Home Opini Menjawab Tuduhan atas Pernikahan Nabi dan Sayyidah Aisyah RA

Menjawab Tuduhan atas Pernikahan Nabi dan Sayyidah Aisyah RA

254
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Sayyidah Aisyah adalah satu di antara istri-istri Nabi (ummahat al-Mu’minin). Ia dilahirkan pada tahun ke-7 sebelum hijrah. Nabi mulai hidup bersama Aisyah pada bulan Syawal setelah perang Badar pada tahun ke-2 Hijrah. hal ini sebagaimana perkataan Aisyah yang berbunyi: “Rasulullah menikahiku ketika aku berumur enam tahun dan kemudian hidup bersamaku ketika aku berusia Sembilan tahun.”

Pernikahan Nabi dan Aisyah adalah pernikahan yang suci; pernikahan yang langsung diwahyukan oleh Allah Swt. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa Rasulullah Saw diperlihatkan oleh Sayyidah Aisyah dalam mimpinya pada tiga malam berturut turut. Jibril pun berkata kepada Rasul, “ini adalah istrimu.” Rasul pun menyingkapkan hijab dari wajah Aisyah dan tersingkaplah ia. Lalu Rasul pun berkata, “Jika ia berasal dari sisi Allah maka biarkanlah ketetapan itu berlaku”

Berbicara pernikahan Nabi dan Sayyidah Aisyah, di era modern ini, sosok perempuan mulia tersebut tak sepi dari berbagai tuduhan. Akibat islamofobia yang melanda masyarakat Barat Modern serta berbagai isu tak sedap akan Islam di sana, mereka berani  meluncurkan sejumlah tuduhan dan isu keji terhadap Rasul beserta Sayyidah Aisyah.

Rezim Hegemoni Barat, sebagaimana yang dikatakan Dr. Imarah, memang sudah menyimpan kegeraman dengan Islam, tepatnya setelah takluk oleh kaum Muslimin di perang Salib (1096-1291 M). Dalam pengantar kitab milik Dr. Izzuddin Frag yang berjudul “Nabi Islam dalam Kacamata Pemikir Barat” Dr. Imarah mengatakan bahwa nalar barat modern saat ini tenggelam dalam dusta-dusta media yang para pelakunya menjadikan produksi kebohongan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Maka wajar saja bila orang seperti Thomas Aquinas (1225-1274 M), salah seorang pembesar filusuf katolik, berkata tentang Rasul:  

“Ia adalah orang yang menyesatkan bangsa-bangsa melalui janji syahwatnya, ia menyimpangkan semua dalil-dalil yang termaktub di dalam Taurat dan Injil melalui dongeng-dongeng dan berbagai mitos yang dibacakannya pada para sahabatnya, dan tidak ada yang beriman kepada ajaran Muhammad kecuali orang-orang liar yang hidup di pedalaman!”

Dan salah satu tuduhan lainnya adalah praktik pernikahan Nabi dengan Sayyidah Aisyah. Dr. Ramadhan Said Al-Buthi, salah seorang ulama ternama asal Syiria, dalam bukunya yang berjudul Aisyah Umm al-Mu’minin, beliau bercerita bahwa dirinya mendapatkan surat yang berisi tentang perdebatan antara sahabatnya dengan lawan debatnya terkait perkawinan Rasulullah Saw dengan Sayyidah Aisyah. Kata lawan debatnya, sebut saja Mike, perkawinan Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah itu merupakan bentuk penyimpangan dari fitrah manusia.

Hal ini, lanjut Mike, karena Rasul menikahi seorang anak yang belum genap berusia sembilan tahun, sedangkan umurnya sudah cukup tua. Bahkan lebih jauh dari itu, Mike menyatakan bahwa keputusan yang mendorong Nabi Muhammad untuk menikahi Sayyidah Aisyah yang masih belia ialah,  karena ia menderita kelainan jiwa atau yang disebut ‘pedofilia’. Walhasil, ia pun mengecap Rasul sebagai pedofil.

