Home Tak Berkategori Misteri Patung Liberty dengan Terusan Suez

Misteri Patung Liberty dengan Terusan Suez

341
0

Oleh:Salma Qodariah*

“The Statue of Liberty was originally intended to represent a female Muslim peasant guarding the approach to the Suez Canal. (Smithsonian Magazine, Washington Times).

Patung Liberty selalu menjadi destinasi wisatawan yang hendak mengunjunginya sebagai corak khas asli Amerika Serikat. “Liberty Enlighting the World”, itulah yang dikatakan orang-orang Amerika tentangnya, sebab patung ini seakan memberi tahu kepada dunia bahwa negeri Paman Sam ini adalah tuan rumah kebebasan dan menyambut pelancong yang datang dari arah timur Amerika. Tapi, tahukah kamu? Bahwa patung yang kokoh berdiri di pulau Liberty-New York ini sebenarnya dimaksudkan untuk menggambarkan seorang petani muslimah yang melindungi Terusan Suez?

Awalnya patung Liberty adalah patung yang dipesan oleh penguasa Mesir, Said Pasha (1854-1863) untuk menjadi maskot Terusan Suez sebelum menjadi hadiah masyarakat Perancis untuk Amerika. Namun, sebelum pembuatan monumen itu selesai, Said Pasha meninggalkan kekuasaannya dan digantikan oleh Ismail Khadive Pasha. Ismail Khadive Pasha menangguhkan pesanan patung ini karena beberapa hal, salah satunya adalah terlalu mahal.

“Mesir menolak rencana pembangunannya karena memakan biaya yang sangat banyak (mahal),” tulis Jessica Chasmar. Fakta unik ini dilansir dari media Washington Times 26 November 2015, majalah Smithsonian menyebutnya dengan “little known fact”, fakta yang jarang diketahui orang. Sebab, Patung Liberty sudah terlanjur menjadi identitas Amerika Serikat.

Pembuat desain Patung Liberty adalah seorang pemahat patung asal Perancis bernama Frédéric Auguste Bartholdi. Sebelum menjadi patung raksasa yang menggambarkan  sesosok wanita berjubah, Dewi Romawi, dengan membawa obor di tangannya sebagai simbol Libertas yang kini bisa dilihat di pelabuhan New York, Bartholdi menuangkan idenya untuk membangun sebuah monumen raksasa yang menggambarkan seorang petani muslimah pelindung Terusan Suez dengan slogan “Egypt Carrying The Light of Asia” yang akan diberdirikan di gerbang masuk Terusan Suez ketika pembuatannya telah selesai. Bartholdi amat memimpikan monumen berharganya berdiri kokoh di gerbang Suez untuk menggambarkan kemegahan Mesir. Namun, Bartholdi tidak berkecil hati dan kemudian mengubah idenya menjadi konsep yang sesuai dengan gagasan Édouard René de Laboulaye –seorang aktivis anti-perbudakan Perancis, profesor hukum dan politisi, sekaligus kawan Bartholdi- dari “Egypt Carrying The Light of Asia” menjadi “Liberty Enlightening The World”, yang menjadi nama resminya sejak tahun 1886 hingga kini. Gagasan yang ia susun adalah bagaimana jika warga Perancis membangun satu monumen untuk merayakan kemerdekaan Amerika –yang pada akhirnya bertujuan untuk merekatkan relasi antar keduanya- dan apresiasi karena Amerika telah berlepas dari perbudakan.

Give me your tired, your poor,

Your huddled masses yearning to breathe free

Begitulah syair puisi terkenal yang ditulis oleh Emma Lazarus (1883) dan terukir di dasar monumen demi membantu pendanaan pijakan Liberty yang tak bisa dianggap murah. Masyarakat Amerika di New York juga membuka lapak sumbangan untuk membayar pembangunan tumpuan yang akan digunakan untuk melandasi Liberty ketika ia sampai. Pasalnya, Patung Liberty dibagi menjadi 350 bagian besar sebelum dikirimkan ke Amerika untuk kemudian diantar ke kapal negeri Paman Sam.

“Kita takkan pernah lupa bahwa kebebasan telah membangun rumahnya di sini, dan dia takkan mengabaikan tempat yang telah dia pilih.” Ungkap Presiden Amerika Claveland saat upacara peresmian menerima hadiah Liberty mewakili masyarakat Amerika. Sejak itu, secara resmi Patung Liberty menjadi kepunyaan warga Amerika Serikat, simbol kemerdekaan mereka dan menggaungkan kepada dunia bahwa Amerika berdiri di atas kebebasan semua manusia. Kendatipun kebebasan yang mereka suarakan telah dicederai oleh mereka sendiri.

Sejatinya, Mesir memang tidak butuh patung atau monumen berharga selangit untuk menggambarkan kebesarannya. Sebab, kemapanan jiwa begitu indah tanpa menampakkan keagungan materi. Ketika sebuah bangsa memutuskan untuk berislam yang sejati, maka Allah akan membesarkannya dengan cara-Nya yang agung. Allah telah memuliakan Mesir dengan Islam yang lebih mulia dari hal lainnya.

Begitu banyak saksi sejarah yang menyaksikan runtuhnya suatu bangsa hanya dengan materi. Seperti Syah Jahan raja muslim India yang telah rela menghabiskan kas negara untuk membangun Taj Mahal. Akhirnya, ribuan pekerja mati, utang membengkak, ekonomi sulit, dan kelaparan membelit. Bahkan, Syah Jahan dipenjara oleh anaknya sendiri –Sultan Aurangzeb- sebagai hukuman agar ia jera.

Malik bin Nabi –seorang sejarawan al-Jazair- mengatakan bahwa peradaban berada pada puncaknya saat masyarakatnya didominasi oleh nilai-nilai spiritual. Lalu, saat berada pada kondisi stabil, peradaban didominasi oleh nilai-nilai rasional. Dan, peradaban akan menuju kehancurannya saat didominasi oleh nilai-nilai nafsu, syahwat, dan materi. Karenanya, dapat dikatakan bahwa saat peradaban menanjak nilai yang dominan adalah spiritual; saat mendatar nilai yang dominan adalah rasional; dan ketika menurun nilai yang dominan adalah material.

Senada dengan pendapat Malik bin Nabi, Ibnu Khaldun juga menyatakan dalam bukunya, Muqaddimah: “Semakin besar kemewahan dan kenikmatan (hidup) mereka, semakin dekat mereka dari kehancuran, bukan tambah memperoleh kedaulatan. Segala sesuatu yang telah berlalu bersama kemewahan dan tenggelam dalam hidup mudah, merusak pengaruh solidaritas sosial, yang melahirkan kekuasaan. Jika solidaritas sosial binasa, suku tersebut tidak akan mampu lagi mempertahankan diri sendiri, apalagi mengajukan klaim. Mereka akan ditelan bangsa lain. Jelas, bahwa kemewahan merupakan salah satu penghalang untuk mencapai kedaulatan.”

*Penulis adalah pegiat Kajian Ar-Razi IKPM Kairo dan Anggota Markaz Ushuluddin Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here