Oleh: Fakhri Abdul Ghaffar*

Memasuki abad ke-20, dunia diwarnai dengan berbagai revolusi dan dinamika perubahan pemikiran. Dari runtuhnya kekaisaran Tsar Rusia tahun 1917 oleh revolusi Bloshevik sampai remuknya Kekhalifahan Utsmaniah tahun 1924.

Tak terkecuali Indonesia yang ketika itu masih menyandang nama Hindia Belanda, dimulai dengan politik etis yang diusung oleh Van Deventer awal abad ke-20 memasuki fase yang baru. Dua ideologi kuat dengan sendirinya saling menghiasi landasan pemikiran para tokoh penggerak di Hindia Belanda. Namun lama sebelum itu Islam telah menjadi landasan yang paling berakar bagi seluruh rakyat Hindia Belanda. Ini dapat dibuktikan dengan munculnya Sarekat Islam (SI) tahun 1905 yang kemudian menjadi wadah besar pergerakan.

Sarekat Islam melambung dan menarik hati pribumi ketika itu. Jumlah anggotanya bertambah drastis dari hari ke hari. Dari yang berjumlah 35 ribu orang pada Agustus 1914, meningkat menjadi 490.120 di tahun 1915. Bahkan pada tahun 1919, anggota Sarekat Islam telah menyentuh 2 juta orang.

Bagai  poros magnet utara menjamahi selatan, dasar asas Islam yang dianuti SI mempunyai daya Tarik yang luar biasa. Tak dapat dipungkiri, Sarekat Islam mendapatkan tempatnya di hati rakyat juga karena karisma HOS Tjokroaminoto sebagai pemimpin pergerakan bagai raja tanpa mahkota. Ia membawa Sarekat Islam menjadi organisasi nasional yang menjadi wadah kepentingan rakyat.

Kata-kata seperti Kapitalisme, Vergadering, maupun nasionalisme menjelma menjadi sebuah pola kata perjuangan orang-orang pergerakan. Sarekat Islam serasa memberi harga diri pada pribumi, yang kemudian bergerak menyatukan mereka. Bersinggungan dengan komunisme merupakan hal yang tidak terhindarkan, di mana di lain sisi ia muncul sebagai rival dari apa yang dia anut oleh penjajah yang identik dengan kapitalisme, maka ia muncul sebagai daya dorong penolakan lebih keras terhadap penjajahan.

Maka terasa wajar ketika ide-ide yang bersentuhan dan bersinggungan itu saling mempengaruhi satu sama lain. Semangat zaman yang diwakili kata-kata ‘berbau kiri’ seperti anti- kapitalisme, penghisapan, dan, eksploitasi, menjadi kosa kata Sarekat Islam di masa itu.

Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sarekat Islam berdiri di berbagai penjuru, bahkan hingga mencangkup luar pulau Jawa seperti Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan hingga Maluku. Dengan meluasnya sayap SI, Central Sarekat Islam (CSI) pun dibentuk. Namun CSI tidak memiliki kuasa atas cabang-cabangnya. Setiap afdeling (cabang) SI memiliki otonomi tersendiri. Salah satunya adalah Sarekat Islam cabang Surakarta dan Semarang, yang akan banyak berseberangan dengan CSI di bawah Tjokroaminoto.

SI Surakarta lama-kelamaan kehilangan pengaruhnya di bawah Haji Samanhoedi. Dilanda beberapa pengunduran diri pengurusnya yang berasal dari kalangan Kesunanan akibat tekanan pemerintah kolonial, SI Surakarta kemudian mendapat suntikan tenaga muda dari sosok Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco yang sebelumnya bekerja di Medan Prijaji, menjadi editor Sarotomo, penerbitan media massa berkala dari Sarekat Islam Surakarta. Ia juga ditunjuk sebagai Komisioner SI. Mas Marco memiliki pendirian yang berbeda dengan Tjokroaminoto. Yang dari sinilah akan muncul Sarekat Islam merah dari kubu kiri SI.

