Home Nusantara Perantauan Ilmu Sang Buya

Perantauan Ilmu Sang Buya

252
0

Oleh: Eral Katyushantri Zeih*

Dia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan julukan  Buya HAMKA. HAMKA ialah nama pena yang ia sematkan untuk dirinya, adapun nama kecilnya ialah Abdul Malik, lahir di Maninjau, 17 Februari 1908. Ayahnya adalah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, sang pelopor gerakan Islah di Minangkabau.

Belakangan HAMKA diberikan sebutan dengan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam Bahasa Arab yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. Ia pernah menceritakan dalam salah satu bukunya, ketika ia lahir, ayahnya bergumam “Sepuluh tahun”. Dan ketika beliau ditanya apa makna sepuluh tahun itu, ayahnya menjawab: “sepuluh tahun dia akan dikirim belajar ke Mekkah, supaya kelak dia menjadi alim seperti aku pula, seperti neneknya dan seperti nenek – neneknya yang dulu.

Pada umur 7 tahun, HAMKA di masukkan ke sekolah desa yang hanya ia ikuti sampai kelas dua. Ketika ia berumur 10 tahun, ayahnya mendirikan sekolah dan disitulah HAMKA mempelajari agama dan bahasa. HAMKA menerima pembelajaran agama dan  Al-Qur’an langsung dari ayahnya. HAMKA sangat suka membaca, ia sering menghabiskan waktunya untuk membaca. Melalui buku pinjaman ia membaca buku–buku mengenai cerita China dan terjemahan Arab. Setelah selesai membaca, HAMKA menyalinnya kembali sesuai dengan versinya.

Setiap kali mendapati HAMKA membaca, ayahnya selalu berkata “Apakah engkau akan menjadi orang alim atau menjadi orang tukang cerita?”, seketika HAMKA meletakkan buku cerita yang ia baca, mengambil buku agama dan pura–pura membacanya. Pada masa belianya, ia juga senang menonton film, dan karena hobinya itu, ia pernah mengecoh salah satu gurunya demi untuk menonton Eddie Polo dan Marie Walcamp. Sehingga menonton film menjadi hobi beliau yang susah ditinggalkan.

Tidak satupun pendidikan formal ditamatkannya. Banyak membaca menjadi modalnya, tak lupa belajar langsung dengan tokoh dan ulama dijalankannya, baik di Sumatera, Jawa, bahkan sampai ke Mekkah. Pendidikan formal yang ia lalui pun sangat sederhana, mulai tahun 1916 sampai 1923 ia belajar agama di Lembaga Pendidikan Diniyah School serta Sumatera Thawalib. Pada saat itu materi pembelajaran masih terfokus pada kajian kitab klasik.

Metode hafalan merupakan cara yang paling efektif dalam pelaksanaan pendidikan pada saat itu. Meskipun materi–materi yang diajarkan ialah materi berbahasa arab, namun materi–materi itu adalah tingkatan paling rendah di Mesir. Pendidikan yang dilaksanakan juga belum diiringi secara maksimal, sehingga banyak diantara teman–teman beliau yang sangat fasih membaca, namun tidak dapat menulis dengan baik. Sistem pendidikan tradisional yang sedemikian membuat ia tidak puas. Sehingga ia mengalami kegelisahan intelektual dan akhirnya ia membuat keputusan untuk merantau ke Yogyakarta.

Perantauan ilmunya dimulai karena kegelisahan intelektual dan ketidakpuasannya dengan sistem dan metode pembelajaran yang ada. Merantaulah pemuda 16 tahun itu ke Yogyakarta, sesampainya disana dengan modal nama besar ayahnya, Abdul Karim Amrullah. Ia tinggal bersama adik dari ayahnya, Ja’far Amrullah. Bersama dengan pamannya, ia kembali mengkaji kitab–kitab klasik dengan para ulama’ yang hidup semasanya. Dalam pandangannya, HAMKA cenderung tidak membatasi diri dalam orientasi keislaman.

Di Yogyakarta, beliau sempat mendapat pengalaman yang berarti, yaitu melakukan diskusi dengan teman–temannya yang memiliki wawasan luas serta para cendekia. Disini beliau berkenalan dengan ide pembaruan dan ide modernisasi yang dihembuskan para pemikir islam dan banyak mempengaruhi atmosfer pemikirannya tentang islam. Pergerakan Islam di Yogyakarta memberikannya pengalaman mengenai Islam sebagai sesuatu yang hidup, suatu perjuangan dan sesuatu yang berdiri secara dinamis, disaat perhatian umat Islam di Minangkabau terseret pada perdebatan praktik Islam.

