Home Opini Ruh Moderasi dalam Ranah Teologi

Ruh Moderasi dalam Ranah Teologi

37
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Suatu hari Rasulullah pernah didatangi orang yang mengaku berzina. Rasul pun menyuruh untuk diambilkan sebuah cambuk. Ketika dibawakan sebuah cambuk yang agak rusak, beliau berkata: “berikan yang lebih baik.” Dan ketika dibawakan yang lebih dari cambuk sebelumnya, Rasul pun berkata, “pilihkan yang kurang dari ini”. Sehingga ia pun akhirnya menghukum dengan cambuk yang tidak ‘lebih’ dan tidak juga ‘kurang’.

Sebagai sebuah catatan dari kisah ini, Dr. Abdul Shamad Muhanna mengatakan: “lihatlah bagaimana Rasulullah dalam memperlakukan orang yang bersalah pun ia tidak melampaui batas. Ia bahkan harus memilih cambuk yang sesuai agar tidak menyakiti pelaku, yang mana tidak ‘kurang’ dan tidak juga ‘berlebihan’ (Ma’âlim al-Manhaj al-Azhariy: 49)

Menurut Dr. Muhanna kisah di atas adalah gambaran kecil dari moderasi yang ada pada ajaran Islam, khususnya dalam ranah syariat atau muamalah sesama manusia. Perlu diketahui, moderasi atau wasatiyyah yang diambil dari kata wasath merupakan nama bagi sesuatu yang berada di antara dua ujung (kutub) dari sesuatu.

Al-Madani dalam kitabnya Wasatiyyat al-Islam menyebutkan bahwa “pertengahan sesuatu” adalah bagian terbaik dari suatu hal. Seperti halnya pertengahan padang rumput yang lebih baik dari sisi-sisi di sekitarnya, atau seperti pertengahan hewan tunggangan di mana menjadi posisi terbaik bagi kestabilan penunggang dibanding posisi di kedua ujungnya. Dan inilah mengapa kita sering mendegar ungkapan “Sebaik-baik perkara adalah pertengahannnya.”

Dalam kitab tersebut al-Madani secara implisit mengatakan bahwa moderasi menjalar ke seluruh aspek ajaran Islam dari Akidah, Syariah dan Akhlak. Namun dalam tulisan kali ini penulis akan menelisik implementasi ruh moderasi Islam dalam ranah akidah ataupun teologi.

Meski sering dikatakan sebagai “garis merah” dalam ranah agama, namun akidah tidak ‘seseram’ yang digambarkan oleh banyak orang. Akidah memang bukan ranah ijtihad, namun dalam aplikasinya seorang muslim akan merasakan bahwa konsep akidah yang ia yakini dan jalani menempati posisi yang amat moderat, tidak terlalu kiri tidak juga berlebihan ke kanan.

Contoh pertama yang ingin penulis sajikan adalah bagaimana Islam memperkenalkan konsep moderasinya dalam cara pandang terhadap Tuhannya. Dalam hal ini Islam menengahi antara mereka yang menolak tuhan secara utuh (ateis) dan juga yang berlebihan dalam memandang tuhan hingga menjasmanikan-Nya ataupun menyerupakan-Nya layaknya makhluk (mujassimah). Padahal jika ditelisik, al-Qur`an tidak pernah menjelaskan kepada kita tentang hakikat Dzat Allah ataupun substansi pada diri-Nya. Melainkan mengarahkan kita untuk memperhatikan dampak kekuasaann-Nya dalam penciptaan dan pengaturan.

Inilah mengapa ketika berdebat dengan Fir’aun dan ditanya “Apa itu Tuhan semesta alam?” –yang mengindikasikan adanya makna substansial akan dzat Allah– Nabi Musa menjawabnya dengan tiga argument: (i) “Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kalian adalah orang-orang yang meyakini.” (ii) “Tuhan kalian dan tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu”. (iii) “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada pada keduanya jika kalian berakal”.

Dan jika diteliti, ayat yang ada di surat al-Syu’ara ini sama sekali tidak menjelaskan tentang dzat Allah. Dan secara tersirat ayat ini menghimbau seorang muslim untuk beriman kepada Allah dan terus menelaah tanda-tanda yang diberikan-Nya. Kita wajib beriman pada tuhan, namun tidak “membagaimanakan” hakikat dan esensi Tuhan, sebab itu bukan ranah akal. Orang Ateis itu tidak mempercayai tuhan. Adapun agama di luar Islam mereka membagaimanakan Tuhannya. Maka Islam mempunyai konsep: wajib percaya akan Tuhan namun tidak membagaimanakan-Nya.

Contoh selanjutnya adalah konsep Islam dalam memahami takdir. Sebagaimana yang kita ketahui, dalam hidupnya, manusia mempunyai kehendak dan kuasa atas setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Namun pertanyaannya apakah kehendak itu seratus persen dari dirinya, sebagaimana yang dipahami kelompok qadariyyah, atau manusia sama sekali tidak memiliki kuasa dan kehendak atas dirinya, yang dalam hal ini ia ibarat kapas yang terbang mengikuti kemana angin menerbangkannya sebagaimana yang dipahami kelompok jabariyyah.

