Home Opini Santuy Menghadapi Post-Truth ala Ibnu Khaldun

Santuy Menghadapi Post-Truth ala Ibnu Khaldun

265
0


Oleh: S Rahman*

Istilah post-truth sendiri berarti kecenderungan mengedepankan argumen emosional daripada data dan fakta lapangan. Memang di antara emosi itu ada cinta, atau emosi positif, yang merupakan salah satu inti ajaran sufi. Tapi tidak melulu segala hal harus melibatkan cinta (baca: emosi). Bayangkan, bagaimana bingungnya Newton jika harus menjelaskan prinsip gravitasi dengan cinta, atau bagaimana bingungnya seorang ekonom jika harus menjelaskan sebab inflasi dengan cinta pula. Bahkan calon mertua pun tidak akan begitu saja merelakan putrinya dinikahi pria yang modalnya cuma cinta.

Lebih dari itu semua, konsekuensi yang perlu diwaspadai adalah runtuhnya objektivitas dan kerangka kebenaran dalam dunia ilmiah. Kebenaran tidak bisa lagi dipertanggung jawabkan, karena emosi merupakan hal subjektif yang berbeda pada tiap individu, maka tidak akan ada nilai yang bisa dijadikan acuan bersama. Semua orang bisa seenak udelnya, semua pernyataan bisa jadi relatif. Dalam lingkup negara, undang-undang bisa ditiadakan, sedangkan dalam lingkup agama bahkan kitab suci, bukan sekedar penghayatan isinya, bisa diragukan kebenarannya oleh pengikut agama itu sendiri.

Sayangnya, kemajuan teknologi informasi yang kita nikmati saat ini justru bisa menjadi ladang subur untuk mengembang biakkan post-truth. Membangun wacana tertentu di publik bisa menjadi sangat mudah, fenomena perang hastag/ tagar pada pemilu kemarin bisa menjadi bukti nyata. Pun dalam kasus ini, jika sebuah hastag tidak mendapatkan massa pendukung, setidaknya ia telah masuk ke gudang informasi pembacanya, dan mungkin di lain waktu saat muncul hastag senada dari sumber lain, ia akan mendapatkan pembenaran dan bahkan menjadi bahan pertimbangan.

Untuk menghadapi post-truth yang erat hubungannya dengan berita bohong atau hoax, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab-sebab adanya berita bohong dalam tujuh poin. Loh kenapa bukan solusi yang ditawarkan? Saya jawab dengan pertanyaan juga, bagaimana kita bisa menemukan solusi jika tidak tahu akar masalah yang dihadapi? Tujuh poin tersebut adalah:

