Home Artikel Pendidikan Menurut Prof. Naquib Al-Attas

Pendidikan Menurut Prof. Naquib Al-Attas

183
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Setelah Konferensi Pendidikan Islam yang pertama di Makkah pada tahun 1977, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang filsuf  kontemporer dan sejarawan budaya melayu, kembali menghadiri Konferensi Pendidikan Islam kedua yang diadakan di Islamabad pada tahun 1980 dengan mengajukan sebuah konsep pendidikan baru yang ia tulis dalam makalah yang berjudul “The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education

Buku atau tulisan ini ia sajikan sebagai uraian yang mencoba menjernihkan masalah yang dibahas pada makalahnya di Konferensi pertama.  Pada dasarnya, tulisan ini adalah sebuah definisi yang berhubungan dengan unsur-unsur esensial dalam konsep pendidikan dan proses kependidikan menurut Islam. Maka berangkat dari sini, penulis menganggap, dalam memperingati Hardiknas pada 2 Mei ini, ada baiknya kita kembali merenungi maksud dari Pendidikan itu sendiri, khususnya dalam pandangan Islam yang dipaparkan oleh guru besar di ISTAC Malaysia ini.

Konsep Pendidikan Dalam Islam

Jika ditanya apa itu pendidikan, ujar Al-Attas, maka saya akan menjawab: Pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia. (Education is something progressively instilled into man). Dari definisi ini, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kita garis bawahi: (i) proses penanaman, atau metodologi dalam sebuah pendidikan (ii) sesuatu yang ditanamkan, yakni kandungan dari sesuatu tersebut (iii) diri manusia, yakni objek dari yang menerima proses tersebut.

Dari ketiga hal di atas, kandungan (content) lah yang dititik beratkan oleh Al-Attas dalam sebuah pendidikan. Meskipun kita telah mengetahui bahwa yang dimaksud dengan kandungan di sini adalah ilmu, namun kita harus menetapkan apa yang dimaksud dengannya. Sebab sebuah pengajaran —bagaimanapun ilmiahnya konsep ilmu tersebut terdefinsikan— tidak harus berarti pendidikan. Mempelajari sains saja tidak merupakan bagian dari pendidikan dalam arti yang sedang dibahas. Harus ada “sesuatu” (kandungan) di dalam pendidikan yang jika tidak ditanamkan, tidak akan membuat pengajaran serta proses belajar dan asimilasinya dinamakan pendidikan. Karenanya kita harus tau apa yang dimaksud dengan ilmu di sini.

Al-Attas mendefinisikan ilmu dengan definisi  deskriptif (ta’rif birrasm) sebagaimana yang ditulis al-Jurjani dalam al-Ta’rifatnya, yaitu: datangnya makna suatu objek pengetahuan di dalam jiwa dan sampainya jiwa terhadap makna sesuatu atau objek pengetahuan. (hushul ma’nan aw shurah al-Sya’i fi al-Nafs wushul al-Nafs ila ma’na al-Sya’i). Dari sinilah Al-Attas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu secara maknawi adalah sebuah pengenalan (mengetahui) terhadap sesuatu dan pengakuan (pengamalan) atas sesuatu itu. Lebih jelasnya ia mengatakan:

“So now we are in A position to complete our definition of the content of education, as: recognation and acknowledgment of the proper places of things in the order of creation, such that it leads to the recognation and acknowledgment of the proper place of the God in the order of being and existance” (al-Attas: 19)

(pengenalan dan pengakuan tentang kedudukan-kedudukan yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan kedudukan Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan eksistensi-Nya)

Dan inilah yang dinamakan adab. Adab, menurut Al-Attas, adalah istilah kunci yang dapat mewakilkan makna pendidikan. Karena istilah dan konsep kunci inilah yang memang mengenalkan dirinya sebagai “sesuatu” atau kandungan di dalam ilmu yang merupakan  hal penting dalam sebuah pendidikan.

Jadi apa itu makna adab? Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya berjudul “Risalah Untuk Kaum Muslimin.” Memberikan penjelasan bahwa adab adalah “right Action” yang berangkat dari pengenalan dan pengakuan. Jadi menurutnya adab itu membutuhkan pengenalan atau ilmu dan pengakuan atau amal. Dan semua itu tidak lain adalah untuk melawan penyamarataan. Dan ketika hal itu sudah terlaksana, maka terjadilah satu tindakan yang bernama adil, dimana segala sesuatu telah ditempatan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan Allah.

Adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan kedudukan yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual dan ruhaniah; pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat (maratib) dan derajatnya (darajat).

