonco agar paham pondok dan kepondokmodernan, maka santri lama pun diremajakan agar kembali mengingat tujuannya dalam belajar.


Maka dalam hal ini para alumni yang masih dengan label santri pun perlu untuk diremajakan jiwa dan pikirannya. Bedanya, jika saat santri peremajan ini dituntut oleh pihak Pondok, maka saat alumni kitalah yang menunt diri sendiri untuk meremajakan ulang agar tetap tertatanam identitas santri dan mewujudkan idealisme yang dicita-citakan para kyai kita terdahulu.


Termasuk dalam peremajaan adalah saat kunjungan Kyai ke berbagai negri untuk bersilaturahmi dengan alumninya. JIka awal Ramadhan tahun lalu, kami, keluarga IKPM Cabang Kairo digetarkan oleh nasehat Kyai Hasan dalam ageda Silaturahmi Akbar, maka ditengh socialdistance ini bukan hanya IKPM Kairo saja, namun semua alumninya mencapat cas baru dari Kyai lewat pertemuan online di media sosial yang diadakan oleh PPI Dunia juga Gontor TV. Semuanya tak lain sebagai bentuk peremajaan, tajdid niyyah, tajdid ahd, pemerkuat identitas santri serta idealisme yang dicita-citakan Trimurti.


Identitas Santri/ Santriyah
Sebagaimana maklum adanya Kyai merupakan sentral figur bagi santrinya di pondok. Sentral figur tersebut berarti menjadi acuan dan patokan untuk bersikap dan berperan. Seluruh sikap, nilai, dan pendidikan yang diberikan oleh kyai dan para guru tak lain merupakan proses dari pembentukan identitas tersebut. Sepertihalnya nilai yang ditanamkan lewat keteladanan, penyampaian ceramah, penugasan bahkan hukuman akan meresap dalam jiwa dan pribadi seorang santri hingga ia beridentitas melalui segala penempaan bertahun-tahun.


Adakalanya muncul suatu pertanyaan, apa si identitas seorang santri itu? Apakah dilihat dari penampilannya, bajunya, peci, sorban atau apa?


Dalam sesi temu kajian Ramadhan online di Gontor TV yang mengangkat tema Meneguhkan Tauhid di 10 Hari Akhir Ramadhan, K.H. Hasan Abdullah Sahal memaparkan dengan apik dan menarik terkait identitas seorang santri, yang mana Tauhid adalah bagian inti darinya. Yang ketika kita cermati kembali bahwa semua yang beliau sampaikan merupakan poin penting tentang bagaimana identitas seorang santri, hal ini karen beliau adalah kyai yang menjadi sentral figur santrinya.
Segala nasehat, arahan dan keteladanannya itulah yang diharapkan membentuk identitas tersebut. Tak terlepas dari semua yang didengar, dilihat, dan dirasakan di pondok sebagai pendidikan menjadi bekal bagi para alumninya. Inilah bekal yang tertanam dalam jiwa dan akan mereka bawa dimanapun itu. Kalian semua, ujar Kyai Hasan, merupakan santri yang di Hari Akhir kelak akan ditanya tentang amanat dan tanggung jawab kita sebagai seorang khalifah di bumi secara umumnya, dan seorang santri mundzirul qoum secara khususnya.


Apa yang ayahanda paparkan pada tanggal 12 Mei lalu meskipun dalam waktu yang singkat akan tetapi mengandung makna yang mendalam. Yang sedikit dan singkat bukan berarti ditinggalkan, walau bahkan pernah kita dengar sebelumnya. Karena ping sewu dalam menerima nasehat benar adanya, agar tidak hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Semuanya kembali untuk mengokohkan identitas kita sebagai santri yang utuh seperti yang disampaikan,
Sekarang di dunia ini muncul tuhan-tuhan baru, di depan kita juga banyak fatamorgana (omong kosong), serta ketenaran dan popularitas yang merajalela. Jangan terlena! Apalagi dengan harta, tahta, wanita, berhati-hatilah! Banggalah dengan identitasmu, jiwa dan hatimu harus besar. Identitas itu bukan terletak pada penampilan maupun ketenaran, namun ia terletak di dalam perilaku. Maka jadilah santri yang utuh! inilah identitas santri yang ditegaskan oleh Kyai Hasan dalam kajian kemarin.


