Home Opini Nilai Gontor dan Potensi Santrinya

Nilai Gontor dan Potensi Santrinya

550
1

Oleh: Bana Fatahillah*

Mukaddimah

Roda kehidupan ini teruslah berputar tiada hentinya. Ada yang pergi dan ada yang datang. Ada yang menang ada yang kalah. Ada yang beruntung ada yang rugi. Mereka yang terlihat eksis pada masanya kini hanya menjadi nama dalam catatan sejarah bagi yang hidup di masa kini. Begitupun yang hidup di zaman ini. Bagaimanapun mereka mencoba eksis dalam kehidupnya, kelak mereka akan menjadi nama dan kenangan bagi orang yang datang setelahnya. Begitulah kehidupan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan al-Qirwani dalam sebuah syairnya yang berbunyi:

“Sebab yang lalu itu adalah barang eksis pada masanya, sebagaimana barang eksis sekarang yang akan menjadi sejarah di kemudian hari”.

Al-Qur`an pun mengingatkan kita demikian. Setelah memperoleh kemenangan dalam perang Badar, Umat muslim harus menerima kekalahan dalam perang Uhud. Hal ini karena dalam ayat-Nya Allah mengatakan bahwa kekalahan dan kemenangan itu Ia pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapatkan pelajaran. (Qs. Ali Imran [4]: 140). Dan begitulah kehidupan. Terus berputar dan berjalan. Akan selalu ada pergantian dari masa ke masa.

Namun, di tengah gejolaknya perputaran dan perubahan dunia ini, ada satu hal yang tidak boleh berganti dan terus hadir eksistensinya. Hal ini bertujuan agar apa yang ditinggalkan pada setiap masanya tidak hanya menjadi  sesuatu layaknya ukiran pasir di tepi pantai yang hilang begitu saja di terpa ombak. Hal itu adalah sebuah “Nilai”. Dan inilah yang menjadikan Gontor terus eksis lebih dari 90 tahun atau sejak 1926 hingga saat ini.

Nilai Gontor dan Potensi Santrinya

Jika ada adagium yang mengatakan bahwa orang mesir akan berkumpul dengan keluarga besar mereka di hari pertama puasa, maka ketahuilah, hal tersebut bukan sekedar adigium biasa bagi keluarga IKPM Kairo pada puasa pertama kali ini. Pasalnya kami, seluruh warga IKPM Kairo, mengadakan Silaturrahim Akbar sekaligus buka puasa bersama Pimpinan Pondok pada hari Senin (6/5) atau yang bertepatan dengan satu ramadhan awal mulai puasa.

“Nilai-nilai gontor tidak akan diperjualbelikan apalagi digadaikan oleh pondok!” begitulah kalimat Pak Hasan di tengah pidatonya.

Pak Hasan ingin menjelaskan bagaimana pentingnya sebuah nilai yang diterapkan oleh gontor kepada santrinya. Dan sekali lagi ini adalah salah satu rahasia kenapa keberadaan Gontor terus kokoh bagaimanapun rintangan zaman yang menerpanya. Atau dalam analogi lain, bagaimanapun keadaan cuacanya, siapapun masinisnya dan siapapun penumpangnya, kereta api harus terus berjalan di atas rel-rel yang sudah tetap dan paten. “jangan sampai keluar dari rel” begitulah yang sering disampaikan oleh pimpinan PMDG dalam pidatonya.

Karena nilai dan sistem inilah para santri Gontor bisa berselancar,  bernafas serta menebar manfaat dan kebaikan di bumi manapun ia ditempatkan. Di seluruh penjuru dunia, kata Pak Hasan, kalian akan menemukan alumni-alumni Gontor bertebaran di setiap sektornya; di Amerika, London, Mesir, Arab Saudi, Australia dan lain sebagainya. Dari yang menjadi mahasiswa hingga yang bekerja di kedutaan-kedutaan.

lah, saya ini mau nanya. Memangnya yang menjadi local staff KBRI, DPR, Atase Pendidikan, ataupun pejabat-pejabat lainnya, itu siapa yang didik mereka untuk menjadi seperti itu. Kalau bukan karena nilai dan potensi yang kalian miliki, ini semua tak akan dapat kalian emban!” tegas pak Hasan.

