Home Tsaqafah Peran Ilmu Bahasa dalam Memahami Akidah

Peran Ilmu Bahasa dalam Memahami Akidah

389
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Dalam salah satu majlisnya Syekh Fauzi Konate pernah memberikan sebuah maklumat yang bagi saya sangat spektakuler. Saat menjelaskan bab badal dan pembagiaannya yang tertera di kitab Tuhfah al-Saniyyah, beliau berkata bahwa Imam Ibnu Malik, pemilik kitab Alfiyyah, mengganti istilah badal kull min kull (salah satu pembagian badal) menjadi badal mutobiq.

Tau sebabnya apa? menurut Ibnu Malik istilah badal kull min kull bisa membuat seseorang berprasangka bahwa Dzat Allah Swt adalah Kull, yakni sesuatu yang tersusun dari berbagai partikel. Hal ini dilatarbelakangi oleh salah satu ayat yang berbunyi: “Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…” (Allahilladzi lahuu maa fi al-Samaawaati wa maa fil ard) (Qs. Ibrahim [14]: 2)

Lafdzu al-jalalah Allah pada ayat itu majrur atau berharakat kasroh karena ia merupakan kata ganti atau badal dari kata al-Aziiz al-Hamiid (mubdal minhu) di ayat sebelumnya. (lihat Zakariyya AL-Anshori, I’rab al-Qur’an al-Azhiim, hal. 279) Dari sinilah Ibnu Malik mencetuskan istilah badal mutobiq sebagai ganti dari badal kull min kul agar tidak ada yang berprasangka bahwa Allah adalah sesuatu yang kull. Sebab sekali lagi konsekuensi
adalah butuh pada sesuatu yang menyusunnya, sebagaimana makhluk yang membutuhkan organ yang menyusunnya, sementara Allah bukanlah sesuatu yang tersusun sebagaimana makhluk-Nya dan Dia pun tidak ‘butuh’ kepada sesuatu.

Kisah lain, Syekh Khalid Al-Azhari (w. 905 H), seorang pakar bahasa dari Mesir pernah memberikan saya maklumat yang bagi saya nilainya tidak bisa dibeli dengan uang berapapun. Dalam Syarahnya terhadap kitab Awaamil al-Mi’ah milik Imam Jurjani, dalam pembahasan makna huruf ba, ia berkata bahwa salah satu makna di antara banyaknya makna huruf ba adalah al-Muqaabalah (ganjaran/barang ganti).

Ia memberikan contoh makna muqaabalah dengan ayat yang berbunyi “Masuklah surga (sebagai ganti) dari perbuatan Kalian” (udkhuluu al-Jannata bimaa kuntum ta’maluun). Setelah saya amati, contoh ini bukan sembarang contoh. Secara tersirat Syekh Khalid Al-Azhari ingin memberikan tafsiran yang benar terhadap ayat ini dan membantah penafsiran yang mengatakan bahwa masuknya orang beriman ke dalam surga adalah karena amalannya, hal ini dengan memaknai huruf ba sebagai sababiah bukan muqaabalah.

Memang apa bedanya? Kalau huruf ba itu dimaknai sebagai ganti (muqoobalah), itu berarti ganjaran surga ibarat hadiah yang bisa Allah kasih ataupun tidak sesuai kehendak-Nya. Artinya Allah tidak wajib memasukan mereka ke dalam surga hanya karena amalan mereka, melainkan hal tersebut adalah karunia dan rahmat dari Allah Swt.

Adapun jika dimaknai sebab (sababiyyah), itu berarti Tuhan wajib memasukkan hamba-Nya yang mukmin ke dalam surga karena amalan mereka, hal ini karena hukum dari adanya sebab adalah lahirnya akibat; Jika A ada maka B ada; jika jari ini bergerak maka cincin di jari pun ikut bergerak. Inilah konsekuensi dari sebab dan akibat.
Dan pendapat ini termaktub disalah satu kitab tafsir yang ada, yaitu saat menafsirkan ayat yang senada dengan ayat di atas: “itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan” (Qs. Al-A’raf; 43), mufasir tersebut berkata: maksudnya adalah karena amal-amal kalian bukan karena karunia Tuhan sebagaimana pendapat golongan yang batil (al-Mubtillah), dan yang dimaksud ‘kelompok batil’ disini adalah ahlussunnah.