Harapan Pengajar Dunia
Syiar pendidikan PMDG sejatinya terdapat di surah At-Taubah ayat 122, yang inti dari ayat tersebut berpesan bahwa kita (para santri) yang belajar di pondok merupakan sebagain dari golongan yang tidak berjihad dengan berperang. Akan tetapi dengan berjihad tholabul ilmi mereka diharapkan agar kembali kepada masyarakat untuk menjadi mundzirul qoum.


Dalam ceramah kajian Ramadhan tahun ini, ayahanda K.H. Hasan Abdullah Sahal menekankan kembali tentang mundzirul qoum, atau dalam bahasa yang beliau sampaikan, Kalian diharapkan menjadi ‘pengajar-pengajar dunia disamping dituntut mejadi santri yang baik.
Anak-anakku yang ada di luar negeri dan di mana saja berada, bersyukurlah antum-antum diajarkan menjadi muallim dan mutaaliim, dituntut menjadi santri yang baik dan diharapkan menjadi mundzirul qoum pengajar-pengajar dunia. Kita mengajar dunia dari gontor.


Pengajar disini, tak hanya tersempitkan dengan profesi guru di sekolah, ustadz yang berceramah, atau bahkan dosen di universitas. Lebih luas dari itu, bahkan menjadi seorang pedagang, pebisnis, penulis dan lain sebagainya terdapat pula unsur mengajar. Baik mengajar lewat perkataan, nasehat, atau dari keteladanan dan tulisan kepada sesama manusia.
Dari apa yang disampaikan ayahanda, semua berporos pada identitas seorang santri dan harapan menjadi pengajar dunia dari Gontor. Jika diurutkan dari apa yang beliau sampaikan, sebagaimana tema yang diangkat tentang mengokohkan Tauhid, maka hal pertama yang harus kita ingat adalah Tauhid. Karena identitas seorang muslim ada di pilar Tauhid yang 3 seperti yang beliau paparkan. Yaitu iman, islam dan ihsan.


Dari ketiga unsur tersebut tidak boleh mutlak dipisahkan satu sama lainnya, akan tetapi harus berjalan bersama dari kita lahir dan hidup hingga mati dengan Lailaahaillallah Muhammadurrasulullah.
Selain paham dan memahami dengan baik, memahamkan kepada orang laIn pun diperlukan, karena disitulah peran seorang mundzirul qoum, pengajar dunia yang diharapkan sang kyai. Dari satu poin yang beliau sampaikan sudah terlihat jelas bagaimana suatu proses untuk sampai kepada apa yang diharapkan, pengajar dunia dari Gontor. Itu baru satu poin pertama yang beliau sampaikan, pada kesempatan kali ini, penulis belum memaparkan secara keseluruhan, namun hanya sebagian darinya saja.


Masih tersisa banyak hal yang belum kita pahami dan ketahui. Untuk itu berhenti belajar atau mendengar nasehat seorang guru atau kyai dengan alasan sering mendengarnya bukan hal yang diindahkan, karena sekali lagi ping sewu.
Begitupula kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita sebagai seorang santri bukan pula penghalang untuk terus belajar dan beramal shaleh. Yang paling penting, kita benar-benar menjadi seorang santri yang baik, menjadi apa yang diharapkan. Sekali lagi K.H. Hasan Abdullah Sahal menegaskan, Supaya kita benar-benar menjadi santri yang seutuhnya dengan segala kekurangan. Karena kekurangan tidak menghalagi amal shaleh.


Salam takdzim dan rindu dari para santri/ santriyah di Negeri Para Nabi, Mesir. Terimakasih ayah atas segala nasehat dan motivasi. Semoga kami kembali berjiwa muda setelah diremajakan oleh petuah ayahanda tercinta. Semoga rahmat dan keberkahan Allah selalu meliputi engkau wahai ayah. Selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam segala hal. Semoga rindu dan cinta padamu, ayah, benar-benar berujung pada Allah Swt hingga kita dikumpulkan kembali di Surga-Nya kelak. Aamiin. Mari mejadi santri beridentitas yang mampu mengajarkan dunia!


إليك أهدي هذه الكلمات
يا من له سعة الصدر والحنان # يا من أحسن إلينا قولا
وتبرز فينا حماسة ويقينا # فقلبنا بك متعلق مدى السنين
لك منا السلام يا أبانا # لك منا لا يقاس من الحب
وفقك الله ورعاك الله للخير

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here