  1. Tendensi ideologi, mazhab dan keyakinan pribadi.
    Saat meyakini ideologi tertentu, akan susah bagi seseorang melakukan kritik informasi. Karena memang yang dicari bukanlah informasi objektif melainkan pembenaran-pembenaran atas apa yang diyakini.
    Bukankah itu adalah cara kerja agama, berangkat dari satu keyakinan? Iya benar, tapi tidak semuanya benar. Dalam tradisi Islam misalnya, yang kita anggap keyakinan dasar, seperti adanya Tuhan absolut yang satu, bisa dibuktikan secara ilmiah dan argumentatif oleh para mutakallim.
  2. Kepercayaan berlebih pada pembawa berita atau media.
    Dalam tradisi ilmu hadis hal ini diatasi dengan metode jarh wa ta’dil atau kritik sanad.
    Penerapannya di zaman now adalah dengan meyakini bahwa tidak ada media, bahkan semua manusia pada umumnya (selain para Nabi), yang suci dari kesalahan. Sehingga tidak ada media yang pasti benar atau pasti salah.
  3. Pembiasan Kebenaran.
    Ini adalah salah satu buah dari pengkultusan pembawa informasi.
    Kesalahan semacam ini dalam ilmu logika biasa disebut argumentum ad verecundiam atau appeal to authority, membenarkan pernyataan seseorang karena otoritasnya bukan karena kebenaran dalilnya.
    Sebenarnya tidak ada masalah jika hanya menukil perkataan dari orang lain apa adanya, masalahnya bermula ketika penukilan itu diiringi klaim kebenaran. Saat itu juga si penukil harus siap menghadapi segala sanggahan yang diajukan atas penyataan yang ia nukil, tidak bisa lantas lempar batu pada tokoh yang ia nukil dengan berkata, “Loh ini kan perkataan guru besar yang tiada duanya itu, apa anda tidak percaya?” misalnya.
  4. Mengabaikan tujuan informasi.
    Poin ini secara khusus ada pada pihak media atau pembawa informasi, namun secara umum bisa juga berlaku bagi semua orang, karena sekarang, hanya dengan menekan tombol share, semua orang bisa dengan mudah menjadi pembawa dan penukil informasi.
    Formula pertanyaan tiga lapis Socrates bisa dijadikan parameter dalam hal ini. Saat ada seorang kawan hendak memberi berita tentang keburukan muridnya, Socrates bertanya, “Apakah berita itu sudah pasti benar? Apakah berita itu baik untuk saya ketahui? Dan apakah berita itu bermanfaat untuk saya?”
  5. Gagal membaca realitas.
    Demi mendapatkan pandangan yang holistik tentang suatu objek, diharuskan membaca realitasnya dari berbagai arah. Mengandalkan satu sudut pandang saja hanya akan menghasilkan reduksi dan distorsi informasi.
  6. Mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan daripada kebenaran.
    Ambisi pribadi bisa mengaburkan kebenaran, sejarah mencatat jejak kaum Sophis yang menggunakan asas kebenaran relatif untuk kemudian memproduksi “kebenaran pesanan”. Dengan metode debat, kebenaran pesanan itu bisa dengan mudah dimenangkan di hadapan publik, modus debat (mujadalah) seperti inilah yang dilarang dalam Islam.
  7. Mengesampingkan pengetahuan tentang hukum alam dan sosial.
    Pengetahuan tentang hukum alam dan sosial bisa menjadi modal paling mendasar dalam kritik informasi, termasuk juga di dalamnya mengetahui norma-norma yang berlaku dalam konteks wilayah dan masa tertentu.
    Sebagai contoh, menjawab tuduhan atas pernikahan Nabi dan Aisyah Ra., seperti yang sudah diulas dalam artikel “Menjawab Tuduhan atas Pernikahan Nabi dan Sayyidah Aisyah RA“. Karen Amstrong mengatakan,

…, but in Arabia , where polygamy was more common than the monogamous marriage that Muhammad had enjoyed with Khadijah, it would have been commonplace.

Bahwa poligami merupakan hal lumrah di masyarakat Arab saat itu, jika benar pernikahan Nabi didasari hasrat seksual, mengapa selama kurang lebih 25 tahun Nabi hanya menikah dengan Khadijah, kenapa tidak melakukan poligami dari awal? Karen juga mengatakan bahwa menikahi gadis belia maklum dipraktikkan di Eropa sampai awal Era Modern.

This practice continued in Europe well into the early modern period. (Muhammad Prophet of Our Time, 2007)

Secara khusus Ibnu Khaldun menulis poin-poin ini dalam rangka kritik sejarah, namun secara umum bisa kita gunakan juga sebagai acuan kritik informasi di era post-truth ini, dalam rangka survive di tengah badai informasi yang begitu derasnya. Karena masalah tidak akan terselesaikan hanya dengan duduk-duduk menyalahkan keadaan, maka seyogyanya kita mengambil tindakan dimulai dari dalam diri sendiri. Dengan bersikap elegan nan santuy saat menghadapi suatu berita atau informasi, tidak terburu-buru membuat respon dan mempertimbangkan 7 poin di atas. Juga dengan memperbanyak referensi, dan tidak berhenti hanya pada caption dan video-video pendek.

*Penulis adalah Sarjana Jurusan Akidah Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here