Sungguh ini adalah kekejian yang amat biadab. Argument-argumen seperti ini sesungguhnya tidak akan keluar kecuali dari mulut orang yang tidak percaya akan Rasulullah; orang yang mendiskreditkan dan merendahkan keagungan dan kemulian rasul; orang yang menganggap Rasulullah hanyalah sebatas manusia biasa seperti manusia pada umumnya; atau bahkan orang yang memang terlanjur benci akan Islam serta ajarannya hingga pada pembawa ajarannya, yakni Rasulullah Saw.  

Argumen Mike, kata Syekh Al-Buthi, hakikatnya disandarkan pada kabar dusta yang disampaikan pengkritik sejarah Islam. Informasi itu menyatakan bahwa Nabi mulai memimpikan dan “berangan-angan” untuk mengawini Aisyah ketika anak itu masih berusia empat atau lima tahun. Mereka pun juga mengaitkan dengan hadis riwayat Bukhari (yakni yang saya sebutkan di paragraph kedua di atas) untuk mendukung pendapat tersebut.

Maka hal pertama yang disampaikan Syekh Buthi dalam menjawab tuduhan ini ialah, tidak adanya riwayat dalam kitab Shahih Bukhari dan kitab-kitab hadis lainnya yang menyatakan bahwa Rasulullah mimpi bertemu dengan Aisyah sejak ia berumur empat atau lima tahun dan “berangan-angan” untuk menikahinya. Hadis diperlihatkannya Aisyah pada Baginda Nabi memang ada, namun pemaknannya tidak seperti yang dipahami seharusnya. Mereka, kata Syekh Buthi, melakukan tafsiran bebas atas riwayat Bukhari dan Muslim.

Nabi Muhammad sama sekali tidak pernah memilih menikahi Aisyah di antara wanita lainnya. Beliau tidak memiliki hubungan apa-apa. Atau bahkan bisa  dikatakan, Nabi sepenuhnya tidak mengenali Aisyah, apalagi meminta orangtuanya untuk menikahkan putrinya dengannya. Sebagaimana kita ketahui, setelah ditinggal Khadijah Nabi tak ada niatan untuk menikah.  Kepergian Khadijah cukup membuat Nabi lama menyimpan duka dalam dirinya.

Adalah Khaulah binti Hakim yang menawarkan Nabi untuk menikah kembali. Sosok yang ditawarkan olehnya ada dua: Aisyah binti Abu Bakar dan Saudah binti Zam’ah. Jadi, Khaulah lah yang memilihkan kedua wanita itu pada Rasul, dan beliau pun menyutujuinya, meskipun pada hakikatnya Rasul telah diwahyukan oleh Allah akan pernikahannya dengan Aisyah. Khaulah pun datang ke Abu Bakar untuk menyapaikan keinginan baik tersebut. Abu Bakar pun menyutujuinya. Jadi, tidak ada yang namanya Rasul “berangan-angan” dan mendambakan untuk menikah dengan Aisyah.

Kedua, menurut Syekh Buthi, praktik semacam ini tidaklah memicu pertentangan atau mendapat gugatan dari komunitas Makkah secara umum dan kaum Muslim secara khusus. Jika hal ini benar melanggar fitrah kemanusiaan –sebagaimana yang dikatakan Mike- pasti ada segolongan orang yang mengecam dan merendahkan Rasul serta membela fitrah kemanusiaan yang dilanggar. Tapi realitasnya, kala itu, hal semacam ini tidak menjadi sebuah permasalahan. Bahkan musuh Rasulullah sekalipun di Makkah saat itu tidak menyinggungnya. Sebab, jika pernikahan ini memang dianggap melanggar, tentu mereka akan menyerang Muhammad habis-habisan lewat praktik ini. Tapi buktinya, tidak ada.

