Home Artikel Peranan Ulama Hadits Dalam Menjaga Turats

Peranan Ulama Hadits Dalam Menjaga Turats

108
0

 

Oleh : Abdul Kholiq Muhsin, LC

Perpindahan informasi dan ilmu secara lisan adalah cara pertama bagi setiap kaum atau umat yang berkembang di awal kemuculannya. Termasuk kaum Arab yang hidup di Semenanjung Arab. Pada zaman jahiliah syair-syair yang berkembang di masa itu disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi. Sehingga syair-syair para penyair ketika itu terjaga. Lebih dari itu bangsa Arab diberi kekuatan hafalan yang menjadikan mereka berbeda dengan bangsa lain. Bangsa Arab sabagai kaum yang ummiy, tidak membaca dan menulis secara otomatis mengandalkan ingatan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan bagi mereka merupakan hal baru yang dibawa oleh Islam.

Islam sebagai salah satu agama samawi membawa ajaran-ajaran yang berasal dari Allah Swt. Ajaran-ajaran yang disampaikan melalui risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. diturunkan selama 23 tahun secara berangsur. Wahyu pertama dalam surat al-‘Alaq adalah perintah untuk membaca. Membaca artinya belajar. Dengan demikian Islam adalah agama yang menganjurkan kepada penganutnya untuk belajar dengan menuntut ilmu. Salah satu aspek penting dalam menuntut adalah menulis.

Kegiatan tulis menulis sudah ada sejak zaman kenabian yang dilakukan oleh kuttâb dalam menulis al-Qur`an, sehingga ketika Rasulullah Saw. wafat, al-Qur`an sudah tertulis semua. Hal lain seperti yang dilakukan sahabat  Abdullah bin Amru bin ‘Ash yang menulis apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dalam keadaan marah atau senang atas izin beliau, sebagaimana Rasulullah Saw. memerintahkan salah seorang sahabat untuk menuliskan khutbahnya untuk Abu Syah Al-Yamani atau tulisan sahabat-sahabat lain di pelepah kurma, batu, sarung pedang atau kulit hewan. Dari wahyu al-Qur`an dan Sunnah yang merupakan warisan Rasulullah Saw. yang tertulis atau secara lisan dari sahabat kemudian menjadi turats Islam yang tak ternilai harganya. Selanjutnya diwarisakan kepada generasi setelahnya terutama para ulama hadis.

Jika ilmuan Barat mulai memperhatikan peninggalan para pendahulu mereka pada abad 15 Masehi dengan menerbitkan manuskrip-manuskrip Yunani dan Latin, maka ulama Islam telah memulainya sejak kemunculan Islam di jazirah Arab di abad ke 7 dan diteruskan oleh generasi setelahnya. Para ulama hadis-lah yang memulai peran ini dalam menjaga warisan Islam. Mereka meletakkan dasar-dasar dalam menerima ilmu dan menyampaikannya kepada generasi setelahnya (al-tahammul wa al-adâ`). Mereka tidak hanya meletakkan dasar bagaimana cara menerima ilmu, tetapi bagaimana cara menulisnya hingga jika terjadi kesalahan dalam tulisan. Ini meruapakan cikal bakal ilmu tahkik turats yang berkembang di era modern.

Ada empat poin penting bagaimana ulama hadis dalam menjaga warisan Islam melalui periwayatan hadis-hadis, yang mana dari keempat poin tersebut akan menghasilkan cabang ilmu tersendiri dalam ilmu hadis. Pertama, meneliti sanad hadis atau mata rantainya. Dalam buku-buku hadis banyak terdapat riwayat yang menceritakan bagaimana sahabat dan tabiin mencari sanad-sanad hadis guna menjaga kebenaran hadis tersebut, apalagi setelah banyak terjadi fitnah.

Sebuah riwayat dari Muhammad bin Sirin (33 H-110 H) mengatakan, “Ketika itu orang-orang (sahabat dan tabiin) belum menanyakan tentang sanad. Tetapi setelah terjadi fitnah, mereka berkata, “Sebutkanlah dari siapa saja kalian mendapatkan hadis; apabila dari ahlu Sunnah akan diambil hadisnya, apabila dari ahli bidah maka ditolak.” Dari penelitian sanad-sanad yang dilakukan tersebut maka muncullah pembukuan dalam bidang hadis ke dalam beberapa klasifikasi. Diantaranya; al-Masânîd, al-Sihâh, al-Sunan dan al-jawâmî`. Di dalam buku-buku tersebut tersimpan ratusan ribu hadis.

Kedua, pengecekan keberadaan hadis. Setelah penelitian dilakukan terhadap sanad, langkah selanjutnya kepada lafal hadis atau matan. Pada langkah ini banyak sahabat yang telah melakukannya, apalagi setelah wafatnya Rasulullah Saw., karena apa yang ditinggalkan oleh beliau adalah bagian dari agama.

Seperti yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar tentang hadits bagian seorang nenek, atau apa yang dilakukan oleh Sayyidah ‘Aisyah yang menguji apa yang didengar oleh Abdullah bin ‘Amru dari Rasulullah Saw. Di masa setelahnya dilakukan sahabat Jabir bin Abdullah pergi ke negeri Syam untuk mencari hadis atau oleh Sa’id bin Al-Musayyab dalam meneliti kebenaran hadis, dia berkata, “Sesungguhnya saya pernah berjalan selama beberapa malam dan hari, hanya untuk mencari satu hadis.”  Dari upaya-upaya yang dilakukan tersebut, maka muncullah ilmu mustholah hadis sebagi kaidah utama atau induk dalam ilmu hadis, dengan meletakkan dasar-dasar penerimaan hadis dan menolak hadis-hadis palsu.

Ketiga, kritik perawi hadis (naqd al-ruwât). Para ulama hadis dalam meneliti kebenaran hadis juga melihat para pembawa hadis; apakah dia berbohong atau tidak, perangainya, biografi dan dari mana dia mendapatkan hadis. Dari kritik perawi hadis ini maka muncullah ilmu Jarh Wa Ta’dîl yang merupakan cabang dari ilmu hadis. Biografi para perawi hadis tertulis dalam Kutub Rijâl al-hadîts merupakan hasil dari kritik para perawi satu persatu.

Keempat, pembagian hadis. Para ulama hadis membagi hadis ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kriteria tertentu. Diantaranya berdasarkan sanad, diterima dan ditolaknya hadis, terputusnya sanad dan berakhirnya sanad. Dari pembagian hadis dalam beberapa kelompok tersebut maka muncullah cabang-cabang ilmu hadis; seperti ilmu I’lâl, Nasikh Wa Mansukh dan Fiqhu al-Hadîts.

Kesimpulan

Ulama Islam secara umum dan ulama hadis khususnya telah lebih dahulu dalam menjaga peninggalan-peninggalan pendahulunya dibandingkan ilmuwan Barat, yaitu 8 abad lebih dulu. Ini semua karena apa yang ditinggalkan Rasulullah Saw. adalah bagian dari agama yang tidak bisa dipisahkan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here