Home Tak Berkategori Nuzulul Qur’an: Kapan dan Bagaimana al-Qur’an Diturunkan

Nuzulul Qur’an: Kapan dan Bagaimana al-Qur’an Diturunkan

147
0


Oleh: Naili Izzah Ramadhani*

Al-Quran merupakan pembimbing yang agung dan guru yang paling suci. Ia sebagai sumber hukum, pedoman moral, pembimbing ibadah, sumber peradaban dan doktrin keimanan. Al-Quran yang diyakini oleh umat Islam adalah kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan pedoman hidup yang antara lain berbicara mengenai Allah SWT, alam dan manusia. Sebagai petunjuk para manusia, kabar gembira sekaligus peringatan kepada seluruh manusia, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan hingga zaman terang benderang lewat manusia yang paling mulia yaitu Baginda Rasulullah SAW.

Tanggal 17 Ramadhan biasa dikenal sebagai momentum peringatan Nuzûlul Quran. Kita sebagai umat muslim disamping memperingatinya juga harus mengetahui makna Nuzûlul Quran secara gamblang, karena itu merupakan pokok dalam mengimani al-Quran yang mana merupakan kalam Allah SWT. Di samping itu juga pokok untuk mempercayai kenabian Rasulullah SAW hingga memahami bahwa agama Islam itu agama yang benar.

Makna Nuzul al-Qur’an dan Mekanismenya


Nuzûl secara etimologi memiliki dua makna, yang pertama adalah hulûl fi al-makân, sesuatu yang menempati suatu tempat. Dalam kamus, nâzala bermakna nuzûl dan hulûl, adapun dalam fiil muta’adi bermakna ihlal. Adapun secara etiomolgi Nuzûl berarti al-inhidâr min ‘uluwwi ilâ suflâ, turunnya sesuatu dari atas ke bawah sebagaimana orang yang turun dari gunung. Nuzûl secara etimologi juga berarti tahriku asy-syai’ min uluwwi ila sufla, bergeraknya sesuatu dari daerah yang lebih tinggi ke daerah yang lebih rendah.

Kedua definisi nuzûl secara etimologi yang telah disebutkan diatas bukan bermakna nuzûlul Quran secara hakiki karena makna ini menghendaki jismiyah, makâniyah (tempat), dan intiqâl (berpindah). Sedangkan al-Quran bukan jism atau makhluq yang bertempat di suatu tempat atau turunnya sesuatu dari atas ke bawah. Al-Quran merupakan kalam Allah Swt. Maka, untuk sampai ke makna makaniyah dan jismiyah harus dengan perantara dan penyampaian dengan beberapa fase.
Fase inilah yang dinamakan dengan proses nuzulul quran. Proses tersebut bermula dari diturunkannya al-Quran dari Allah SWT ke lauh al-mahfudz, lalu dari lauh al-mahfudz ke bait al-izzah yang berada di sama’ al-dunya, dan dari sama’ al-dunya kepada Nabi Muhammad SAW. Tahapan ini jugalah yang menjadikannya istimewa dan berbeda dari kitab-kitab Samawi yang lainnya.

Proses mekanisme turunnya al-Quran masing-masing memiliki hikmah tersirat yang menguatkan keimanan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Tahapan pertama dari Allah SWT kemudian diturunkan ke lauh al-mahfudz secara keseluruhan dalam satu waktu, lalu diturunkan ke bait al-izzah yang berada di sama’ al-dunya secara keseluruhan saat Lailatul qadar di bulan Ramadhan. Dari bait al-izzah kemudian di turunkan ke hati Rasulullah SAW melalui perantara Malaikat Jibril pada malam lailatul qadr secara berangsur-angsur. Namun tanggal pastinya hanya Allah SAW yang mengetahui.

Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadar. Lailatul qadar adalah satu malam mulia, penuh keberkahan dan memiliki kedudukan tinggi yang terjadi pada Bulan Ramadhan. Di dalam al-Quran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di malam inilah Al-Quran diturunkan. Dalam kitabnya Madkal lidirasah Ulum al-Quran dan Manahil ‘Irfan disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah Swt sebagai pembawa risalah pada umur 40 tahun. Beliau berdiam diri di Gua Hira sampai tanggal 17 Ramadhan, pada tanggal ini turunlah awal surah al-‘Alaq. Kemudian timbul pertanyaan, apakah al-Quran diturunkan secara menyeluruh pada malam lailatul qadar?

