Home Artikel Nilai ‘Izzah dan ‘Iffah Muslimah Merdeka

Nilai ‘Izzah dan ‘Iffah Muslimah Merdeka

122
0

Oleh: Anisa Zahrah

Datangnya Islam di Jazirah Arab saat itu punya andil besar dalam merubah harkat dan martabat seorang wanita. Tidak di barat atau pun Timur, wanita punya posisi dan hak yang tidak setara dengan pria. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya. Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di Persia, india dan negeri-negeri lainnya.

Kemudian cahaya Islam pun terbit menerangi kegelapan itu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerangi segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak manusia tanpa terkecuali. Datang memerdekakan dan menyetarakan hak dan kewajiban seorang wanita sesuai dengan Fitrahnya. memberikan ‘izzah dan ‘iffah. ‘Izzah adalah sebuah harga diri mulia nan agung yang harus ada dan menghiasi setiap relung jiwa seorang muslimah.

‘Izzah merupakan kemuliaan, kehormatan dan kekuatan. Mereka yang memiliki ‘izzah  itu bersumber dari Allah Rabbul ‘Alamiin. Karena pada dasarnya, hanya Allah lah yang sebenar-benarnya pemilik ‘izzah, menamai dirinya ‘Al-Aziz’ (Maha Mulia, Maha Perkasa). ‘Izzah diberikan kepada makhluk-Nya sesuai pendekatannya kepada Rabbnya. Semakin dekat dengan Allah, maka manusia semakin memiliki ‘izzah. Makhluk yang paling dekat dengan Allah adalah para Rasul kemudian orang-orang mukmin.

 “’Izzah itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS Al-Munafiqun 63:8)

Sedangkan ‘iffah adalah menahan. ‘Iffah secara istilah artinya menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang ‘afif adalah yang menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut.

‘Izzah dan ‘iffah adalah akhlak tinggi dan mulia yang dicintai oleh Allah. Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Allah yang shalih, senantiasa memuji keagungan Allah, takut pada siksa serta murka Allah dan selalu mencari keridhoan pahala-Nya.

Akan tetapi melihat kenyataannya saat ini, sangat berbanding terbalik, mereka tidak memiliki kebanggaan sedikitpun dengan Islam bahkan beberapa ada yang meninggalkan Islam. Sebagai gantinya mengambil apa yang datang dari barat dan timur, seperti buih yang terombang-ambing di lautan, tidak memiliki ‘izzah.

Tidak adanya ‘izzah menjadikan penyakit. Obat yang dapat menyembuhkan hanyalah Al-Qur’an yang menjadi syifa’ bagi manusia umumnya dan muslim khususnya.

Kita mungkin mampu menguasai ‘izzah dan ‘iffah kita di dunia nyata, tetapi tidak sedikit yang mampu mempertahankannya di dunia maya. Hijab yang begitu anggun terjaga dari lawan jenis, sangat mudah terumbar di dunia maya, tak ada lagi yang tersisa dari rasa malu yang kita miliki di dunia nyata, hilang begitu saja terjual murah. Malu ketika dipandang oleh lawan jenis, tetapi tak malu fotonya terpampang, dimiliki dan dipandangi setiap saat oleh lawan jenis di media sosial.

Ketika hati sudah terpaut pada dunia maya hingga mata dan hati tidak lagi melihat sebuah ‘iffah dan ‘izzah yang seharusnya dipertahankan. Demikian Islam telah menempatkan wanita di tempat yang mulia, namun mereka sendirilah yang menghilangkan ‘izzah dan ‘iffah mereka.Bukanlah suatu kemuliaan jika seorang muslimah mudah didekati banyak lelaki, mudah digoda, diberi perhatian dan mudah diajak hang out ataupun melanggar perintah Allah. Kemuliaan yang sesungguhnya ialah yang menjaga ‘izzah dan ‘iffah karena Allah.