Ibarat seorang ayah dari anak-anaknya, Kyai Hasan ingin para santrinya menyadari bahwa dalam diri mereka terdapat potensi yang amat besar yang telah Gontor berikan pada mereka. Seorang ayah pun ingin nilai yang sudah ditanamakan dalam diri anak anaknya–dalam hal ini adalah panca jiwa- terus dipegang teguh di dalam sanubari mereka, sehingga dimanapun berada kelak mereka tetap mempunyai prinsip dan tujuan dalam hidupnya.

Kalian itu berpotensi nak. Buka wawasan kalian dan rasakanlah bakat-bakat yang terpendam dalam dirimu,!  lanjut beliau. Jika di bumi saja ada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka di dalam dirimupun seharusnya ada. Dan hal itu adalah potensi mu. Wa fii anfusikum afala tubshirun. (dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?!) (Qs. Al-Dzariyyat [51]: 20-21).

Dengan potensi dan panca jiwa yang ada pada dirimu, lanjut pak Hasan, kalian akan mewarnai dirimu, masyarakat juga lingkunganmu. Maka inilah sebenarnya tugas gontor, meng-eksplorasi potensi-potensi dalam jiwa santrinya. Menjadikan mereka semua sebagai seorang pelopor dan perintis, bukan malah mendidik mereka menjadi anak-anak dengan mental ‘ikut-ikutan’ yang kerjaannya hanya meniru ataupun menjiplak orang lain–bukan itu, bukan. Maka dari itu jangan sampai pola hidupmu mudah terseret pada kehidupan orang lain yang tak berprinsip.

Dengan seluruh potensi ini jugalah santri gontor bergerak di masyarakat kelak. “Tapi ingat nak! Dalam seleksi masyarakat nanti akan terlihat mana yang benar-benar ‘emas’ dan mana yang sekedar batu pahatan saja. Dan jangan pernah sesekali mengeluh dengan tantangan yang menghadang kalian, sebab dengan seperti inilah yang akan mengantarkan kita kepada pintu neraka ataupun surga. Bukankah para Nabi terdahulu turut diuji dengan tantangan seperti ini, sehingga terlihat mana yang menuju jalan kebaikan mana yang sebaliknya. Minkum man yurid al-Dunya wa minkum man yurid al-Akhirah. Inna hadainahu al-Najdain imam syaakiran wa imam kafuura.” Ujar putra pendiri Gontor tersebut.

Nasehat ini bukan hanya retorika semata dari seorang Kyai. Ujaran ini sudah terbukti sekian lama. Pak Kyai bercerita bahwa dalam kunjungannya ke belahan dunia manapun beliau pasti bertemu dengan para alumninya. Terakhir, saat pergi ke Amerika, ia bertemu dengan alumninya yang menjabat sebagai wakil sala satu bank Indonesia di Washington. Bahkan saat menjadi mahasiswa di al-Azhar, ia mengatakan, bahwa acara apapun belum -bahkan tidak akan-berjalan kalau anak gontornya tidak ada. Pemain bolanya ya wong gontor. Local staffnya ya wong gontor. Pokonya semuanya gontor deh.