Di penghujung tahun 1925, Pimpinan Muhammadiyah mengirim utusannya, yakni  Sutan Mansur ke Minangkabau. Sejak saat itu, HAMKA selalu mendampingi Sutan Mansur dalam berdakwah dan merintis cabang Muhammadiyah. Meskipun disambut baik saat kepulangannya, namun ia hanya dianggap sebagai tukang pidato daripada ahli agama. HAMKA dinilai tidak fasih dan tidak memahami letak bahasa, kekurangannya dikait–kaitkan karena ia tidak menyelesaikan pendidikannya. HAMKA berkecil hati dengan dirinya karena tidak adanya pendidikan yang ia selesaikan. Saat Muhammadiyah membuka sekolah di Padang Panjang, banyak yang melamar menjadi guru. Pada hari pengumuman, HAMKA merasa kecewa dengan hasilnya, yang lagi–lagi dikarenakan pendidikan yang tak terselesaikan.

HAMKA pernah diceritakan pamannya, bahwa ayahnya berjanji akan mengirimnya belajar di Mekkah selama 10 tahun. Karena takut pada ayahnya, ia merencanakan kepergiannya sendiri tanpa memberitahu ayahnya, ketika ditanyapun ia hanya berkata ingin pergi jauh. Dengan bantuan ongkos dari temannya, HAMKA berangkat dengan kapal Jamaah haji Indonesia pada bulan Rajab 1927. Selama di kapal ia amat dihormati lantaran kepiawaiannya dalam membaca Al-Qur’an.

Sampai di Mekkah, ia mendapat tumpangan di rumah salah satu pemandu haji. Guna memenuhi kebutuhan hidup, ia bekerja di salah satu percetakan mertua seorang ulama di Minangkabau, dari sini beliau dapat membaca buku–buku klasik dan buletin islam dengan Bahasa Arab. HAMKA sempat berencana menetap di Mekah, hingga ia bertemu dengan Agus Salim seorang diplomat Indonesia yang berkata padanya: “Banyak pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik mengembangkannya di tanah airmu sendiri”.

HAMKA diakui secara luas sebagai seorang pemikir Islam Asia Tenggara. Seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus yang sangat terkenal di Indonesia. Seorang pembelajar otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan. HAMKA banyak merangkai karya indah dalam berbagai bidang, salah satu karya agung yang melambungkan namanya, yaitu Tafsir Al-Azhar.

Dalam karyanya yang begitu agung, ada cerita yang tersirat dalam setiap patah perkataan yang ia nukilkan. Di balik jeruji ia menuliskan setiap kata dengan khidmat, malam ia habiskan dengan lantunan ayat-Nya, dan siang ia selesaikan dengan merangkai kata menafsiri ayat-Nya. Atas jasa dan karya–karyanya, HAMKA telah menerima anugerah penghargaan, yaitu Doktor Honoris Causa dari Universitar Al–Azhar Kairo dan Universitas Kebangsaan Malaysia, gelar Datuk Indono dan Pangeran Wiruguno dari pemerintah Indonesia.

Pada tanggal 24 Juli 1981 HAMKA berpulang ke rahmatullah. Tepatnya setelah shalat jum’at, dengan akhir kalamnya laa ilaaha illaallah. Terdapat keganjilan, dimana jari telunjuk kanan masih bergerak–gerak, sementara dokter sudah menginformasikan kematiannya. Ketika dilaporkan kepada abah, salah satu guru beliau, perihal keganjilan itu, abah kemudian memberi pesan yang dibawakan seorang wakil. Ketika wakil abah telah sampai di tempat jenazah sang buya, ia mengatakan: “Sudah sudah, ruhmu sudah kembali, dan jasadmu harus tenang.” Maka, berhentilah jemari itu dari mengikuti gerakan dzikir. Sungguh kematian yang sangat indah.

Dari sini kita mengambil pelajaran, bahwa antara murid dan guru takkan terikat kecuali dengan adanya ikatan batin diantara mereka. Maka, benarlah apa yang pernah dikatakan Al-Ghazali “Ilmu tanpa amal, gila. Dan amal tanpa ilmu, sia-sia.” Salah satu cara untuk mengamalkan ilmu kita adalah dengan thariqat. Sebab itu adalah bukti pengaplikasian kita atas ilmu yang kita miliki, yang mana pada thariqat itu menekankan pendekatan kita sang makhluk kepada-Nya Sang Kholiq.

*Penulis adalah Editor Majalah Cakrawala IKPM Kairo periode 2018-2019 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here