Home Artikel Ngebucin Bareng Bani Udzri

Ngebucin Bareng Bani Udzri

258
0

Oleh: Habib Maulana*

Salah satu shalawat yang sering dilantunkan oleh masyarakat islam adalah lantunan syair Burdah Imam Bushiri. Sebenarnya penisbatan Burdah kepada syair-syair  Imam Bushiri telah didahului oleh salah seorang sahabat, Kaab bin Zuhair, dalam Qashidah Banat Su’ad.

Qasidah Burdah ini terdiri dari beberapa unsur yang melengkapinya. Ia berisi tentang syair kepada kekasih, kerinduan dan cinta. Sambungan berikutnya berisi tentang peringatan akan terjerumus ke dalam hawa nafsu. Bagian lainnya hingga akhir bait adalah pembahasan tentang kisah hidup Rasululah.

Dalam beberapa bait yang membahas tentang kekasih, kerinduan dan cinta, pembaca Burdah akan menemukan salah satu bait yang memberikan perhatian khusus terhadap salah satu kabilah Arab, ia adalah Bani Udzri.

يا لائمي في الهوى العذري معذرة  #  مني إليك ولو أنصفت لم تلم
Wahai engkau yang mencaciku lantaran cintaku yang terlampau dalam. Seandainya engkau merasakan cinta yang aku rasakan, engkau tak akan mencaciku.

Idiom hawa al-Udzri biasanya diungkapkan untuk menggambarkan sebuah cinta yang dalam, atau biasa didengar hari ini dengan istilah ‘bucin’. Cinta itu dinisbatkan kepada salah satu kabilah Arab, Bani Udzri. Hal yang bikin heran, kenapa Kabilah ini bisa memiliki posisi istimewa di mata Imam Bushiri, selaku pengarang kitab Kawakib Dzuriyyah ini. Sebelum mengambil kesimpulan tentang keistimewaan cinta kabilah ini, kita perlu lihat bagaimana cinta mereka.

Kebucinan pemuda/I kabilah ini membuat salah satu penyair terkenal, al-Asma’i, geleng-geleng kepala, lantaran adanya cinta seperti yang dirasakan oleh Kabilah Bani Udzri.

Suatu ketika al-Asma’i berjalan di kawasan kabilah Bani Udzri. Saat melewati pemukiman itu, ia menemukan sebuah syair seseorang kepada kekasihnya terukir di sebuah batu. Penasaran dengan isi syair yang dituliskan salah seorang dari Bani Udzri, ia mendekat dan mencoba melihatnya dengan jelas,

“Aku adalah jiwa yang menanggung beban yang amat berat. Rindu telah memenuhi jiwaku. Bagaimana aku harus berbuat?”

Mungkin zaman sekarang, jeritan hati orang yang sedang bucin bukan ditampilkan di atas batu, melainkan di postingan atau status media sosial. Menariknya, Asma’I bukanlah tipe orang yang langsung menghujat keuwuan yang terpublish di tempat umum. Alih-alih menghujat, ia malah berkomentar di bawah tulisan yang terukir di batu itu,

“Wahai jiwa yang menderita, tak perlu engkau umbar kerinduanmu. Simpanlah dan tahanlah di hatimu yang paling dalam.”

Selang beberapa lama, komentar yang diberikan oleh sang penyair tadi dibalas oleh pemilik tulisan,

“Bagaimana cara agar aku bisa memendam perasaan itu?”

Dengan santai, Asma’I membalas komentar,
“Seandainya engkau tak mampu menahan kerinduan itu, mintalah kepada Allah agar engkau diwafatkan, agar engkau tak lagi menderita karena kerinduanmu!”

Komentar Asma’I memang terdengar nyeleneh dan sangat terkesan memojokan bahkan menghina sang pecinta tadi, agar meminta diwafatkan atas dasar cintanya kepada seorang gadis. Tetapi bukannya marah dengan komentar Asma’I, lelaki itu justru bilang,

“Baiklah aku akan menuruti nasihatmu. Tetapi satu permintaanku, kirimkan salamku kepada orang yang telah menghalangi cintaku!”

Cerita di atas seolah diaminkan oleh Imam Zarkasyi dalam syarh Burdah Imam Bushiri. Ia menjelaskan kalimat al-Udzri ialah suatu kabilah yang terkenal dengan cinta mereka. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Bani Udzri ini jika ditanyakan kepada mereka asal kabilah, “Siapakah kaliah?”  mereka menjawab, “Kami adalah kabilah yang mana bila mereka merindu, mereka meninggal!”

Urwah bin Hizam, salah satu duta sadboy Bani Udzri pernah ditanya oleh seseorang yang mendatanginya, “Kenapa lelaki dari kaum kalian rela mati hanya untuk seorang wanita? Padahal hal itu merupakan suatu tanda kelemahan yang ada pada diri kalian.”

