Home Artikel Pujian Sebagai Wujud Kontemplasi Cinta

Pujian Sebagai Wujud Kontemplasi Cinta

419
0

Oleh: Maulina Dewi*

أعيا الورى فهم معناه فليس يرى # في القرب والبعد فيه غير منفحم

كالشمس تظهر للعينين من بعد # صغيرة وتكل الطرف من أمم

Manusia tak berdaya mengulas hakikat kenabiannya,

Meskipun ia dari kalangan dekat maupun jauh

Karena baginda nabi bagai matahari yang nampak kecil dari kejauhan,

Tak kuasa mata menatap karena kuatnya pancaran sinar darinya

(Imam al-Bushri)

Mereka berkata, “Kullu al-Qulubi ila al-Habibi tamilu”, Setiap sanubari akan condong kepada sang kekasih. Sebagaimana pembenci berusaha menjauh dari yang ia benci, demikian juga pencinta ingin selalu dekat dengan pujaannya.  Semakin seseorang membendung kerinduan kepada kekasihnya, semakin dalam pula rasa cinta dalam relung hatinya. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya sang kekasih. Ribuan memori terekam yang paling diingat adalah kekasih. Jadi wajar saja jika para pencinta meng-implementasikan cintanya dalam bentuk tindakan. Karena cinta yang belum di-implementasikan dalam bentuk tindakan, bukanlah bentuk paripurna dari cinta itu sendiri.

Allah Swt telah mengisyaratkan cinta yang sempurna (perfect) adalah yang diikuti dengan bukti,  bukti itu berbentuk tindakan, dalam firman-Nya:

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم    

Katakanlah Wahai Muhammad: “Jika engkau benar-benar mencintai Allah Saw, maka ikutilah aku! Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”.

Sebagai penganut ajaran baginda nabi Muhammad Saw, kita seringkali mengelu-elukan bahwasanya Rasulullah Saw adalah kekasih sekaligus pujaan kita.  Bagaimana tidak, kecintaan kepada Rasulullah Saw adalah syarat sempurnanya iman dan mematuhi perintahnya tanpa didasari cinta tidak bisa dikatakan iman yang sempurna. Mereka berkata:

 “حبي لغير محمد قد أتصنعه،  وحبي له فطر لا يتصنع ”.

“Cintaku kepada selain nabi Muhammad Saw bisa saja dibuat-buat, tapi cintaku kepada nabi Muhammad Saw adalah fitrah dan lahir dengan sendirinya”. 

Sebagaimana telah masyhur di kalangan para pecinta, suatu hari Sahabat Umar bin Khattab datang kepada nabi kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, Sungguh aku mencintaimu lebih dari semua orang,  kecuali diriku”.  Kemudian  nabi Saw menjawab: “Tidaklah (sempurna)  iman seseorang sampai ia mencintaiku melebihi dirinya, ayahnya, anaknya dan semua manusia”.  Kemudian Umar berkata: “Kalau begitu, aku mencintaimu melebihi diriku, ayahku, anakku,  dan semua manusia”.  Dan nabi pun tersenyum, kemudian berkata: ” Al’ana Ya Umar..”  (sekarang wahai Umar). 

Mungkin  penjelasan yang biasa kita dengar dari ulama mengenai hadis di atas  bahwasanya Sayyidina Umar sebelumnya tidak mencintai nabi melebihi dirinya sendiri. Namun Syekh Amr Wardani menjelaskan bukan demikian maksudnya. Saat kita belajar tarikh tasyri’,  kita akan menemukan istilah “Muwafaqatu Umar“, alias ada beberapa Syariat Allah Swt yang diturunkan diawali dengan gertakan hati Sayyidina Umar.  Termasuk kejadian ini,  dalam hati Umar, beliau sebenarnya telah mencintai Rasulullah melebihi dirinya, namun takut hal itu menyalahi syariat,  atau tidak sesuai dengan wahyu,  atau takut cinta yang demikian dianggap berlebihan. Karena tidak mungkin rasa cinta berubah dalam hanya beberapa detik kalau sebelumnya belum ada rasa.  Oleh karenanya,  dalam hal ini  Allah Swt ingin menjelaskan melalui sabda Nabi-nya, bahwa mencintai nabi justru harus melebihi kecintaan terhadap seluruh umat manusia.

