Home Tak Berkategori Sekali Lagi Soal Ayat Mutasyabihat dan Muhkamat

Sekali Lagi Soal Ayat Mutasyabihat dan Muhkamat

189
0

Oleh: Ashfia Syahida*

Al-Quran merupakan pedoman yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai pengiring risalah Nabi Muhammad SAW, pembimbing manusia sepanjang masa semenjak diturunkannya hingga akhir zaman. Nilai-nilai universal banyak dijumpai pada al-Quran seperti ketauhidan, keadilan, persamaan hak, persaudaraan, tanggung jawab sosial, keadilan sosial, kemanusiaan, amar makruf nahi mungkar, perdamaian, cinta kasih, dan sebagainya.

Namun dalam memahami al-Quran, manusia, khususnya umat Islam, masih mendapati kesulitan dalam mencapai makna esensial sebagian ayat, sebab di dalamnya terdapat noktah yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Hal semacam ini dikenal dalam kajian studi Islam sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Meski sudah banyak yang membahasnya, namun kerap sekali pembahasan ini terus berkutat di tengah masyarakat. Untuk itu sebagai momentum nuzulul quran pada saat ini ada baiknya kita mengangkat tema ini lagi.

Pembahasan mengenai ayat mutasyabihat tak dapat dipisahkan dari saudaranya, ayat muhkamat. Dalam al-Quran surah Ali Imran ayat tujuh disebutkan, al-Quran terbagi menjadi ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Lalu, apa yang dimaksud dengan ayat muhkamat dan mutasyabihat?

Secara etimologi, muhkam diambil dari kata al-ihkâm yang berarti al-itqân atau kesempurnaan. Para pakar bahasa menggunakan kata al-ihkâm dalam makna yang bermacam-macam. Namun, dari perbedaan tersebut kata al-ihkâm selalu kembali kepada satu makna yaitu al-man’u yang artinya kokoh; sempurna dan terbebas dari segala cacat.
Adapun mutasyâbih secara bahasa diambil dari kata tasyâbuh yang berarti tamâtsul atau serupa. Mutasyâbih juga berarti sesuatu yang mirip dengan suatu yang lain. Para pakar bahasa menggunakan kata tasyâbuh untuk sesuatu yang memiliki bentuk yang mirip dan serupa sehingga menimbulkan kesamaran.

Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan muhkamat dan mutasyabihat secara terminologi. Kendati demikian, beragam pendapat tersebut memilki kemiripan dan kedekatan sehingga kerap mengarah pada titik yang sama. Semuanya dapat dirangkum dalam definisi yang dipaparkan oleh Imam al-Raghib, bahwasanya mutasyabihat dalam al-Quran adalah: yang tafsirnya samar karena adanya kesamaran dalam lafal ataupun makna, adapun mukhamat berarti sebaliknya; ayat yang tafsirnya jelas.

Kajian tentang mutasyabihat di meja ulama kerap menimbulkan banyak persoalan. Salah satunya perihal takwil ayat mutasyabihat. Dalam hal ini ulama terbagi menjadi dua golongan: yang melarang takwil dan yang memperbolehkan takwil. Sebenarnya tidak ada pertentangan di antara kedua pendapat ini, masalahnya hanya pada perbedaan dalam memaknai takwil ataupun objek takwil itu sendiri. Takwil yang dilarang oleh pendapat pertama adalah takwil esensi dzat dan sifat Allah, hakikat dan kondisi hari kiamat, serta segala yang tidak diketahui makhluk-Nya. Sedangkan takwil yang diperbolehkan pendapat kedua adalah takwil bermakna tafsir, yaitu perkataan yang menjabarkan lafal hingga dapat dipahami maknanya, dengan tidak memasukkan hal-hal ghaib sebagai objek.

Dengan ini, kita dapat mengelompokkan ayat mutasyabihat menjadi dua: yang dapat diketahui maknanya oleh makhluk dan yang tak dapat diketahui.

Bab lain yang tak luput dari kajian mutasyabihat di meja ulama adalah ayat-ayat sifat Allah. Sifat Allah termasuk dalam kategori ayat mutasyabihat yang sukar diketahui interpretasinya. Dalam menyikapi ayat-ayat sifat Allah, ulama terbagi menjadi beberapa madzhab:

Madzhab pertama, madzhab salaf. Madzhab ini disebut juga sebagai madzhab mufawwidhah (menyerahkan) karena mereka menyerahkan makna ayat-ayat sifat ini kepada Allah SWT setelah menyucikan dan menjauhkan-Nya dari zahir ayat yang mustahil. Menurut mereka, penetapan makna dari sifat-sifat mutasyabihat ini kembali kepada kaidah bahasa dan lafal-lafal Arab yang bersifat dzanniy (asumtif), sedangkan sifat Allah berkaitan dengan akidah yang tidak cukup dengan asumsi. Maka cukuplah, serahkan semuanya kepada Allah SWT.

Seperti halnya Imam Malik RA ketika ditanya tentang istiwâ’ dalam surah Taha ayat lima, beliau berkata: “Istiwâ’ diketahui (artinya), bagaimana (istiwâ’ itu) tidak diketahui, pertanyaan tentang ini bidah…”.