SI Semarang memiliki pandangan yang berbeda dengan CSI sejak Semaoen memainkan peran penting di Sarekat Islam Semarang. Semaoen, yang lahir tahun 1899, awalnya adalah seorang juru tulis di Staatsspoor. Ia kemudian bergabung dengan SI Surabaya tahun 1914 dan terpilih menjadi sekertarisnya. Tahun 1915, Semaoen bertemu dengan Sneevliet dan segera tertarik dengan aktivitasnya. Semaoen kemudian bergabung dengan VSTP (Vereniging van Spoor Tramweg Personal), serikat buruh kereta di Hindia Belanda.

Di VSTP, Semaoen segera berperan besar terutama dalam menggerakan pemogokan-pemogokan buruh. Namun yang lebih berpengaruh ia juga bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), yang awalnya adalah klub debat kaum sosial demokrat di Hindia Belanda. Selain ISDV, yang nantinya menjadi cikal bakal PKI yang keluar menjalar dari tubuh SI.

Benturan antara kubu kiri dan Islam di Sarekat Islam mencapai klimaks tatkala ISDV mengubah organisasinya menjadi Partai Komunis. Perubahan ISDV menjadi PKI tak bisa dilepaskan dari perseteruan di ISDV. Awalnya, usulan nama yang diajukan adalah Perserikatan Komunis Hindia (PKH) atau Indische Komunistische Party (IKP). Namun konferensi memutuskan: Perserikatan Komunis di India atau Partij der Komunisten in Indie (PKI).

Tanggal 23 Mei 1920 kemudian diingat sebagai hari lahirnya PKI. Pada Konferensi itu Semaoen diputuskan sebagai ketua, sedangkan Dharsono sebagai wakil, Bergsma (Sekertaris), dan Baars sebagai komisioner. Pada tahun itu pula PKI menyatakan bagian dari Komintern.

Pada Kongres SI yang digelar pada tanggal 6-10 Oktober 1921, perdebatan antara kubu Salim dengan Semaoen dan Tan Malaka (seorang tokoh komunis baru dalam pergerakan yang menonjol) tak dapat dihindari. Tan Malaka mengingatkan Haji Agus Salim bahwa komunis bekerja sama dengan kelompok Islam di Eropa Timur seperti Kaukasus, Persia, dan Bukhara. Hal ini ditampik Haji Agus Salim. Ia mengatakan bahwa meski bekerja sama namun komunis tak mencampuri urusan dalam negeri, negeri-negeri tersebut. Semaoen menekankan, bahwa agama saja tak cukup menjadi landasan perjuangan. Seorang muslim bisa saja menjadi kapitalis atau sosialis. Menurutnya perjuangan hanya untuk satu agama sama saja devide et impera.

Salim kemudian menjawab bahwa dalam Al-Qur`an semua terjawab. Kongres itu menjadi kongres yang semakin mengokohkan Islam sebagai landasan Sarekat Islam ketika Haji Agus Salim menyinggung status dan pembeda asas dari  kedua SI.

Pada Kongres SI tahun 1922, Tjokroaminoto menekankan perjuangan SI berdasarkan Islam dan menegaskan Islam-lah satu-satunya ashabiyah yang dapat menyatukan masyarakat di Hindia Belanda. SI dan PKI berpisah dan mengambil jalan masing-masing. Keluarnya PKI dari Sarekat Islam membuat PKI berupaya terang-terangan untuk menarik massa dari Sarekat Islam. Pada kongresnya tahun 1923, PKI misalnya memutuskan untuk menolak peraturan pemerintah kolonial yang mengatur guru agama agar mendapat izin bupati. PKI menentang aturan ini karena menolak campur tangan negara dalam urusan agama.

Jika kita menyimak kilas balik munculnya PKI di Hindia Belanda, bahwa Komunis tidak masuk dan mendarah daging ke Hindia Belanda melalui jargon perjuangan kelasnya. Namun terlebih dahulu menyusup kedalam pergerakan Islam dan menyusupi dengan mengandrung nilai-nilai yang sifatnya universal. Maka bukan tidak mungkin Islam sebagai salah asas pemersatu Indonesia bisa disusupi dengan nilai-nilai yang sejatinya bertentangan tanpa kita sadari, maka memahami Islam secara Kaffah perlulah menjadi sebuah prioritas dalam diri kita. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir 

 

 

 

 

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here