Semakin ia menutupi auratnya semakin ia memiliki ‘izzah atau kemuliaan di mata Allah. Menjaga diri, menghindari ihktilat dan khalwat, malu saat dirinya menjadi pusat perhatian lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya, semua itu adalah cara menjaga ‘izzah. Allah telah menciptakan perempuan dengan sebaik-baik bentuk dan rupa serta menyempurnakannya dengan sifat lemah lembut dan akhlak yang mulia. Perempuan diciptakan untuk melengkapi laki-laki, litaskunu ilayha, memberikannya kenyamanan, cinta dan kasih sayang, wa ja’ala baynakum mawaddata wa rohmah.

Karena saking  berharganya ia, Allah melebihkan kemuliaan perempuan dibandingkan laki-laki. Allah lebih dekatkan wanita dengan surga, memberikannya amalan-amalan khusus yang mendekatkannya ke surga, amal rahim, mengandung dan menyusui.

Ia memiliki tanggungjawab dan peran penting dalam kehidupan. Ladang yang baik akan mengeluarkankan tanaman yang baik pula, sedangkan ladang yang gersang tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali yang tidak baik serupa. Bibitnya baik tetapi ladangnya tidak baik maka akan menghasilkan Kan’an yang berbesar hati ingin lari ke gunung tertinggi ketika ayahnya nabi Nuh as. mengajaknya naik bahtera. Akan tetapi jika ladangnya baik maka akan melahirkan nabi Ibrahim as. yang meminta ayahnya berhenti membuat berhala dan mengajaknya kepada tauhid.

Suatu keistimewaan pula ketika Allah menggantikan keutamaan-keutamaan shalat di masjid menjadi shalat di rumah hanya untuk perempuan saja, sedangkan pahala yang didapatkan sama dengan pahala orang yang pergi dan shalat ke masjid yang langkah pertamanya mengangkat derajat dan langkah berikutnya menggugurkan dosa.

Suatu ketika seorang pemuda datang kepada Rasul meminta untuk ikut berjihad di jalan Allah, Rasul bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Lalu ia berkata iya, Rasulullah menjawab, “Maka pulanglah dan rawat ibumu!” Betapa mulianya bakti kepada ibu sama pahalanya dengan berjihad di jalan Allah. Ibumu, ibumu, ibumu kemudian ayahmu.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.” (H.R Ahmad)

Begitulah Islam telah memuliakan perempuan, memberikannya ‘izzah, lalu masihkah kita menganggap diri kita tak berharga dan enggan untuk menjaga diri? Menjaga ‘izzah yang Allah berikan kepada kita. Bukankah sebaik-baik permata adalah wanita. Wanita shalihah yang menghiasi hati ayahnya dan membukakan pintu surga untuknya sebelum ia menikah, dan setelah menikah ia menjadi permata di mata suaminya dan pintu surga baginya.

Dalam menjaga sebuah ‘izzah, seorang muslimah dapat memulai dengan memperbaiki ibadah dan meningkatkan kualitasnya agar senantiasa dekat dengan Allah. Dengan kedekatan pada Allah akan membangun harga dirinya. Selain itu, seorang muslimah harus menjadi pribadi yang cerdas, dari kecerdasannya itulah yang menjadi dasar untuk bertindak bijak membedakan antara baik dan buruk, serta salah dan benar, sehingga terjadi lingkungan amr ma’ruf nahi munkar.

Telah banyak teladan dari shohabiyyah yang mencerminkan ‘izzah dan ‘iffah yang dapat kita teladani, seperti Aisyah Ra yang kecerdasannya tidak dapat diingkari lagi sebagai perawi hadits terbanyak Rasulullah Saw dan sering menjadi rujukan para sahabat kala itu. Kemudian kisah Ummu Aiman yang diberikan air oleh Allah dari langit.

Alangkah istimewa dan mulianya kita, bila kita dapat melihat apa yang sebenarnya telah ada pada diri kita, tinggal bagaimana kita menjaganya. Menjaga ‘izzah dengan terus mendekatkan diri kepada Allah, ‘izzah dengan Islam, ‘izzah sebagai muslimah dan ‘iffah dari larangan-larangan-Nya.

*Penulis adalah editor majalah La Tansa periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here