Madzhab kedua, madzhab khalaf. Disebut juga madzhab mu’awwilah (penakwil), dan terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok pertama, menarik lafal zahir yang mustahil bagi Allah SWT ke dalam makna majasi yang pantas bagi Allah SWT. Sebagai contoh, istiwâ’ yang dimaknai dengan istaulâ atau istaqarra. Ini merupakan madzhab Imam Haramain dan banyak ulama kontemporer. Kelompok kedua, mengalihkan sifat tersebut dari makna zahir (dengan tetap menggunakan lafalnya) dan menetapkannya sebagai sifat sam’iyyah, sifat yang hanya bisa didengar, tetapi tidak dipahami oleh akal. Sifat sam’iyyah ini bukanlah sifat-sifat biasa yang diketahui makhluk. Sebagai contoh, istiwâ’ dimaknai dengan sifat istiwâ’ yang dimiliki Allah SWT dan tidak diketahui hakikatnya oleh manusia.

Perihal mutasyabihat sifat ini, ulama sepakat dalam beberapa hal: Pertama, menjauhkan makna ayat tersebut dari makna zahirnya yang mustahil. Ulama Ahlusunah sepakat, penyandaran asas akidah kepada yang zahir dari al-Quran dan sunah tanpa memisahkan antara yang mustahil dan tidak adalah dasar kekufuran. Kedua, perlunya dilakukan takwil untuk menentang tuduhan-tuduhan musuh Islam. Ketiga, dalam persoalan akidah harus selalu kembali ke ayat muhkamat, seperti surah al-Ikhlas. Jika ada ayat al-Quran atau hadis yang zahirnya berselisih dengan ayat muhkamat yang telah diketahui, maka wajib percaya bahwa zahirnya yang mustahil tersebut bukanlah makna yang dimaksud Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Sempat terlontar pertanyaan, mengapa di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat mutasyabihat yang hanya diketahui Allah SWT dan orang-orang yang mendalam ilmunya? Mengapa Allah SWT tidak menjadikan seluruh ayat al-Quran muhkam agar semua orang dapat memahaminya? Sesungguhnya al-Quran turun sebagai petunjuk, dan tasyabuh telah mengakibatkan kesamaran dalam akidah serta membuka pintu fitnah, lalu apa hikmah darinya?

Eksistensi ayat mutasyabihat dalam al-Quran tentu tidak lepas dari hikmah. Adapun hikmah dalam ayat mutasyabihat yang maknanya hanya diketahui Allah SWT di antaranya: Pertama, sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap manusia yang lemah, yang tidak mampu mengetahui segalanya. Jika gunung saja hancur dan Nabi Musa AS pingsan ketika Allah akan memperlihatkan dzat-Nya, maka apa yang akan terjadi dengan manusia biasa jika Allah memperlihatkan dzat dan hakikat sifat-Nya? Allah juga menyembunyikan hari kiamat sebagai wujud kasih sayang-Nya, dan agar manusia tidak bermalas-malasan serta mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Kedua, sebagai ujian iman manusia terhadap hal gaib. Orang-orang yang beriman akan menyatakan keyakinannya terhadap hal gaib walaupun mereka tidak mengetahui rupanya. Ketiga, untuk menunjukkan bahwa manusia sebenarnya lemah dan tidak mengetahui segala hal walaupun ilmunya berlimpah. Juga sebagai bukti, hanya Allah SWT-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sedangkan hikmah dalam ayat mutasyabihat yang dapat diketahui maknanya oleh manusia diantaranya: Pertama, realisasi kemukjizatan al-Quran yang di dalamnya terdapat Ilmu Retorika yang begitu mendalam. Bangsa Arab adalah bangsa yang mahir berbahasa dengan balaghah, bayan, îjaz, ithnâb, majas, kinâyah, dan segala seni bahasa. Maka al-Quran datang sebagai mukjizat yang mencakup segala seninya. Kedua, jika terdapat ayat mutasyabihat, maka jalan untuk menuju kebenaran akan lebih sulit, dan kesulitan yang lebih akan menyebabkan pahala yang lebih. Ketiga, munculnya ilmu-ilmu yang beragam; seperti Ilmu Bahasa, Nahu, Ma’ani, Bayan, dan Ushul Fiqh. Jika tidak ada ayat mutasyabihat, maka tidak akan ditemukan ilmu-ilmu ini.

Keempat, mendorong manusia untuk menggunakan rasionya dan menjauhkan dari taklid. Ayat mutasyabihat ini menjadi pelatihan bagi akal dalam meneliti sesuatu dan memotivasi ulama untuk mengungkap banyak hal yang tersembunyi, meneliti detailnya, sehingga bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kelima, untuk menunjukkan adanya keistimewaan milik ulama. Jika ayat al-Quran seluruhnya muhkamat maka tidak akan ada takwil yang dapat menunjukkan ketinggian derajat ulama.

Demikianlah al-Quran dengan cakupan indah; muhkamat dan mutasyabihat yang sarat dengan hikmah. Al-Quran memang kitab paling sempurna, tak ada keraguan di dalamnya. Namun, ia tak lepas dari tuduhan-tuduhan kaum yang enggan mengakui kesempurnaan tersebut. Manusia yang akal dan hatinya dipenuhi hawa nafsu terus mencari celah untuk menemukan cacat di dalamnya. Salah satunya dengan memanfaatkan perbedaan para ulama, sambil melontarkan tuduhan-tuduhan seputar ayat mutasyabihat. Sampai kapan pun mereka tak akan pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena al-Quran merupakan kalam Allah SWT yang akan selalu terjaga hingga hari akhir, sesuai dengan janji-Nya. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

*Penulis adalah pegiat Kajian I’jaz Ikpm Cabang Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here