Home Artikel Nabi Khidir dan Nabi Musa; Refleksi Perjalanan Menuntut Ilmu

Nabi Khidir dan Nabi Musa; Refleksi Perjalanan Menuntut Ilmu

119
0

Oleh: Habib Maulana*

Jika kita telisik lebih dalam, hampir sebagian isi dari Al-Qur’an berupa cerita. Bukan hanya kisah kehidupan Rasulullah, melainkan banyak dongeng masa lalu (asathir al-awwalin) yang diabadikan di dalamnya. Kisah yang berada dalam al-Qur’an bukanlah hanya dongeng belaka, melainkan kisah yang sarat akan hikmah.

Cerita merupakan salah satu metode Al-Qur’an dalam menyampaikan hikmah dan pembelajaran. Tujuan dari setiap kandungan cerita dimaksudkan sebagai peneguh keimanan dan dapat menumbuhkan ketakwaan di diri seorang hamba.

Di hari Jum’at yang mulia ini, terdapat banyak amalan-amalan sunah yang memiliki keutamaan. Di antaranya, membaca surat al-Kahfi di hari Jum’at yang memiliki keistimewaan tersendiri. “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi [ada hari jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua jum’at.” (HR. Nasa’I dan Baihaqi)

Dalam surat al-Kahfi sendiripun mengandung banyak kisah mengandung hikmah, seperti  ketakwaan Ashabul Kahfi, kisah dua orang penjaga kebun, perjalanan hikmah Nabi Musa dan Khidir dan kisah Dzulqarnain dan Yajuj Majuj.

Sebagai penuntut ilmu, sangat kurang rasanya jika melakukan amalan sunah hanya dengan membaca surat al-Kahfi, dan dicukupkan sampai di situ saja. Kandungan yang kaya akan hikmah, seharusnya bisa menjadi ajang mentadaburi setiap ayat demi ayatnya, apalagi dalam surat ini terdapat kisah perjalanan menuntut ilmu Nabi Musa kepada Khidir.

Dalam ayat 66 surat Al-Kahfi Allah berfirman, “Musa berkata kepada Khidir, bolehkah aku mengikutimu supaya kamu bisa mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?”

Permohonan Nabi Musa kepada Nabi Khidir inilah yang menyiratkan upaya Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidir. Kisah ini sangat cocok untuk direfleksikan bagi setiap penuntut ilmu.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Imam Bukhari menjelaskan latar belakang kepergian Nabi Musa untuk menuntu ilmu kepada Nabi Khidir dengan menafsirkan ayat tadi dengan sebuah hadits. Kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra, bahwasanya ia mendengar Rasulullah bercerita,

“Ketika Musa berada di tengah-tengah kaum, Bani Israil, datanglah seorang lelaki bertanya kepada Musa, “Apakah ada yang lebih alim daripada engkau wahai Musa?” Musa menjawab, “Saya tidak mengetahuinya!” maka Allah memberikan wahyu kepada Musa, “Ada yang lebih alim darimu, yaitu Khidir” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk belajar kepada salah seorang alim dari hambaNya. Kepergiannya untuk menuntut ilmu didasari oleh perintah Tuhannya untuk menuntut ilmu. Perintah Allah kepada Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidir bukan berarti ia tak memiliki pembekalan ilmu yang cukup untuk menyampaikan risalah Tuhan. Melainkan perjalanan bergurunya kepada Nabi Khidir suatu bentuk  kepatuhan terhadap perintah Allah.

Setelah mendapatkan wahyu dari Allah bahwa ada seorang yang lebih alim dari dirinya, Musa memohon kepada Allah untuk menunjukan kepadanya keberadaan hamba itu. Lalu Allah mengisyaratkan tanda-tanda keberadaannya dengan sebuah ikan (al-Huut).

Bekal dan Rintangan dalam Menuntut Ilmu

Dengan petunjuk yang diberikan itu, Nabi Musa pergi bersama pelayannya untuk mencari hambaNya itu. Tekad dan kegigihan Musa telah Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata, aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua lautan atau aku akan berjalan selama bertahun-tahun.”

Kegigihan dan tekad adalah modal utama yang perlu dimiliki penuntut ilmu. Hal inilah yang menjadikannya tak goyah walaupun diterpa berbagai ujian dan cobaan. Ibnu Hajar berkomentar tentang perjalanan Muda untuk mencari ilmu, bahwa jalan yang ditempuh olehnya sangat berat. Jalan panjang yang ditempuh untuk sampai kepada Khidir berupa lembah, gunung dan lautan. Kegigihanlah yang tak menggoyahkannya walaupun dihadapkan dengan rintangan.

