Home Al Azhar Representasi Tajdid dalam Perspektif Abu Musa

Representasi Tajdid dalam Perspektif Abu Musa

184
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Tajdid, atau yang sering dimaknai dengan sebuah usaha untuk menghidupkan dan menyegarkan kembali (ajaran) agama, bukanlah barang baru. Baginda Nabi telah menjanjikan kedatangan para eksekutornya, yakni mujaddid, di setiap seratus tahun. Generasi awal Islam  telah menjadi teladan dari gerakan ini. Sejarah pun turut merekam pentingnya pembaruan dalam majunya peradaban.

Namun ditengah urgensitasnya, tajdid justru dijauhkan dari arti yang substansial. Orang sibuk berbicara soal tajdid dan pembaruan; mendiskusikannya dan mendebatkannya, padahal tidak mengerti apa hakikatnya. Fenomena ini tentu kontras dengan ulama terdahulu; yang sibuk berfikir, menulis karya, mereformasi pemikiran, menumpaskan kebatilan, dsb, tanpa harus mendisukusikan apa dan bagaimana tajdid itu.

Berangkat dari sini, Abu Musa (AM) dalam kitabnya Min Madākhil al-Tajdīd menyatakan bahwa, tatkala tajdid menjadi sesuatu yang urgen di era ini, ia haruslah dimaknai secara esensial. Berbeda dengan sejumlah pemikir lainnya, Pakar Ilmu Balaghah milik al-Azhar tersebut tidak mengharuskan tajdid dalam sesuatu yang ‘wah’ atau spektakuler; seperti mereformasi aspek pendidikan atau politik misalnya. Namun ia melihat pada satu perspektif esensial, yang menurutnya, apabila syarat dan ketentuannya terpenuhi, maka setiap orang –bahkan Anda sekalipun– berhak diberi gelar mujaddid.

Namun sebelum menjelaskan perspektif AM, ada satu hal yang perlu saya ingatkan, yakni: ketika berbicara soal memperbarui agama, itu bukan berarti firman Allah yang menyatakan agama Islam telah sempurna dan final akan kita langgar. Itu sama sekali bukan.

Yang permanen dan tidak akan dapat diperbarui, sebagaimana pada ayat tersebut, adalah “prinsip” agama yang telah termaktub dalam al-Qur`an dan Sunnah. Adapun “rincian ajarannya” lah yang akan mengalami perubahan dan pembaruan, sebagaimana yang pernah terjadi  pada zaman Nabi hingga para sahabatnya. Hal ini tentunya dengan berpedoman pada prinsip tersebut serta tujuan hadirnya agama (maqāshid al-syarī’ah). (lihat Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami, hal. 13)

Melanjutkan padangan AM, menurutnya, ajaran Islam akan terus mengalami pembaruan sepanjang zaman. Pembaruan ini merupakan bentuk eksistensi dan kemaslahatan bagi umat di setiap zaman dan tempatnya.

Karenanya –yakni karena pemahaman ajaran ini akan terus ter-aktualkan setiap masanya– maka yang dituntut bagi seorang muslim adalah; (i) memahami ajaran islam dengan benar dan mantap (ii) menggunakan daya akalnya untuk melahirkan sebuah pemikiran atau hukum baru yang ia intasirikan dari sebuah teks. Poin kedua inilah yang menjadi fokus AM dalam pandangannya soal tajdid.

Fokus pada kata “melahirkan” yang ada di poin kedua. Kata melahirkan menuntut suatu objek, yaitu sesuatu yang dilahirkan. Maka dalam konteks ini, prodak atau hasil yang dilahirkan dari pengamatan seseorang akan teks, bisa berupa sebuah intisari hukum (jika medannya adalah teks agama) atau ilmu dan pemikiran baru (jika objeknya adalah perkataan ahli ilmu)

Selanjutnya, baik intisari hukum atau prodak pemikiran, keduanya adalah hal baru yang belum pernah dibincangkan oleh siapapun sebelum mereka. Ia adalah sebuah tesis yang menghasilkan hal baru yang relevan dengan zaman dan tempat serta penuh dengan muatan kemaslahatan. Dan nantinya hasil atau prodak inilah yang menurut AM dapat merepresentasikan makna ‘pembaruan’ atau tajdid

Jangan kaget, hal seperti ini sudah pernah diajarkan ulama dulu bahkan oleh baginda Nabi. Sebagai contoh, tatkala ditanya oleh seseorang perihal apakah ia harus menggantikan haji milik ibunya yang bernazar, Nabi tidak melontarkan jawaban “iya” atau “tidak”. Nabi justru menjawab dengan sebuah permisalan: “seandainya ibu kamu memiliki hutang, apakah kamu harus menggantikannya?”

