Home Opini Paket Ujian Plus-plus; Ramadhan dan Corona

Paket Ujian Plus-plus; Ramadhan dan Corona

230
0

S Rahman*

Gimana kabar isolasi anda, sudah mulai bosan di rumah dan rindu kehidupan luar kah? Sudah mulai jengah dengan berita-berita yang berseliweran di lini masa anda? Kok naif rasanya kalau saya bilang, “Sabar, sesungguhnya semua ini datang dari Allah, semua akan indah pada waktunya!” Toh saya sendiri pun sudah mulai bosan menghadapi situasi ini.

Walau bagaimana pun juga, adanya virus corona dan seabrek dampak yang disebabkannya adalah fakta yang perlu diinsyafi bersama. Jangan sampai pikiran kita jauh melambung tinggi ke taman-taman bunga yang ada di surga dan lalai kalau kaki kita masih menginjak tanah. Artinya, saya harap tidak ada dari kita di tengah pandemi ini berniat menjadi motivator ulung bak Mario Teguh, dengan senyum panggung berpesan, “Anda mengeluhkan corona? Itu salah anda, coba ubah sudut pandang anda menjadi setengah isi, bukan setengah kosong!” Sebagai dasein, manusia yang tak lepas dari konteks historisnya, bijaknya adalah tidak menganggap pandemi ini halu belaka.

Pada momen bulan suci Ramadhan begini mohon izinkan aku mengetuk pintu depan rumah sanubarimu, bertamu ke relung hatimu untuk menanyakan kabar baik dari jiwamu. Kurasa jiwamu sangat sehat, sebab ia sudah terlatih berkali-kali ditempa dengan menerima berbagai macam kebusukan yang ditawarkan dunia. Beruntung jika ia berevolusi menjadi jiwa ksatria, syukur-syukur naik satu tingkat lebih tinggi menjadi brahma. Masalahnya adalah jika ia tidak mengalami peningkatan apapun atau bahkan merosot menjadi asfala safilin.

Kurang bijak rasanya menghabiskan tenaga dan energi yang kita serap dari alam hanya untuk mengutuk kebusukan dunia, toh mau bagaimana lagi dari sananya sudah di-setting demikian. Yang namanya dunia, ya pasti isinya hal-hal rendah. Kata dunia diserap dari Bahasa Arab yang homofon dengan versi Indonesianya, ashlul maddahnya adalah huruf dal, nun dan waw, secara harfiah berarti rendah.

Lagi pula untuk mengarahkan sumpah serapah anda dengan tepat pada dunia, bisakah anda menentukan bagain dunia yang mana sebenarnya yang anda bidik. Karena membidik dengan tepat adalah salah satu tradisi yang diwariskan Nabi pada umatnya, disimbolkan dengan memanah. Naas jika kita masih senang lempar hoax ke sana-sini dan suka overgeneralisir di setiap statemen dan di saat yang sama kita buat gerakan olahraga islami, menggalakkan olah raga panahan di kampus dan pesantren-pesantren atau menaiki kuda pacuan bak salah satu adegan film Perempuan Berkalung Sorban, tentu harga kudanya tidak akan bisa dicapai masyarakat akar rumput walau dengan setahun mengumpulkan berkat.

Ramadhan adalah madrasah tahunan yang diturunkan Tuhan, inisiator sekaligus penanggung jawab utamanya adalah Dia Yang Maha Esa. Tuhan sangat serius menggagas ide madrasah ini, Ia menyediakan kurikulum yang langsung bisa Ia evaluasi sendiri, materi pokoknya adalah puasa. Melalui hadits qudsi Ia nyatakan secara khusus, “Puasa adalah untukKu.”

Mempertegas keistimewaan bulan ini Ia buat momentum turunnya Al-Quran, pedoman sepanjang zaman, dari lauhul mahfudz ke baitul izzah atau langit dunia pada Bulan ramadhan, peristiwanya biasa kita sebut lailatul qadr. Pun peristiwa turunnya wahyu pertama kali dari baitul izzah kepada Nabi Muhammad yang sedang berkhalwat di Gua Hira terjadi pada bulan Ramadhan, nama peristiwanya Nuzulul Qur’an.

Keutamaan Ramadhan hadir dengan kemasan spesial / limited edition tahun ini. Ia didahului dan dibarengi dengan agenda pembersihan besar-besaran, sebuah studium generale yang dilaksanakan dalam waktu yang tidak singkat. (Semoga) kita sudah lelah bertikai apakah wabah ini azab atau cobaan? Atau meributkan siapa yang patut dikambing hitamkan, apakah itu presiden yang berfikir out of the box memanfaatkan potensi wisata, atau oknum-oknum pongah yang menyangsikan kemampuan virus ini bertahan hidup di bawah terik Indonesia, atau justru para pemain di balik layar politik dan perdaganan internasional?

Saya harap anda tidak absen dari kelas Aqidah saat sedang membahas qudratullah, sehingga anda dengan ringan bisa menyatakan bahwa seandainya meski pun virus ini benar-benar buatan manusia, bukan murni proses seleksi alam, Tuhan tidak pergi ke mana-mana, kuasanya masih tetap sama, meliputi segala yang ada. Termasuk potensi evolusi dan penyebaran gila-gilaan virus ini. Pun minimnya potensi orang gila berbaju compang-camping yang tidak mengerti bagaimana itu bersih, apalagi menimbun masker dan sanitizer, terpapar virus ini.

Ramadhan adalah madrasah tahunan, wabah corona adalah madrasah yang tidak mesti ada satu dasawarsa sekali.

Setiap madrasah memiliki ujian akhir & standar kelulusan, standar kelulusan ujian puasa Ramadhan ada dua; fisik dan batin. Tidak makan-minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari dan memiliki mentalitas menahan, menahan nafsu amarah, menahan nafsu birahi, menahan nafsu konsumtif, menahan nafsu menguasai, menahan nafsu kapitalis, menahan nafsu gengsi golongan, juga menahan nafsu pencitraan, terlihat saleh sebagai hamba di hadapan manusia

Di sisi lain, konsekuensi menyebut pandemi ini sebagai ujian adalah adanya standar kelulusan. Saya kira kesehatan fisik bukan tolok ukurnya, namun lebih kepada yang batin, menjadi hamba yang tidak jumawa, merasa kecil di hadapan-Nya, bukan hamba yang senang menyalahkan merasa benar sebab memperjuangkan citra-citra keislaman, bukan inti Islam itu sendiri.

Puasa Ramadhan dan corona adalah satu paket ujian, menjadi sombong karena tetap melaksanakan rutinitas Ramadhan sebagai mana adanya & berhasil melalui pandemi tanpa terpapar bukanlah wujud lulusan ujian ini.

*Penulis adalah sarjana Akidah Filsafat Universitas Al-Azhar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here