Jadi bisa kita simpulkan, bahwa adablah yang menjadi “sesuatu” atau content yang ditanamkan dalam diri manusia. Adab tidak sesederhana yang kita bayangkan, meskipun diawal kita mengetahui bahwa adab adalah pengenalan dan pengakuan atau bisa dibilang ilmu dan amal. Namun secara deskriptif, dalam kitabnya Risalah kaum Muslimin Al-Attas menjelaskan bahwa adab adalah:

“Suatu kelakuan yang harus diamalkan atau dilakukan atau dilakukan terhadap diri, dan yang berdasarkan pada ilmu, maka kelakuan atau amalan itu bukan sahaja harus ditujukan kepada sesama insani, bahkan pada kenyataan makhluk jelata, yang merupakan maklumat bagi ilmu. Tiap sesuatu atau seseorang memiliki hak yang meletakkannya pada keadaan atau kedudukan yang sesuai bagi keperluannya. Ilmulah, dibimbing serta diyakini oleh Hikmat, yang memberitahu atau memperkenalkan sehingga ketara tentang hak yang mensifatkan sesuatu atau seseorang itu; dan keadilan pula yang menjelaskan hukum tentang di manakah atau bagaimanakah letak keadaan atau kedudukannya”.

Sederhananya seperti ini: Jika kita telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, maka kita harus tau bagaimana menempatkan Allah dalam kehidupan kita; tidak menyekutukannya, taat dan patuh akan perintahnya serta menjauhi larangannya. Dalam hal yang lebih spekulatif, sebagai umat Islam yang baik, kita harusnya tau dimana meletakkan ulama dengan orang awam. Ulama harus kita hormati dan kita tiru. Sebab merekalah pewaris para Nabi.

Dan inilah yang membuat Al-Attas memilih konsep Ta’dib ketimbang Tarbiyyah. Kata adab, meski tak dijumpai dalam al-Quran, namun kita akan temui dalam hadis nabi. Al-Attas mengambil kata adab dari kata ma’dubah yang bermakna undangan kepada suatu perjamuan. Dalam arti ini, kita akan menemukan bahwa sang penjamu akan menempatkan orang-orang yang datang sebagai orang penting yang harus dihormati. Hal ini bisa kita jumpai juga dari perkataan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud yang menggambarkan al-Quran sebagai hidangan rohani yang harus diambil oleh orang muslim. (Inna hadza al-Quran ma’dubatullahi fil Ardi fataallamu min ma’dibatihi)

Dalam hadis lain, Al-Attas mengutip hadis yang berbunyi addabani rabbi faahsana ta’dibi. Di sinilah titik perbedaan yang Al-Attas titik beratkan dengan makna Tarbiyyah. Dalam konsep Ta’dib di hadis ini, Rasulullah telah dididik langsung oleh Allah Swt dengan pendidikan yang sebaik baiknya. Mengutip pendapat Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arabnya, addaba juga berarti allama, yakni mengajar. Ini berarti dalam kata ta’dib aspek yang diajarkan lebih luas dan masuk didalamnya aspek intelektual, nurani dsb.

Hal ini berbeda dengan Tarbiyyah yang konotasinya mengarah kepada pemberian hal hal yang sifatnya materi. Inilah mengapa dalam al-Quran Firaun berkata: “bukankah telah kami besarkan kamu sebagai anak”  (alam nurabbika fiina waliida). Ini bukan berarti Firaun telah mendidik Nabi Musa secara kompleks. Tarbiyyah disini secara sederhana dapat diartikan hanya membesarkan, memberinya asupan, dan tidak mesti adanya “penanaman”. Selain itu, Tarbiyyah pun, menurut Al-Attas, tidak terkhusus pada manusia semata, sebagaimana adab. Mendidik hewan dan makhluk lainnya pun, biasanya menggunakan kata Tarbiyyah. Dan inilah diantara sebab mengapa Al-Attas memilih kata ta’dib dari kata Tarbiyyah.

Jadi sekali lagi, pendidikan Menurut Al-Attas adalah proses penanaman adab dalam diri seseorang. Yang mana tujuannya adalah untuk menciptakan manusia yang baik (good man) bukan warga negara yang baik, sebagaimana yang diamini oleh sebagian filosof Barat. Sebab individu yang baiklah yang akan menciptakan masyarakat baik, pemimpin baik, dan keluarga baik. Tanpa penanaman adab dalam diri manusia, seseorang akan menjadi biadab yang nantinya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang zalim, yakni pemimpin yang tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai harkat dan martabatnya, dan itulah pemimpin yang tidak beradab.

*Penulis adalah Pimpinan Redaksi Majalah Latansa periode 2017-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here