Ada sebagian orang yang salah paham dalam memahami sabda nabi Saw :

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم

“Janganlah kamu mengkultusku sebagaimana umat nasrani mengkultus nabi Isa As”.

Mereka memahami bahwa hadis ini adalah dalil pelarangan memuji nabi Muhammad Saw.  Jika kita menggunakan akal logika syariat, dengan dibarengi perangkat ilmu bahasa yang memadai,  bukan demikian maksud yang sesungguhnya.  Justru hadis ini adalah dalil diperbolehkanya berlebihan dalam mencintai, memuji,  dan bergantung dengan nabi Muhammad saw.  Artinya memuji dan mencintai nabi selain cara seperti “Nasrani mengkultus nabi Isa”,  yaitu menganggapnya sebagai anak Tuhan. Sangat-sangat tidak mungkin ada umat Muhammad Saw yang meyakini bahwa nabi Muhammad Saw adalah anak Tuhan, atau bahkan Tuhan. Karena nabi sendiri pernah berdoa supaya umatnya tidak ada yang menyembahnya setelah wafat nanti. Jika berkeyakinan bahwa berlebihan mencintai nabi adalah bentuk mensyirikkan Allah, atau bentuk pengabdian kepada nabi, itu artinya ia meyakini doa nabi Muhammad Saw dulu tidak dikabulkan,  dan dakwah nabi belum tersampaikan secara sempurna. 

Saat seseorang jatuh pada sang pujaannya, tidak hanya visi misi hidupnya yang ditiru, tetapi dari gaya hidup, penampilan, sampai cara berjalanpun diikuti. Abul Qasim  bin Abdullah Saw merupakan sosok pujaan hakiki. Segala hal yang ada pada diri beliau adalah istimewa. Saking istimewanya, akal dan hati manusia sangat lemah dan tidak berdaya untuk mengutarakan keistimewaan yang telah lebih dulu diistimewakan oleh Sang Pemilik jagad raya. Sebagaimana sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani mengatakan dalam bukunya al-Madh al-Nabawy baina al-Ghuluw wa al-Inshof, “Tidak ada yang bisa menjelaskan keistimewaan nabi Muhammad Saw dengan penggambaran yang ekplisit kecuali Allah Swt al-Adzim azza Wajalla”.

Ibn Faridh dalam syair nya berkata:

أرى كل مدح في النبي مقصرا #   وإن بالغ في المثنى عليه وأكثرا

إذا الله أثنى بالذي هو أهله #  عليه فما مقدار ما تمدح الورى

“Aku melihat semua orang yang memuji nabi meski sudah berlebihan dan memperbanyak dalam pujiannya, tidak lain adalah bentuk merendahkan dirinya kepada beliau. Karena Allah Swt telah memujinya dalam al Quran  dengan sanjungan yang paling tinggi. Maka tidak ada bandingannya pujian manusia kepadanya”.

Jika tadi dijelaskan implementasi dari cinta itu berbentuk tindakan, maka tindakan itu tidak terbatas caranya. Ada yang melampiaskannya dalam bentuk mencintai hadist nabi, mempelajarinya, mengajarkannya, bahkan menulis lembaran-lembaran buku berisi tentang segala yang berkaitan dengan nabi Muhammad Saw, mulai dari sejarah, sifat, perkataan dan kebiasaannya.  Namun ada juga yang melampiaskan cintanya kepada nabi dalam bentuk syair pujian yang dirajut dengan keindahan bahasa dan kalimat. Tentunya hal itu adalah salah satu cara yang boleh dilakukan.

Tidak sedikit kita telah mendapati syair-syair yang berisi pujian tentang Rasulullah Saw dalam karya para penyair primitif maupun modern yang telah ditorehkan pada bait-bait eksotisnya. Bahkan tidak hanya sebatas pujian, pujian tersebut mereka yakini bisa menjadi perantara kebaikan. Dengan pujian tersebut mereka dapat mengimplementasikan setiap hajatnya, dengannya dapat memerdekakakan hamba sahaya, dengannya dapat menggugurkan dan menghapuskan dosa-dosa, bahkan dengannya pula bisa menarik kaum non-Muslim ke dalam barisan Muslim.