Jika meninjau secara historis juga, praktik perkawinan seperti ini bukan hanya terjadi pada Aisyah seorang. Ruqayyah, salah satu putri Baginda Nabi, ia menikah dengan Utbah bin Abu Lahab pada umur kurang dari 10 tahun. Selanjutnya menikah dengan Utsman bin Affan pada 12 tahun, setelah dicerai oleh Utbah. Fatimah pun tatkala menikah dengan Ali ia berumur 15 tahun. Ini berarti praktik seperti ini memang tidak pernah dipermasalahkan sedari awal oleh penduduk Makkah. (lihat Syekh Nawawi Al-Bantani, Nuur al-Zhalam Syarh Aqidat Al-Awam). Kalaupuun ingin objektif, kenapa hanya sayyidah Aisyah seorang yang dikritik. Kenapa tidak yang lainnya?

Namun Mike ngeyel. Katanya, walaupun praktik ini disetujui oleh penduduk Makkah, namun tetap ia melanggar fitrah manusia. Untuk menjawab ini, Syekh Buthi mengingatkan bahwa ada sesuatu yang luput pada Mike. Selengkapnya ia berkata:

“Mereka sepertinya lupa bahwa tingkat kematangan seksual pada perempuan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan lingkungan dan iklim suatu daerah. Di negri beriklim panas seperti Arab, Sudan atau Mesir, perempuan telah mengalami kematangan seksual pada usia yang sangat muda. Jadi tak aneh apabila 10 tahun mereka sudah Haid. Bahkan di Negara seperti Sudan, Nejed dll-nya, bisa kurang dari itu. Hal ini berbeda dengan perempuan-perempuan yang tinggal di negri beriklim dingin dan lembab seperti Asia Tengah dan sebagian Eropa. Mungkin di sana ada yang sudah berusia 14 tahun namun belum haid”

Dan yang terakhir, pada hakikatnya, Mike telah salah kaprah. Ia membandingkan kehidupan pandangan masyarakat sekitarnya dengan kehidupan Rasulullah pada zamannya. Ya tentu beda. Dari cara pandangnya saja sudah berbeda. Mike tidak melihat pernikahan ini sebagai sebuah wahyu. Ia hanya melihat sebatas norma yang berlaku. Padahal norma itu pun tidak bisa sepenuhnya dibenarkan. Adapun seorang muslim melihat ini sebuagai sebuah kemuliaan. Aisyah adalah wanita mulia. Nabi adalah sosok yang tidak dihantui oleh nafsunya, sebagaimana manusia biasa. Itulah bedanya.

Dan saya turut mengatakan bahwa istilah “pedofil” adalah istilah yang memang dipopulerkan oleh kalangan barat. Mereka tidak punya tolak ukur sebuah hokum yang absolut. Mereka rancu dalam memahami teks kitab suci. Akibatnya, takaran yang dipakai adalah kesepakatan atau budaya setempat. Padahal kita tau, budaya itu sifatnya dinamis. Ia bisa berbeda-beda di setiap tempatnya dan akan berubah setiap zamannya. Ia tidak bersifat universal sebagaimana hukum dalam sebuah agama. Inilah mengapa mereka menganggap menikah dengan anak usia dini adalah sebuah penyimpangan.

Kita tentu sering mendengar kisah nenek-nenek moyang kita yang menikah diumur mereka yang belia. Namun itu tidak pernah menjadi sebuah permasalahan bagi mereka. Jadi sekali lagi, tuduhan semacam ini memang datang dari barat yang telah menghegemoni pemikiran dunia dengan worldviewnya. Maka sebagai seorang muslim yang percaya akan Rasulullah Saw. Kita tentu tidak akan megatakan hal-hal yang tidak semestinya kepada beliau. Jika memang benar kita cinta akan Rasulullah, kita tidak akan menodainya atau bahkan melukai perasaannya. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin al-Azhar Kairo Strata satu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here