Maka dalam hal ini kita dikenalkan dengan konsep “kasab” atau “iktisab” yakni adanya dua kesinambungan ketetapan yang ditakdirkan oleh Tuhan dengan usaha yang kita kerahkan –walaupun usaha itu sendiri merupakan bagian dari takdir. Gampangnya seperti ini: agar dapat lulus ujian kita tidak bisa hanya berdoa saja, namun harus belajar sebagai usaha yang kita kerahkan. Maka, jika sudah bersungguh-sungguh kelak kita akan lulus, “walaupun pada hakikatnya” usaha yang kita kerahkan tersebut merupakan takdir Allah juga. Dengan ini kita menengahi kedua kelompok tersebut dengan tidak pasrah pada takdir semata dan tidak juga berlebihan dengannya.

Kaidah ini diperjelas oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari, imam Ahlussunnah Waljamaah, bahwa dalam perbuatan yang dikehendakinya (al-Af’al al-Ikhtiyariyyah), seorang hamba sama sekali tidak menciptakan perbuatan tersebut. Sebab jika demikian, berarti di sana ada dua pencipta dalam satu dampak (ijtima’ muatsarain ala atsarin wahid) dan itu mustahil. Oleh karena itu ketika seorang hamba sedang menulis, maka pekerjaan “menulis” tersebut merupkan kuasa seorang hamba yang berkolaborasi dengan kuasa sang pencipta. Ini ibarat dua orang yang memukul sebatang pohon menggunakan satu tongkat yang dipegangnya secara bersamaan. Dan kesimpulannya adalah, semua yang kita kerjakan adalah kuasa Allah namun kita tidak boleh pasrah begitu saja.

Dan contoh terakhir yang ingin penulis sampaikan adalah bagaimana Islam memahami pemeluknya dalam sikap beragama –yang mana dalam hal ini ranah akidah bermain di dalamnya. Islam menegahi sikap dua kelompok: (i) mereka yang berlebihan dalam mengartikan ‘kebebasan’ sehingga menerobos batasan-batasan yang telah dibuat, yang dalam hal ini adalah kelompok sekuler-liberal yang teradopsi pemikiran orientalis barat layaknya Nashr Hamid Abu Zaid yang mengatakan bahwasanya al-Qur`an adalah produk budaya yang telah ditulis oleh Nabi Muhammad, dan juga (ii) kelompok ekstrimis yang mudah memvonis kafir saudara muslimnya bahkan hingga memeranginya karena dianggap tidak menjalankan syariat Islam sebagaimana yag diinginkan.

Untuk kelompok pertama, Islam sangatlah menentang sikap seperti demikian. Dr. Abas Syauman dalam kitabnya Nazarat fi al-Tajdid menegaskan bahwa orang-orang model seperti ini ialah orang yang mempunyai semangat pembaharuan dan reformasi terhadap ajaran Islam namun tidak mengetahui batasan-batasan yang ada. Melakukan pembaharuan bukan berarti menghancurkan pondasi yang telah dibangun, melainkan membenahi apa yang kurang ataupun mengganti apa yang sudah tidak cocok. Ibarat sebuah rumah, bukan pondasinya yang dihancurkan melainkan cetnya lah yang diganti. Prof. Quraish Shihab menyebutnya sebagai “penyegaran” terhadap ajaran agama.

Adapun kelompok kedua, rasanya tidak perlu dibahas. Sebab sikap mereka yang demikian sama sekali tidak menggambarkan Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Jangankan memvonis kafir, Rasulullah dulu pernah marah kepada Usamah bin Zaid karena telah membunuh orang yang telah mengucap syahadat meski Usamah tau bahwa perkataan itu hanyalah tipuan yang dibuat oleh orang tersebut agar tidak dibunuh. Para ulama akidah sepakat bahwasanya tidak boleh bagi seorang muslim memvonis kafir ahli kiblat selagi tidak ada perbuatan yang membuatnya keluar dari Islam.

Epilog

Ada banyak contoh lain tentang konsep moderasi dalam ranah akidah jika ingin ditelaah. Tidak hanya akidah, dalam al-Qur`an banyak sekali perintah ibadah yang dibarengi dengan naungan moderasi, seperti misalnya dalam berinfak atau berpakaian yang mana tidak diboleh kikir namun tidak boleh juga berlebihan; dalam penggunaan akal kita disuruh oleh Allah untuk memakai peran akal yakni berfikir dan dilarang mengabaikannya. Sebab yang demikian lebih parah dari hewan, karena mempunyai akal namun tidak digunakannya. Dan masih banyak lainnya lagi.

Di akhir penulis ingin menyampaikan hal penting, yakni: moderasi yang dipaparkan di atas ialah ruh yang ada pada konsep teologi Islam, bukan sebuah “sikap” seorang muslim dalam menghukumi suatu perkara.

Gampangnya begini: jika ada orang yang berani melecehkan Rasulullah maka sikap kita bukan memosisikan diri di tengah-tengah, yakni tidak menyalahkan dan tidak juga membenarkan, karena beranggapan harus bersifat toleran dan moderat. Ini tidak tepat! Kita harus katakan dia salah dan harus mendapat hukuman yang setimpal, bukan malah berada di tengah-tengah dan tidak memiliki sikap. Kira-kira seperti itu yang dapat disampaikan. Wallahu a’lam

*Penulis adalah Mahasiswa strata satu Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here