Para ulama juga sepakat bahwa sanjungan kepada Rasulullah Saw merupakan salah satu amal terbaik dan wasilah menggapai impian; dunia maupun akhirat. Misalnya seperti Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi yang menyatakan dalam baitnya bahwa pujian yang ditujukan kepada Rasulullah Saw menjadi wasilah yang dapat mengantarkannya kepada keselamatan. Syair tersebut berbunyi:

ولست أخاف اليوم بأسا لأنني # جعلت مديحي فيه للفوز سلما

وقفت له قلبي وعقلي وخاطري # وفكري فشغلي أن أصوغ وأنظما

Aku tidak takut kesedihan akan menimpaku pada suatu saat nanti, karena telah kujadikan pujian-pujian (kepada Nabi)  ini sebagai tangga untuk keselamatan.  Telah kukerahkan hati, pikiran, perasaan, konsentrasi dan kesibukan hanya untuk merajut syair pujian ini”.

Sangat banyak sekali penyair cakap pada setiap zaman dan negerinya yang melontarkan pujiannya kepada Rasulullah Saw sebagai wujud kontemplasi cintanya, diantaranya: Hasan bin Tsabit Ra al-khazarjy al-Anshory al-Hadromy (penyair yang hidup pada  dua masa), Ashid bin Salmah al-Sulma, Qays bin Bahr al-Asyjai, al-Abbas bin Mardas al-Sulma, Kulaib bin Asid, Fadholah bin Amir allaisty, Imam Abdullah al-Haddad, Abu Bakar bin Syihab, Al-Shobuni, dan yang sangat tersohor namanya di kalangan kita semua yaitu Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Bushiri.

Aneh tapi nyata.  ketika para pujangga atau penyair membacakan bait-bait yang membahas tentang makhluk mulia yang namanya di dampingkan dengan Sang maha pencipta ini respon jiwa kita sangat berbeda dibandingkan saat membaca atau mendengar syair-syair  yang lainnya. Karena syair pujian tersebut dirangkai dengan bumbu keikhlasan dan kejujuran, lalu disirami ketulusan cinta, dan perasaan yang dilandasi iman.

Komponen infialy (emosional) memang menjadi instrumen utama dalam pondasi penulisan syair arab. Oleh karenanya ketika merangkai pujian, Sang penyair terjun ke alam perasaan yang mendalam dengan tidak menegasikan peran akal sebagai motorik yang dapat menyertakan komponen bangunan lainnya. Seperti ilmu balaghoh, ilmu nahwu, serta ilmu arudlnya. Ditambah lagi syair pujian ini dikolaborasikan dengan prospek kesempurnaan Rasulullah Saw dan keutamaannya dalam penyampaian risalah Islam yang dapat merevolusi peradaban.

Berbeda halnya dengan syair-syair Arab lainnya, khususnya syair-syair yang terdapat pada zaman pra-Islam atau yang kita kenal dengan zaman jahili. Notabene syair-syairnya mengandung unsur honorarium yang dipersembahkan kepada raja suku atau kalau tidak syairnya dideklarasikan hanya sebagai unjuk gigi menjunjung kabilah dan keturunan masing-masing. Pada intinya timbal balik buat penyairnya hanya sebuah sanjungan atau hibah yang sifatnya fana.

Lalu saat kita mendengar syair-syair pujian ini dilantunkan yang diiringi sholawat atau hanya nama Muhammad Saw disebutkan, sedangkan hati kita tidak sedikitpun bergetar atau adrenalin kita tidak merespon, atau tidak juga menambah kecintaan kita kepada baginda Rasulullah Saw, apa yang salah dalam jiwa kita ? Maka kita perlu was-was dan bermuhasabah, jangan-jangan cinta yang kita ekspresikan lewat lisan hanya aksi suara yang terbawa udara tanpa reaksi. Kerinduan yang kita taburkan di media sosial hanya  refleksi fana yang tertelan menitnya masa penguploadan. Naudzubillah min dzalik.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here