Home Al Azhar Nabi Muhammad di Mata Pemikir Barat

Nabi Muhammad di Mata Pemikir Barat

456
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Prolog

November 2011, Majalah satire Charlie Hebdo di Paris, Prancis, membuat cover bergambar kartun seorang laki-laki berbaju khas timur tengah (Nabi Muhammad Saw) yang mengatakan, “100 cambukan jika Anda tidak mati ketawa!” Bulan selanjutnya, Desember 2011, tabloid itu memuat kartun pria berbaju timur tengah yang berciuman dengan lelaki berkaos “Charlie Hebdo” dengan sebuah tulisan “Cinta lebih kuat dari kebencian

Di tahun 2013 nya, Charlie Hebdo memuat sampul bergambar kartun seorang laki-laki yang mejadikan al-Quran sebagai tameng untuk menghadang serangan peluru. Tulisan sampul itu adalah “al-Quran itu sampah, tidak bisa menyetop peluru”. 1 Oktober 2014, majalah itu kembali membuat kartun Nabi Muhammad yang hendak dipenggal oleh misi ISIS.

Penghinaan Charlie Hebdo terhadap Nabi Muhammad bukanlah peristiwa baru di barat modern. Pada September 2005, Surat kabar Jyllands-Posten menerbitkan 12 kartun sosok Nabi Muhammad. Selain Kartun, penghinaan terhadap Nabi juga ditampilkan dalam pembuata film yang berisi gambaran negatif tentang Nabi dan Islam seperti film “fitna” yang diproduksi Belanda dan “Innocence of Muslim” milik Amerika. (hidayatullah.com)

Setiap kali terjadi penghinaan nabi Muhammad, setiap kali itu pula Umat Islam sedunia beraksi melakukan penolakan. Pasca rilisnya kartun penghinaan Charlie Hebdo, umat Islam sedunia melakukan aksi turun ke jalan menuntut Barat menghentikan penghinaan tersebut, khususnya di Prancis. Namun seringkali perjuangan itu diabaikan begitu saja dengan perlakuan tak adil.

Objektifitas Pemikir Barat

Dari data di atas, saya bukan hendak membahas kontroversi yang disajikan Charlie Hebdo secara khusus atau barat secara umumnya. Melainkan hendak mengajukan pertanyaan singkat tentang: Apakah peristiwa ini semua dapat merepresentasikan pandangan barat akan Nabi Muhammad? Atau barat tidak bisa digeneralisir pandagannya terkait Nabi? Artinya di sana ada sejumlah orang, bahkan dari ilmuwan dan sarjana mereka, yang menjunjung tinggi Nabi Muhammad sebagaimana orang Islam.

Ya! Pendapat kedua inilah yang diamini oleh cendekiawan Mesir kontemporer, Muhammad Imarah. Menurutnya, untuk menilai barat, kita bisa menggunakan konsep al-Qur`an yang berbunyi: “laisū sawā`” (mereka semua tidaklah sama). Barat, yang dalam hal ini adalah tokoh dan cendekiawannya, tidak bisa kita pukul rata tentang pandangannya akan Nabi Muhammad. Meskipun tak bisa dinafikan ada sejumlah tokoh yang memperkeruh citra Nabi Muhammad di sana.

Selain fakta di atas, sejumlah tokoh di abad pertengahan sudah banyak yang menyerang Nabi. Thomas Aquinas, misalnya, pernah berkata bahwa Muhammad adalah orang yang ‘menyesatkan’ bangsa lain lewat janji syahwatnya. Ada juga Marthin Luther, pelopor Kristen Protestan di barat, yang dengan kejinya berkata al-Quran adalah kitab paling terkutuk, paling mengerikan, terlaknat, penuh kebohongan, mitos, dan hal-hal mengerikan. Ia pun menasihati para pengikutnya untuk memalsukan persepsi al-Qur`an dan mengajak pengikutnya untuk menggunakan gambaran palsu dalam menerjemahkan al-Qur`an untuk mencemarkan Muhammad dan membahayakan umat Muslim. (Dr. Izzudin Farag: XVII)

Karenanya, untuk membuktikan perbedaan pandangan tokoh Barat terhadap Nabi Islam, seorang pakar Sains berkembangsaan Mesir, Izzudin Farag, menulis kitab bertajuk “Nabiyy al-Islām fi Mir`āt al-Fikr al-Gharbiy” (Nabi Islam dalam kacamata Pemikir Barat). Ia berusaha membeberkan berbagai pendapat pemikir barat yang objektif terhadap Nabi Muhammad.

Izzudin melakukan riset terhadap berbagai ilmuwan yang memiliki pengaruh di barat terkait pandangannya soal Nabi. Ia menghadirkan pendapat sarjana lintas Negara; Inggris, Perancis, Amerika, Rusia dan India.  Tokoh-tokoh yang dijadikan sampel pun bukan sembarangan. Sebut saja Bernard Shaw (w. 1856 M) tokoh seniman, kritikus, serta orator Inggris; Leo Tolstoy (w. 1910 M) seorang politisi Rusia yang pernah menulis tentang Nabi Muhammad secara objektif; Mahatma Ghandi, pemikir besar India yang pernah memberikan pidato legendaris yang berisi kekagumannya pada Nabi saat acara Maulid Nabi ; juga tokoh lainnya.

