Home Tak Berkategori Menyoal No Hijab Day; Ini Bukan Sebatas Simbol dan Tradisi

Menyoal No Hijab Day; Ini Bukan Sebatas Simbol dan Tradisi

376
0

Oleh: Nafisah Aliyah*

“Dan katakanlah pada perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat….” Qs. An-Nur: 31

Penggalan arti ayat di atas mengupas beberapa hikmah bagi kaum perempuan. Selain adanya syariat bagi seorang muslimah untuk menjaga iffah dan izzahnya (secara lahir dan batin), frase “…kecuali yang (biasa) terlihat….” menjelaskan bahwa Islam juga memberi kelonggaran dengan adanya batasan dan ketentuan tertentu. Namun nyatanya, masih banyak dari beberapa golongan (kaum muslim sendiri) yang tidak bisa memahaminya dan menelaah kandungan maknanya, sehingga alpa dari pengamalannya.

Beberapa pekan lalu, tepat tanggal 1 Februari 2020 Dunia Internasional telah ramai dengan gerakan “No Hijab Day” yang dipelopori oleh Yasmine Mohamad. Sedikit biografi tentang Yasmin, ia merupakan aktivis hak asasi manusia Kanada yang mengadvokasi hak-hak perempuan yang tinggal di negara-negara dengan mayoritas Islam, dengan gerakan di bawah fundamentalisme agama. Gerakan ini dimulai sebagai bentuk kontra-protes terhadap “Hari Hijab Dunia” –yang diperingati dengan penanggalan yang sama dan mendapat dukungan oleh beberapa masyarakat di beberapa negara. Mirisnya, diantara mereka termasuk didalamnya oleh WNI.

“Hari Hijab Dunia” atau yang sering disingkat dengan WHD (World Hijab Day), merupakan salah satu gerakan yang dipelopori oleh Nazma Khan seorang wanita berhijab asal Amerika Serikat. Simpel saja, motivasinya dengan adanya gerakan WHD ini, ia bermaksud menumbuhkan toleransi pemahaman agama dengan mengundang wanita (baik muslim non berhijab maupun non muslim) untuk merasakan memakai jilbab selama satu hari. Selain itu, harapan dari adanya gerakan ini guna menghimbau dunia untuk menghormati kaum kaum muslimah yang berhijab, tetap mendapatkan hak-hak mereka, serta perlindungan dan kasih sayang dalam bersosialisasi –layaknya masyarakat lainnya- terkhusus di kawasan Barat.

Selain itu, Nazma turut mengatakan bahwa motifnya dibalik penciptaan hari itu ialah kesulitan yang dihadapi karena ia berhijab ketika tumbuh dewasa di New York City. Ia terus dirundungi di sekolah menengah dan sekolah tinggi dan mendapat cacian dari berbagai pihak, puncaknya saat tragedy 9/11. Ia juga mengaku, dimana ia harus kuat dan mencoba melawan ejekan-ejekan seperti “wanita ninja”, “serupa batman” dan lain sebagainya. Bagusnya, hal itu sama sekali tidak membuat kekokohannya rapuh untuk memperjuangkan iffahnya sebagai muslimah. Karenanya ia berfikir, jika dapat mengundang saudari-saudari dari seluruh lapisan kepercayaan dan latar belakang untuk bergabung dengannya dalam sehari sejam barangkali keadaan akan berubah.

Dampak gagasan dari adanya WHD ini, dilain sisi justru malah mengundang beberapa gerakan kontras, pemikiran yang saling menyalahkan satu sama lain, dan perebutan kemenangan pendapat dengan mengedepankan feminisme. Diantara yang melakukan antithesis terhadap gerakan ini adalah Asra Nomani dan Maajid Nawas, yang juga mengkritik bahwa WHD tidak lain hanyalah kampanye kolot dan konservatif semata. Mereka menuduhnya dan memberi gagasan yang menyesatkan bahwa hijab selalu dikenakan dengan sukarela. Dan kampanye akan protes-kontra ini, hingga saat ini telah jauh terorganisir dengan baik.

Kedua kubu diatas, memiliki alasan dan saling mengedepankan pandangan feminisme masing masing kubu. Alasan dari pro-WHD, dikarenakan penyetaraan gender bagi kaum wanita khusunya para muslimah berhijab dengan beberapa kondisi yang mereka alami. Seperti ancaman pembunuhan, pendesakan politik, atau malah penggusuran dari negara tersebut. Dalam artian, seharusnya seorang perempuan baik berhijab atau tidak itu mendapatkan perlakuan yang sama, bukan malah timpang sebelah

Sementara kubu dengan pihak kontra, juga memiliki alasan sesuai dengan trauma yang mereka alami. Kontras dengan alasan yang kubu pertama, kubu ini justru merasa terancam dan harus lepas paksa hijab di usia dini demi keselamatan nyawa dengan tidak mengenakan hijab. Oleh karena itu, mereka beranggapan bahwa hijab justru mendatangkan kekhawatirn dan cukup menjadi simbolis semata.