Dan jawaban dari perkataan tersebut sebagaimana terdapat dalam karangan Dr. Abdul Ghafur Mahmud Musthafa Ja’far yang berjudul Fatâwa fî Ulûm al-Quran al-Karim bahwa yang sahih dan dijadikan sandaran adalah sebagaimana perkataan Ibnu Hajar dalam Shahih Bukhari, bahwa al-Quran diturunkan secara menyeluruh dari lauh al-mahfudz ke bait al-izzah yang berada di sama’ al-dunya kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 23 tahun sesuai peristiwa dan kejadian. Yang berbeda adalah, beliau berpendapat bahwa al-Quran yang turun pertama kali, yakni awal surat al-Alaq, pada tanggal 24 di bulan Ramadhan dan itu merupakan lailatul qadar pada tahun itu.

Sebagaimana kita ketahui bersama para ulama berbeda dalam penanggalan lailatul qadar. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW diberitahukan tentang lailatul qadar, lalu kemudian dibuat lupa tentang (waktu tepatnya) lailatul qadar tersebut. Peristiwa itu terjadi di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan, dan ia terjadi di malam ke-21. Sebagian sahabat berkata bahwa ia terjadi pada malam ke-23. Adapun menurut Ahmad dengan sanad shahih ia terjadi pada malam ke-27. Dalam kitab Bukhari disebutkan bahwa ia terjadi pada malam yang berada di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan. Begitupun pada hadis yang disahihkan oleh Imam al-Tirmidzi bahwa ia terjadi pada malam terakhir dari Bulan Ramadhan. Adapun Ubay bin Ka’ab bersumpah bahwa ia terjadi pada malam ke-27 karena beliau telah melihat tanda-tanda sebelum terjadinya malam lailatul qadar yang pernah Rasulullah SAW sebutkan yaitu malam yang sangat tenang, damai dengan hawa yang tidak panas dan tidak dingin dan bulan yang menyilaukan cahayanya.

Ini artinya masih terdapat perbedaan dalam penanggalan kapan al-Qur’an itu turun pertama kali. Namun semua sepakat bahwa turunnya pada malam lailatul qadar, yakni di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana yang tertera dalam surat al-Qadr, “sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur`an pada malam lailatul qadar”

Secara Berangsur-Angsur

Turunnya al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW tidak langsung keseluruhan sebagaimana kitab-kitab samawi yang lainnya. Namun Allah SWT mengkhususkan al-Quran turun berangsur-angsur sesuai kebutuhan, kejadian dan keadaan. Al-Quran turun sesuai kebutuhan, seperti lima atau sepuluh ayat bahkan lebih atau kurang dari itu. Para ulama menyebut istilah potongan-potongan ini dengan kata Najm. Hal tersebut karena seakan-akan mereka ingin menyucikan al-Quran dengan potongan-potongan ini dan menyamakan bagian-bagian al-Quran yang turun itu dengan bintang.

Bukan berarti al-Quran yang turun sepotong-sepotong itu terpisah-pisah, tetapi dia bagaikan bintang. Antara satu bintang dengan bintang yang lain ada keterkaitan. Selain itu, walaupun al-Quran diturunkan sepotong-sepotong tetapi ia memberikan cahaya. Sebagaimana bintang, satu bintang memiliki cahaya yang bersinar.

Al-Quran yang diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah kalam Allah SWT, dengan lafal-lafal hakiki untuk menentang orang-orang yang akan menyerupainya, dibungkus menjadi satu dalam mushaf dari surah al-Fatihah sampai akhir surah al-Nas. Tidak ada pencampuran sedikitpun dari Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW dalam pembentukan dan susunannya. Lafal-lafal sekaligus penertibannya ini bukan dari Jibril maupun Nabi Muhammad SAW, namun dari Allah SWT secara langsung.

Sebagaimana ketika kita menisbahkan perkataan seseorang dari segala sisi, menukil kata-kata seseorang, walaupun kata-kata itu dinukil dari seseorang kemudian sampai kepada yang lain, kata-kata itu tetap dinisbahkan kepada orang yang mengucapkan pertama kali. Begitu juga al-Quran, ketika Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril untuk menurunkan al-Quran kepada Rasulullah SAW, maka yang disampaikan adalah murni dari Allah SWT tidak ada campur tangan dari Malaikat Jibril maupun Rasulullah SAW, semuanya taufiqi dari Allah SWT.


*Penulis adalah pegiat Kajian Ijaz IKPM Kairo dan pimpinan Umum Majalah Latansa periode 2018-2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here