Dari jawaban ini, secara tersirat, Nabi ingin mengajarkan umatnya untuk menggunakan daya akalnya. Yakni bagaimana mengambil kesimpulan hukum yang belum diketahuinya dengan meng-qiyaskan atas apa yang sudah ia ketahui. Kalau boleh diandaikan, seakan baginda Nabi mengeluarkan preposisi seperti ini:

Hendaknya kalian itu mereproduksi dari apa yang kalian tau (dari teks agama) sebuah ilmu atau pemikiran yang relevan dengan zaman, tempat, kejadian, dan problematika yang Kalian hadapi. Hal ini karena perkataanku (Rasul) sangatlah terbatas (mahdūd). Adapun INTISARI dan QIYAS yang bisa Kalian dapatkan darinya tidaklah terbatas (ghoiru mahdūd). (lihat Min Madaakil al-Tajdid, hal. 29)

Hal senada juga disampaikan oleh sarjana hukum Islam dari mazhab Maliki dan juga seorang filsuf masyhur, yaitu Ibnu Rusyd. Dalam kitabnya Bidayat al-Mujtahid ia mengatakan bahwa teks wahyu jumlahnya terbatas, sementara peristiwa yang terjadi dalam sejarah manusia tak terbatas. Bagaimana mungkin teks yang terbatas hendak “copying with” atau menghadapi yang terbatas? Inilah nantinya yang menjadi cikal bakal qiyas melalui ijtihad atau penalaran rasional.  

Namun yang saya amati, AM sepertinya tidak begitu mengerucutkan pandangannya soal tajdid —menurut perspektifnya—dalam ranah hukum. Selain karena bukan pekerjaan yang mudah, hal ini juga karena banyak yang perlu disiapkan dalam mengintisari sebuah hukum.

Menurut saya, ia lebih menitikberatkan perspektifnya soal tajdid terhadap perkataan ahli ilmu; ulama. Sebab pengamatan yang baik terhadap kitab para ulama akan melahirkan sesuatu yang baru. Begitu kata AM

Tatkala membaca kitab seorang ulama, Kalian, kata AM, jangan hanya fokus untuk memperoleh ilmunya saja. Akan tetapi amati juga “gaya berfikir” si penulis. Sehingga  dengan pengamatan itu kalian bisa memperoeh “gaya” tersebut atau bahkan melahirkan darinya pemikiran baru yang –sekali lagi– belum disinggung oleh siapapun, bahkan penulisnya

Untuk memperjelas metode ini, AM mengisahkan sosok Al-Jarmiy, seorang ulama yang pakar dalam ilmu hadis. Abdurrahman al-Jarmiy pernah berkata seperti ini: “selama 30 tahun, aku mengeluarkan fatwa menggunakan Al-Kitāb milik Imam Sibaweih”. Pertanyaannya: buku Imam Sibawaih itu berbicara soal nahwu, lantas bagaimana ia bisa menjadi rujukan fatwa yang medannya adalah ilmu fikih?

Kata Dr. Abu Musa, inilah teori yang saya maksud di atas. Imam Sibaweih memang menelaah aspek bahasa. Tapi ia tidak pernah membeberkan kita gaya berfikir serta metode observasinya. Al-Jarmiy lah yang mengamati hal tersebut. Setelah diamati dan ditelaah, “gaya” atau “cara berfikir” Sibaweih itu pun diaplikasikannya dalam meneliti persoalan hadis. Sehingga ia bisa ‘mereproduksi’ dari Al-kitāb —yang muatannya nahwu— sebuah pemikiran baru dalam meneliti hadis hingga dapat memudahkannya dalam memberikan fatwa. Inilah yang kita maksud dari kata “melahirkan ilmu” sedari awal.

“Jika teori ini dapat kalian terapkan dalam membaca buku apapun itu, sungguh, kalian berhak diberi gelar mujaddid, bahkan lebih tinggi dari seorang pembaharu,” tegas AM

Atau dengan contoh lain: Ketika membaca kitab Jurumiyyah, misalnya, kalian jangan hanya lihat buku itu sebagai ilmu nahwu saja. Tapi lihat juga sebagai “otaknya” Ibnu Ajrum—sekali lagi otaknya Ibnu Ajrum. Amati isinya. Ambil gayanya. Terapkan metodenya dalam berbagai hal. Karena nantinya, jika Kalian berhasil, maka sungguh Kalian telah menemukan pemikiran baru berupa “otaknya” ibnu Ajrum yang Kalian aplikasikan di medan lain, yang mana Ibnu Ajrum tidak pernah membahasnya. Kira-kira seperti itulah yang dimaksud Abu Musa.

Tapi ingat, bukan berarti Kita bisa melakukan “pembaruan” lewat reproduksi pemikiran seperti ini seenak jidat kita. Syarat mutlak dari hal ini adalah, seperti yang dikatakan Muadz bin Jabal kepada Rasul ketika hendak diutus ke Yaman, harus bersungguh-sungguh (al-Jid) dan mengerahkan semua kemampuan.

Di sinilah hebatnya Dr Abu Musa sebagai pemerhati bahasa. Ia memandang ada kesinambungan antara kata “al-Jidd” “al-Ijtihad” dan “tajdid” . Ketiga kalimat tersebut memiliki medan semantik yang sejalur. Yakni: al-Jidd atau bersungguh-sungguh adalah syarat mutlak dari ijtihad –yang dalam hal ini kita artikan sebagai “melahirkan” pemikiran baru tadi. Dan nantinya, produk ijtihad ini yang merupakan intisari hukum atau pemikiran baru yang lahir dari suatu teks, secara otomatis akan dilabeli tajdid (sesuatu yang baru).   

Inilah perspektif Abu Musa dalam permasalahan tajdid. Kalian, katanya, tak perlu sibuk-sibuk mendiskusikan soal pembaharu. Buka buku kalian, berfikirlah, lahirkan produk pemikiran baru, dan berikan umat ini suatu warna dalam khazanah Islam yang belum pernah dibahas oleh orang sebelum Kalian. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Ulumul QUr`an Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here