Hal ini pun bisa kita lihat bagaimana trauma Yasmine Mohammed hingga membuat gerakan No Hijab Day. Gerakan ini memang sengaja dibuat untuk mendukung wanita pemberani di seluruh dunia yang ingin bebas dari jilbab. Wanita yang ingin memutuskan sendiri apa yang akan dikenakan atau apa yang tidak dikenakan di kepala mereka. Sebenarnya jika sebagai respon pada gerakan WHD, maka gerakan No Hijab Day ini sepertinya salah alamat. Sebab WHD tidak dibentuk sebagai sebuah paksaan. Karenanya mungkin No Hijab Day hanyalah sebatas kekecewaan dan trauma Yasmin pada keluarganya, sebagaimana yang ia tuliskan dalam opini yang berjudul Support Muslim Woman in Fight Againts Hijab.

Setelah membaca beberapa gagasan mereka, sangat disayangkan dimana ada sosok wanita yang mengaku memeluk Islam, namun pada hakikatnya hatinya belum terhijab dengan keindahan Islam itu sendiri. Berhijab bagi kaum wanita (muslimah) itu indah, baik secara dzahir dengan menutup bagian kepala, juga secara batin dengan penjagaan kecantikan dari fitrahnya. Bukan menjadi suatu masalah jika sebagian dari mereka mengaku memeluk Islam namun tetap membiarkan tubuhnya tidak terhijab. Tidak ada paksaan bagi kalian, akan tetapi bukankah telah jelas syariat menjelaskan bagaimana hukum kewajiban berhijab atas seorang muslimah, dan bagaimana bagi mereka yang tidak mengenakan hijab(?) Yang sangat disayangkan lagi, adanya dampak pembauran pemikiran ini dialami oleh sekelompok masyarakat Indonesia. Dimana mereka sangat mendukung adanya gerakan kontra WHD dengan alasan, hijab bukanlah ajaran atau budaya warisan tanah air, melainkan datang dari negara Arab, banyak kasus hijabisasi akhir dekade ini, dsb.Para ulama sepakat dan tidak ada perselisihan satupun tentang wajibnya bagi kaum muslimah mengenakan hijab. Bahkan jika dikatakan hijab bukanlah warisan tanah air, maka sebenarnya hijab bukan pula warisan dari tradisi Arab, melainkan hijab adalah ajaran dalam syariat Islam. Menanggapi permasalahan di atas, tidak ada salahnya dengan ide gerakan WHD sebagai motivasi semangat berdakwah dan tetap menjadi kesukarelaan bagi non muslim untuk merayakan atau tidak. Namun yang paling penting, mungkin gerakan ini hanya sebatas formalitas platform, namun sejatinya bagi kaum muslimah yang kaffah di setiap harinnya adalah World Hijab Day. Sementara bagi mereka yang kontra, tidaklah lain hanya mereka yang berpandangan bahwa berhijab adalah suatu bentuk keterpaksaan. Dan tentunya, cukup bagi kita mendakwahkan secara damai tanpa keributan dan pemaksaaan terhadap mereka untuk tetap berpegang teguh menjaga hijab sebagai mahkotanya. Sekali lagi, hijab bukanlah suatu simbolis atau bahkan keterpaksaan.

Sadarkah kita bahwa musuh-musuh Allah Swt telah dekat dan nyata untuk menghancurkan Islam. Jika sekarang adanya suatu gerakan no hijab day selama sehari, maka bagaimana jika nantinya akan muncul gagasan-gagasan yang lebih mengerikan. Semisal no hijab one week, no hijab one year, atau malah hilangnya kata berhijab untuk selamanya, nauzubillahiminzalik. Dengan ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan dan peran seorang muslimah yang kaffah, yang hati dan akalnya pun juga terhijab. Dimana dari rahim mereka, terlahir dan tercetak pula generasi-generasi penerus bangsa dan agama yang diharapkan. Yang benar tetap dikokohkan, dan yang bathil dapat dicegah dan terobati.

Terakhir saya ingin mengatakan, Jika Anda seorang muslimah dan belum berhijab itu pilihan Anda. Akan tetapi memaksa orang untuk tidak berhijab atau mengatakan hijab itu tidak wajib itu sebuah kejahatan. Cukuplah Allah Swt. Penolong bagi kita semua.Wallahu’alam bis shawab…

*Penulis adalah Kru Latansa dan aktif di Keputrian GAMA JATIM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here