Setelah beberapa lama berjalan, mereka kelelahan dan beristirahat di sebuah batu yang besar. Merasa keduanya cukup beristirahat, mereka pergi meninggalkan bebatuan besar itu dan melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, pelayan Musa mengingat sesuatu yang telah ia lupakan ketika melewati bebatuan tempat mereka beristirahat,“Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu. Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kepadamu kecuali perbuatan syaitan. Ikan itu mengambil jalan ke laut dengan cara yang aneh.” Ia mengingat bahwa ikan yang dicari -tanda keberadaan orang alim, telah ditemukan. Namun, pelayan itu lupa mengatakannya kepada Musa.

Dalam proses mencari ilmu, syaitan selalu menghalangi para penuntut ilmu untuk sampai pada tujuan awal; menuntut ilmu. Hal inilah yang perlu disadari oleh setiap thaalib, bahwa dalam proses mencari ilmu, syaitan akan senantiasa mengganggu dan berupaya menjauhkannya dari proses itu.

Tekad dan kegigihan lah yang membawa Musa kembali ke batu yang telah jauh ia lewati. Modal awal itu yang dimiliki Musa untuk berguru kepada Khidir, sehingga upaya syaitan mengganggu Musa untuk menuntut ilmu tak membuatnya goyah dan  melenceng dari tujuan awal.

Setelah menemukan orang alim itu, hal pertama yang dikatakan oleh Musa bukanlah “Allah memerintahkanku berguru kepadamu, Khidir!” melainkan, “Bolehkah saya mengikutimu untuk mempelajari apa yang telah diajarkan kepadamu?”

Kedua-duanya memiliki arti yang berbeda. Kalimat pertama mengindikasikan tujuan kedatangan Musa yang dipengaruhi oleh hal eksternal selain dirinya. Berbeda dengan kalimat kedua, permohonan yang diajukan Musa menunjukan kemurnian niat yang berasal dari dalam dirinya, bukan atas dasar faktor eksternal yang memaksanya melakukan itu.

Ketulusan dalam hati untuk menuntut ilmu lah yang seharusnya dimiliki setiap orang yang menapaki jalan keilmuan. Mencari ilmu memang perintah dari Tuhan dan setiap muslim dan muslimah diwajibkan atasnya. Tetapi langkah kaki penuntut ilmu tetap harus didasari ketulusan dalam hati; setelah berniat menjalankan perintah Allah berupa menuntut ilmu.

Sebelum memberikan izin untuk mengikutinya, Khidir memberikan syarat kepada Musa untuk tidak bertanya sepatah kata pun atas apa yang dilakukannya selama perjalanan. “Jika kamu ingin mengikutiku, janganlah bertanya kepadaku tentang sesuatu sampai aku memberitahukan (alasan) kepadamu.” Setelah mengiyakan perintah gurunya, mereka berdua pergi mengarungi samudra hikmah Tuhan.

Kepatuhan atas semua yang diperintahkan guru merupakan salah satu perkara penting dalam menuntut ilmu. Kepatuhan akan mengantarkan kepada keikhlasan dan keridhan guru, sehingga ilmu yang diberikan mendapatkan berkah.

Kedudukan Ilmu

Apa yang mengantarkan Musa untuk berguru kepada Khidir? Tentunya karena Allah memerintahkan Musa. Kenapa Tuhan memerintahkan Musa untuk berguru kepada Khidir? Padahal secara kedudukan, Musa adalah Nabi dan Rasul yang melebihi kedudukan Khidir. Tetapi Allah malah memerintahkan Musa untuk berguru kepada Khidir.

Sebelum berguru kepada Khidir, Musa sudah terlebih dahulu mendapatkan ilmu syariat yang telah diwahyukan kepadanya. Namun banyaknya ilmu yang dimiliki Musa tetap mengharuskannya bersikap tawadhu’ dan khudhu’ di hadapan gurunya, Khidir. Sikap yang diterima Khidir dari Musa menunjukan adanya kedudukan yang lebih besar dari derajat kenabian Musa. Hal itu adalah ilmu.

Allah memerintahkan Musa mencari Khidir karena ilmu yang dimilikinya lebih dari Musa (atas kehendak Allah). Pada kisah yang menceritakan ketidaksabaran Musa dengan hal yang dilakukan oleh Khidir, menunjukan ketidaktahuannya atas suatu perkara yang diketahui Khidir (dengan ilmu Allah).

Kedudukan Ilmu lah yang mengharuskan Musa untuk tunduk dihadapan orang –yang Allah kehendaki- lebih alim darinya. Allah menaruh kedudukan ilmu dengan derajat yang tinggi, sehingga siapapun yang memiliki ilmu akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi pula. “Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang belilmu beberapa derajat.”

Hal inilah yang perlu disyukuri para penuntut ilmu, bahwa mereka masih diberikan petunjuk untuk berpotensi mendapatkan derajat yang tinggi di hadapan Allah dengan ilmu. Tetapi hal penting dari kedudukan itu adalah keridhaanNya. Patuh atas perintahNya akan mengantarkan kepada ridhaNya. Ridha Allah yang seharusnya menjadi niat untuk menuntut ilmu.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Syariah Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here