Home Opini Mutiara Idul Adha: Mentalitas Pengorbanan

Mutiara Idul Adha: Mentalitas Pengorbanan

79
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

“Mending uangnya buat beli hp baru dulu, udah susah cari uang, eman-eman kalo nggak dipake sekarang nanti harganya naik! Kurban bisa besok-besok lagi, tahun depan mungkin!” bisikan mental-mental ‘saya dapat apa’, bukan ‘apa yang saya beri’.

Sejak jauh-jauh hari telah terdengar obrolan ringan atau terlihat ramai di media sosial tentang kurban, agenda menyambut hari raya Idul Adha dan euforia lain yang terlihat dalam berbagai hal. Semuanya menujukkan apresiasi umat Islam terhadap salah satu hari raya besar Islam disamping Idul Fitri beberapa bulan lalu.

Esensi nilai dari suatu ritual pun tidak boleh lepas darinya, begitu pula dalam kesempatan kali ini. Hari Raya Kurban yang bertepatan dengan 10 Dzulhijah dan diteruskan pemotongan hewan kurban hingga terbenamnya matahari pada hari ketiga tasyriq menurut madzhab Syafi’i dan hingga hari ke kedua tasyriq menurut madzhab selain Syafi’i; tak boleh lepas untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari nilai dan pendidikan atas perintah Allah Swt. tersebut.

Meninjau kata kurban secara literal, berasal dari kata qaraba, yang berarti dekat. Sedangkan penambahan alif dan nun menunjukan makna lebih dekat, sangan dekat. Sesuai dengan makna tersebut, melalui kurban menjadikan sarana kita lebih dekat kepada Allah Swt. Untuk itu tidak berlebihan ketika kita sebut sebagai perayaan kedekatan kepada Allah Swt.

Berkurban termasuk fitrah manusia, mengorbankan apa yang dimiliki atas dasar keikhlasan di hadapan Allah Swt. bukan hawa nafsu. Berangkat dari kisah-kisah terdahulu terkait kurban, karena benang merah sejarah tak bisa ditinggalkan. Pendidikan mengenai  keteladanan telah termuat dalam bentuk kisah, begitupula pengaruh dari hal tersebut.

Kurban telah ada sejak sejarah umat manusia pertama kali, yaitu dalam kisah Qabil dan Habil yang mengajukan kurban di hadapan Allah Swt. Antara keduanya ada yang diterima dan tidak, Ibnu Jarir dalam Tafsir Ibn Kastir menjelasakan bahwa Habil mengorbankan  kambing terbaik yang ia sukai, sedangkan Qabil mengorbankan hasil tanaman jelek yang dia sendiri pun tak maui. Begitulah kisah keduanya menggambarkan bagaimana kurban yang diterima dari Habil dan sebaliknya.

Begitupula kisah Nabi Ibrahim as, yang diperintahkan menyembelih buah hatinya yang telah lama dinantikan, Nabi Ismail as. Jika hanya dilihat dari segi rasionalitas, humanitas, dan hak asasi manusia, Nabi Ibrahim as dapat tergoda oleh iblis yang menggodanya. Namun lebih dari itu, Nabi Ibrahim as berada pada kedudukan taslim (menerima ketetapan Allah), taat menjalankan perintah Allah Swt. dengan hati lapang. Yang demikian merupakan pelajaran dari sisi kepatuhan hamba terhadap Tuhannya. Di sisi lain terlihat pula kasihnya Allah terhadap manusia, yaitu mengganti Nabi Ismail as dengan seekor binatang.

Lain ketika kita melihat ke kisah Bani Israil. Ketika mereka diperintahan untuk menyembelih sapi betina, mereka berpaling secara akademis dengan banyak mempertanyakan perintah Tuhan, “Bagaimanakah sapi betina itu? Warnanya? Tolong jelaskan lagi tentang sapi betina itu, karena kami tidak mengetahui!”. Bahkan setelah dijelaskan pun mereka masih bertanya dan hampir tidak melaksanakannya. Sebelum menaati perintah Tuhan, banyak perdebatan yang mereka tanyakan.

Dari kisah pertama dan kedua terlihat perbedaan apa yang diajukan sebagai kurban (pendekatan kepada Allah Swt). Akan tetapi nilai dari yang diperintahkan tertumpu pada keikhlasan dalam memberi dan merelakan yang kita sukai. Yang demikian merupakan salah satu mentalitas pengorbanan dan pemberian.

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (Ali-Imran (3): 92)

Mentalitas ‘apa yang saya beri’, sering kiranya kita mendengar kalimat tersebut yang tak lain sering  digaungkan di berbagai pertemuan dengan pak kyai di PMDG. Tidak berlebihan juga disebut ‘ping sewu’ sebagai bentuk pengulangan agar nilai tersebut masuk ke dalam hati, terpatri hingga diamalkan. Bukan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

‘To give, give and give’, berpikir bagaimana untuk memberi, memberi, dan memberi, bukan berpikir ‘to take’, berpikir sebanyak apa yang didapat. Berbeda dengan mentalitas ‘apa yang saya dapat’, ‘dapat sebanyak apa’.

Begitu pula saat masih menjadi santri dalam pondok, semangat akan tersulut dengan kalimat ‘ke Gontor apa yang kau cari?’ namun setelah setelah pendidikan Gontor ditempuh selama kurang lebih 6 tahun berganti menjadi slogan ‘Ke Gontor apa yang kamu beri?’.

Yang demikian dalam miniatur masyarakat lingkup pondok, dari sinilah nilai kemasyarakatan ditekankan. Ketika kita tarik nilainya dan diterapkan dalam masyarakat, hal tersebut berperan sebagai mentalitas pengorbanan dengan rumus keyakinan ‘min haisu la yahtasib’ atas dasar keimanan, bukan dengan rasional matematika, 5+5+10.

Begitupula dalam kurban dan kegiatan lainnya yang berdasar ‘to give, give and give, not to take’. Dalam momentum kali ini, ritual beribadah dengan berkurban yang dilaksanakan setahun sekali dan terulang menunjukkan makna pengulangan ‘ping sewu’ seperti yang disebut di atas. Tak lain agar ada pelatihan mentalitas pengorbanan yang telah tercermin baik buruknya pada kisah-kisah sebelum kita. Baik mentalitas keikhlasan dalam memberi, memberi apa yang terbaik, taat terhadap perintah Tuhan bukan mendebat secara akademis, hingga keyakinan ‘min haitsu la yahtasib’ kita terapkan dan tidak berpikir ‘saya dapat sebanyak apa’ tapi ‘apa yang saya beri’.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H.

Allahu Akbar Allahu Akbar, La Ilaaha Illa Allahu Allah Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

*Penulis adalah Pimpinan Umum Majalah La Tansa periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here