Dan kisah terakhir yang ingin saya sampaikan adalah apa yang dipaparkan oleh raksasa ilmu Akidah kebangsaan Andalus, Imam Muhammad Al-Sanusi dalam kitabnya Syarh Al-Muqoddimat. Dalam kitab tersebut ia memaparkan bahwa ada sebagian kelompok yang ingin menguatkan dan membetulkan kepercayaan Nasrani dengan ayat al-Quran yang berbunyi (wa ruuhun minhu) “dan (dengan tiupan) roh dari-Nya”.

Asumsi ini dilandasi oleh pemaknaan huruf min yang dimaknai tab’iidiyyah (sebagian) sebagaimana ayat “minhum man kalaamallahu” (di antara atau sebagian dari Rasul itu ada yang bercakap dengan Allah). Itu berarti makna ayat wa ruuhun minhu yaitu bahwa ruh yang ditiup dalam diri Nabi Isa adalah sebagian dari yang ada dalam Tuhan, sebagaimana yang diamini oleh kaum Nasrani saat ini.

Di sinilah Imam Sanusi menyanggah bahwa orang yang berpendapat ini hakikatnya menyimpan dua kebodohan. Pertama, kebodohannya atas kaidah akal, dimana Allah tidak mungkin mempunyai bagian ataupun menjadi bagian. sebab –sebagaimana yang saya sudah jelaskan– Allah tidak butuh kepada apapun dan siapapun.

Kedua, kebodohannya atas ilmu bahasa, sebab makna min dalam ayat tersebut adalah ibtida bukan tab’idiyyah sebagaimana ayat yang berbunyi “wa sakhkhara lakum maa fissamaawaati wa maa fil ardi jamiian minhu” (dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya daripada-Nya). (Qs. Al-Jaatsiyah: 13)
Ini artinya dari Allah lah semua yang dilangit dan di bumi, karena Dia lah yang menciptakan semua yang ada dari awal. Sebagaimana perkara Nabi Isa, Allah lah yang meniupkan dan menciptakan ruh dalam Nabi Isa sejak awal, alias Dialah yang menciptakan. Dan inilah makna Ibtidaa al-Ghooyah.

Peran Bahasa dalam Memahami Akidah

Dari tiga maklumat yang saya paparkan, baik dari Ibnu Malik yang dikisahkan Syekh Fauzi, Syekh Khalid Al-Azhari dalam Syarh Awaamil Miah ataupun Imam Sanusi di dalam kitabnya, poin yang ingin saya sampaikan dari ini semua adalah: lihatlah betapa pentingnya peran ilmu bahasa dalam memahami teks agama baik ayat al-Quran ataupun hadis, terkhusus dalam masalah akidah.

Tanpa ilmu bahasa seseorang akan sulit memahami isi dan kandungan al-Quran dengan baik. Seseorang yang hanya melihat terjemahan al-Quran tidak akan bisa membedakan antara makna huruf bi sebagai makna muqobalah ataupun sababiyyah, sebagaimana yang dipaparkan oleh Syekh Khalid al-Azhari, atau makna min dalam pemaparan Imam sanusi di perkara syubhat Nasrani.

Ini hanyalah sekian contoh bagaimana ilmu bahasa memainkan perannya dalam memahami akidah, di sana tentu ada banyak lagi contoh-contoh lain yang sangat menentukan orang bisa memahami akidah dengan benar atau tidak lewat ilmu bahasa. Dan inilah mengapa dalam kitabnya al-Muqoddimat imam Sanusi berkata bahwa di antara penyebab seseorang terjerumus dalam kekafiran dan bid’ah adalah ketidaktahuannya terhadap ilmu bahasa. (al-Jahlu bil qowaaid al-Aqliyyah wa billisaan al-Arabiy alladzi huwa ilmu al-Lughoh wa al-I’rab wa al-Bayaan)

Dan dari sini juga kita bisa melihat bagaimana perjuagan dan khidmah ulama, khususnya ulama bahasa dalam menjaga pemahaman akidah ahlussunnah. lihatlah bagaimana imam Malik yang sangat detail dalam memilih sebuah istilah. Mungkin bagi kita ini remeh, namun dibalik itu semua ada pesan dan makna yang ingin disampaikan, yaitu pentingnya menjaga akidah ini sekalipun dalam kaidah bahasa. Wallahu a’lam.

Selamat Hari Bahasa Arab Internasional
Jumat, 18 Desember 2020

*Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir Jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here