Masing-masing mengungkapkan isi hatinya tentang sosok Muhammad. Sebagai contoh, Bernard melihat secara objektif bagaimana Muhammad mereformasi bangsa Arab. Ia mengakui bahwa arab mengalami perubahan pesat setelah datangnya dakwah Muhammad. Setelah hadirnya Nabi, Bernard melihat bangsa arab sebagai manusia yang baru yang menjunjung kesetaraan. Mereka tidak membedakan antara arab dan non-arab. Yang menjadi patokan, kata Shaw, adalah ketaqwaan dan amal salih. Saking kagumnya, ia mengatakan:

Saya meyakini bahwa orang seperti Muhammad, jika diberi tampak kekuasaan di seluruh dunia, maka ia akan sukses dalam kekuasaanny;, ia akan memimpin dunia menuju kebaikan dan memberikan solusi atas segala persoalan dunia dengan solusi yang penuh kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan yang diharapkan bagi alam semesta,”

Bernard mengkaji Nabi Islam secara rinci. Sampai Ia pun menulis sebuah surat yang menjelaskan pandangnya tentang validitas berlakunya agama Muhammad di manapun dan kapanpun. Ia mengakui agama Islam dapat hadir di kehidupan yang berbeda-beda.

Ada lagi Thomas Carlyle (w. 1881 M), seorang filsuf Inggris, yang meneliti kisi-kisi tersebarnya dakwah Muhammad. Menurutnya, tidak betul kalau Islam tersebar dari Muhammad lewat pedang. Untuk membela itu ia mengatakan bahwa perang adalah bentuk pertahanan Rasul akan diri dan kepentingan dakwahnya. Seakan kondisi saat itu menegaskan: “Jika memang bangsa Quraisy tidak menginginkan kecuali perang, maka lihatlah siapa kami sebenarnya!” begitu Carlyle menggambarkan bagaimana dahsayatnya ancaman yang dialami Nabi dalam dakwahnya.

Hal senada juga diucapkan oleh orientalis Prancis bernama Count Henry deCastries dalam bukunya bertajuk “L’Islam”:

Tatkala para pengikut Nabi Muhammad Saw menggunakan jalur penaklukan, saya kira itu adalah hal yang wajar dan tidak ada masalah. Al-Quran menyebarkan sayapnya ke arah Syam hingga Afrika Utara, namun sama sekali tidak meninggalkan dampak ketidak-adilan dan penganiyaan di dalamnya. Mereka tidak membunuh bangsa yang menolak masuk Islam.”

Bahkan yang lebih dahsyat lagi, bukan hanya satu atau dua tokoh, namun sekumpulan ilmuwan barat harus terkagum-kagum dengan Muhammad dalam sebuah Konfrensi Internasional.

Pada tahun 1928, Konfrensi Internasioanal Anti-Alkohol ke-19 digelar di Belgia. Topik yang dibicarakan adalah: (i) apakah khamr berguna untuk menghangatkan atau tidak (ii) apakah khamar merupakan obat atau justru penyakit (iii) apakah pelarangan minum khamr termasuk merampas kebebasan publik.  

Setelah diskusi panjang, berdirilah delegasi Mesir dan menyampaikan pendapatnya berupa perkataan Nabi terkait Khamar, yang mana semuanya adalah perkataan yang sudah selesai dibahas sejak 1400 tahun lamanya. Perkataan ini terabadikan dalam buku-buku hadis. Setelah menyimaknya, para cendekiawan pun terkesima dan terkejut dengan fakta tersebut. Ternyata Muhammad sudah membahas ini jauh sebelum mereka membahasnya. Diskusi pun selesai, dan saking kagumnya salah satu dari mereka pun berteriak dengan lantang: ‘Nabi kalian adalah seorang ilmuwan biologi!

Penutup

Begitulah objektifitas barat akan Nabi Muhammad. Benarlah apa yang diasumsikan oleh Muhammad Imarah bahwa barat tidaklah sama dalam pandagannya akan Nabi. Yang saya sajikan di atas hanyalah segelintir saja. Di sana ada banyak ilmuwan yang menyanjung Nabi Muhammad namun tidak kami hadirkan semuanya disini.

Terakhir, Muhammad Imarah menyampaikan, bahwa seluruh kesaksian di atas dapat membantu nalar seorang muslim untuk membantah segala tuduhan terhasap Islam serta rasulnya. Sebab metodologi seperti ini, yakni konsep ‘kesaksian orang dalam’, merupakan siasat yang diajarkan oleh al-Quran, yaitu dalam ayat (wa syahida syaahidun min ahliha) yang ada di surat Yusuf ayat 12.

Mereka yang menghina Nabi Muhammad bisa dipastikan bungkam jika tokoh-tokoh mereka saja memuji dan menyanjungnya. Mereka pun akan berpikir dua kali untuk menghina Nabi. Dan inilah hakikat kebenaran, mau bagaimanapun disembunyikan dan disimpan, ia akan tampak dan tercium sendirinya. Ajaran Islam bersifat universal. Siapapun dan kapanpun pastinya dapat menerima ajaran ini. Andai mereka yang menghina Nabi mau membuka hati dan pikirannya sedikit saja, mereka bisa dipastikan kagum dan senang terhadapnya. Jika orang di luar Islam saja mengakui keapikan sang Nabi, maka sudah seharusnya kita sebagai orang Islam lebih dari mereka semua. Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad.

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad 1431 H

*Penulis merupakan Ketua Rumah Tahfidz Mesir (RTM) dan mahasiswa Jurusan Tafsir dan Ulumul Qur`an Universitas Al-Azhar, Kairo.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here