“Tapi lagi-lagi ingat nak, kalian tidak boleh sekali-kali sombong!” sebab yang seperti kalian di mesir ini banyak, baik dari segi potensi, akademisi, kecakapan dsb. Kalian pun sering mendengar ucapan yang berbunyi “yaa dakhila mishr! Man mitslukum katsir!.” (Hei yang ada di Negri Mesir, yang sepertimu itu banyak lo di sini). Karenanya, maka pesan Kyai Hasan adalah: “JADILAH ORANG YANG BESAR HATI DAN JIWANYA BUKAN BESAR MULUT DAN KEPALANYA”

Jika boleh saya tafsirkan, dalam perkataan ini maksud pak Hasan adalah: warnailah dunia ini dengan segala potensi yang kalian miliki. Lakukanlah berbagai inovasi dan kreasi dengan kemampuan tersebut. Tapi ingat, jangan sekali-kali merasa sombong dan congkak. Jangan menjadi orang yang hanya banyak bicara namun sedikit berbuat (besar mulut), atau bahkan banyak berbuat namun tidak mau mendengarkan masukan ataupun kritikan dari berbagai pihak (besar kepala).

Terkait ini pun saya jadi ingat pesan Dr. Muhammad Abu Musa dalam kitabnya Min Madakhil al-Tajdid. Dalam kitab tersebut, profesor dan pakar dalam bidang balaghoh tersebut berkata: lakukanlah pembaruan tanpa harus sibuk mendisukiskan kata pembaruan itu sendiri. Lakukanlah perbaikan tanpa banyak bicara bagaimana perbaikan itu. Sebab di dunia ini banyak yang sudah mengerahkan kemampuannya untuk melakukan berbagai inovasi baru tanpa harus menyoal permasalahan pembaruan, yakni tanpa harus banyak bicara.

Dan inilah mengapa di tengah pidatonya pak Hasan berkata terkait hal ini: “Jangan terlalu sibuk meributkan perbedaan. APA YANG KALIAN SUDAH PERBUAT DALAM HIDUP INI?” Atau sederhananya, kalian ini ngapain koar-koar oerbedper sana sini, padahal kalian ini saja belum berbuat apa-apa dalam hidup ini.

Maka dari sini teranglah sudah apa maksud dari nilai gontor yang bersemayam dalam potensi para santrinya. Potensi di sini pun tidak berarti menafikan potensi dalam menuntut ilmu. Inilah mengapa di akhir nasihatnya beliau berkata: “teruslah bersemangat dalam menuntut ilmu. Nikmati masa-masa indahmu dalam menuntut ilmu. Sebab sebaik-baik masa adalah masa dimana kamu menuntut ilmu.” Sebab sedari dulu santri gontor  sudah ditanamkan untuk memiliki pengetahuan yang luas, sebagaimana yang tertera dalam panca jiwa.

Penutup

Perlu kita ingat, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang ada di Nusantara ini. Pesantren adalah bentuk responsif masyarakat Indonesia yang kental dengan muatan agama terhadap penjajah yang kala itu berusaha menjadikan masyarakat lupa akan tuntunan agamanya. Gontor adalah salah satunya. Maka dari itu bersyukurlah telah menjadi salah satu bayi yang keluar dari rahim gontor. Banyak yang menginginkan posisi Anda saat ini, baik menjadi santri gontor ataupun mahasiswa al-Azhar.

Kenapa di atas saya bilang ‘bayi’? sebab ketika keluar dari gontor kita ibarat bayi atau balita yang akan meraba banyak hal di luar sana. Gontorlah yang memberikan kita bermacam pendidikan sehingga kita bisa tampil di bumi dimana kita ditempatkan. Jika ingin diibaratkan, gontor ibarat seorang ibu yang memberikan banyak asupan pada buah hatinya. Ia memberikan kunci yang dengannya kita bisa membuka banyak pintu. Ia memberikan kail sehingga dengannya kita bisa memancing aneka ragam ikan di lautan yang amat luas. Maka dari itu jangan pernah lupakan ibu kita. Dan jika ibu memanggil, segeralah kembali ke pangkuannya.

*Penulis adalah Pimpinan Redaksi Majalah Latansa periode 2017-2018

1 COMMENT

  1. Hanya orang penting yang memahami arti kepentingan… Hanya pejuang yang mengerti arti perjuangan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here