Dengan lantang lelaki itu menjawab, “Demi Allah, jika engkau melihat tatapan para wanita Bani Udzri, bibir yang menyimpul dan lengkukan alis di atas matanya, niscaya engkau akan menjadikan mereka sebagai sesembahan!”

Mungkin cerita di atas akan disanggah karena terbatas pada perspektif pandangan laki-laki. Seoalah para lelaki melebih-lebihkan cerita kalau mereka sangat cinta mati kepada wanita Bani Udzri. Padahal bisa jadi dalam pandangan wanita sana, lelaki dari kaumnya sama dengan lelaki zaman sekarang. Sok melebihkan kisah cinta mereka, padahal suka PHP!

Apa yang dikisahkan Asmai’I maupun komentar Imam Zarkasyi seolah diaminkan oleh Ibnu Jauzai dalam kitab Raudhah al-Muhibbin. Seorang lelaki, Sufyan bin Ziyad, pernah bertemu dengan wanita dari Bani Udzri. Lelaki itu bertanya kepada wanita itu tentang cinta yang mereka alami,

“Kenapa kerinduan dapat membunuh kalian?” Wanita itu berkata, “Kami memiliki keindahan dan kelembutan. Keindahan mengantarkan kita kepada kesucian. Kesucian mewariskan kelembutan hati. Kerinduan membinasakan umur kita. Kami melihat sesuatu yang tak dapat kalian lihat.”

Iman Bushiri, sebelum beranjak pada bait cinta Bani Udzri, ia lebih dulu menggambarkan bagaimana rindu dalam hati kepada seorang kekasih, Baginda Muhammad Saw, membuatnya merasakan rasa sakit yang mendalam.  Rasa sakitnya digambarkan dengan air mata yang bercampur dengan darah, mengalir membasahi bumi atas kecintaannya kepada seseorang di suatu tempat bernama Dzi Salam dan Idham.

Orang akan mengira, seorang pecinta sangat berlebihan dalam memuji kekasih. Bagaimana tidak, Imam Bushiri pun mengungkapkan kerinduannya dengan bait-bait yang sangat dramatis. Tetapi seperti ingin menggambarkan bagaimana seharusnya rindu seorang pecinta makanya Imam Bushiri mengambil Bani Udzri sebagai symbol cinta dan kerinduan.

Namun, kenapa Imam Bushiri mengambil cinta Bani Udzri di dalam bait-bait syairnya sebagai alegori cinta nubuwat? Apa kelebihan dari Bani Udzri sehingga nama mereka diambil menjadi salah satu bait pujian untuk baginda Muhammad Saw?

Dalam kisah Asma’I dan pemuda Bani Udzri yang cintanya bertempuk sebelah tangan, lelaki itu mengisyaratkan sebuah ketulusan hati dalam mencintai seorang kekasih. Rasa tulus itu membuahkan kemurahan hati untuk memberikan maaf kepada gadis yang telah menghancurkan hatinya. Dengan mudahnya pemuda itu memaafkan cintanya yang tak terbalas, walaupun dengan tetap memendam perasaan yang terluka. Jika cinta yang membuahkan luka, cinta itu pula lah yang mengobati luka itu.

Cinta juga membuat seseorang mengagung-agungkan sang kekasih. Bagaimana tidak, pemuda Bani Udzri menggambarkan paras wanita dari kalangan mereka dengan sebuah keagungan dan keindahan yang tiada banding, hingga mereka menganggap seseorang yang melihat wanita itu akan mengagungkan mereka seperti sebuah sesembahan. Tetapi bukan cinta namanya jika tidak mengagungkan. Bukan cinta jika masih ada ‘tapi’ setelah kalimat pujian.

Bagaimana jika cinta ini diaplikasikan kepada Nabi Muhammad Saw, sebagai seseorang yang sangat berhak mendapatkan pujian dan keagungan. Seperti Ka’ab bin Malik yang sepanjang waktu membasahi bibirnya dengan shalawat. Apakah berlebihan jika memuji baginda sepanjang waktu? Bahkan Rasulullah mengaminkan permintaan Ka’ab untuk bershalawat kepadanya sambil berkata, “Maka semua keinginanmu akan terpenuhi dan dosamu terampuni.”

Selain itu, para wanita dari kalangan Bani Udzri sangat menjaga diri mereka. Menjaga kesucian diri atau biasa disebut iffah,  menjadi ciri khas dari keindahan mereka. Sifat ini yang menjauhkan diri keduanya dari perbuatan zina yang mencoreng kehormatan keduanya. Memang begitulah seharusnya cinta. Ia menjaga jiwa sang pecinta untuk terjerumus kedalam nafsu-nafsu duniawi yang akan mencoreng cintanya. Jika cinta menjerumuskan kepada hal yang mencoreng iffah seseorang, maka itu bukanlah cinta.

Karena alasan inilah kisah cinta mereka sangat emosional dan dramatik. Maka tak heran sang imam mengambil peumpamaan cintanya yang suci untuk baginda Muhammad Saw, dengan cinta suci Bani Udzri. Shalu ala Nabi!

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Syariah Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here