Home Artikel Sepiring Nasehat Prof. Quraisy Shihab Kepada Pelajar di Mesir

Sepiring Nasehat Prof. Quraisy Shihab Kepada Pelajar di Mesir

674
0

Oleh: Risma Zuhdiyyah*

Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir mengundang cendekiawan Muslim Indonesia Prof. Quraisy Shihab pada (29/1) dalam agenda bincang santai bersama mahasiswa Al-Azhar.

Agenda yang berlangsung di Wisma Nusantara ini digelar usai Abi Quraisy –begitu sapaan akrabnya– menghadiri Konferensi Internasional bertajuk Pembaharuan Pemikiran Islam, dimana beliau mendapatkan Bintang Tanda kehormatan Tingkat Pertama bidang Ilmu Pengetahuan dan Seni dari Pemerintah Mesir di konfrensi tersebut.

Duduk bersama para adik-adik mahasiswa membuat Abi Quraisy menceritakan masa-masa belajarnya di Mesir. Katanya, ada dua pesan yang senantiasa sang ayah, yakni Abdurrahman Shihab, sampaikan kepada beliau sebagai penutup surat yang dikirim dari Indonesia saat beliau memasuki jenjang pascasarjana di Al-Azhar.

Pertama, bergaulah dengan orang-orang yang kamu bisa mendapat ilmu atau manfaat darinya; carilah yang Anda ingin meraih darinya manfaat, dalam hal ini mereka adalah orang yang paham agama. Sebab kita adalah cerminan siapa teman kita. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib yang dikutip oleh Imam Ghazali, yaitu:

“Jangan temani orang bodoh. Berapa banyak orang yang seperti itu telah membinasakan seorang alim ketika dia menemaninya. Sebab, pengaruh seorang teman dengan teman lainnya laksana sandal, yang satu selalu mengiringi yang satunya, tidak hanya fisik namun juga hati, karena itu musuh yang berakal ‘berilmu’ itu lebih baik daripada teman yang bodoh” (Imam Ghazali, Bidayatul Hidayah)

Kedua, lanjut Abi Quraisy, gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa. Karena bahasa adalah kunci pengetahuan. Dalam hal ini kita bisa lihat bagaimana luasnya ilmu beliau dalam tafsir al-Qur`an yang mana kita ketahui ilmu ini sangatlah sarat dengan muatan bahasa. Pun juga bisa kita lihat bagaimana Abi Quraisy menjadi keynote speaker di berbagai muktamar internasional serta merupakan anggota Majlis Hukama Muslimin yang di dalamnya menampung berbagai cendikiawan lintas negara.

Lanjutnya Abi Quraisy mengingatkan pada adik mahasiswa akan pentingnya seorang guru, tepatnya guru yang beranhaj azhari–melihat kita sedang belajar di Al-Azhar. Bagi seorang mufassir legendaris Indonesia itu, ada dua orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

Yang pertama adalah Habib al-Faqih, Pengasuh Darul Hadis Malang. Apa yang guru beliau ajarkan itu begitu melekat dan memberikan pengaruh luar biasa dalam perjalanan hidupnya. Mengapa demikian? Karena keikhlasan sang guru.

Pada lain kesempatan Abi Quraish Shihab pernah menyampaikan tentang gambaran makna ikhlas. Diibaratkan ikhlas itu seperti sebuah gelas yang penuh dengan air putih, tidak ada campuran apapun selain air putih itu sendiri. Dalam artian tidak mendambakan apapun selain murni tujuannya hanya karena Allah semata.Menurut Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab Al-Hikam, “Amal perbuatan kita hanya sebatas gambaran luaran saja, adapun ruh yang menghidupkannya adalah hadirnya ikhlas di dalamnya.” Yang berarti tiada amal yang bisa berdiri kokoh kecuali Allah telah menguatkannya dengan rahasia ikhlas dalam amalan tersebut.

Orang kedua adalah Syekh Abdul Halim Mahmud. Menurut penulis Tafsir Al-Misbah itu, beliau adalah seorang Syekh Al-Azhar dengan kepribadian tulus dan sederhana diimbangi penghayatan nilai-nilai tasawuf yang begitu mengagumkan. Beliau berusaha menghidupkan tasawuf di tengah modernitas. Bahkan tak jarang Prof. Quraish Shihab naik bis bersama Syekh Abdul Halim Mahmud ketika berangkat ke Kampus. Selain menjadi murid beliau di kampus, perjumpaannya di bis itupun dijadikan oleh Menteri Agama Indonesia ke 16 itu untuk banyak menanyakan perihal keislaman kepada beliau.

Poin selanjutnya yang beliau sampaikan ialah soal adat dan tradisi. Menurutnya, adat yang sejalan dengan nilai agama itulah yang dinamakan ma’ruf . Sedangkan adat yang tidak sejalan dengan nilai agama adalah munkar. Secara etimologi, ma’ruf berasal dari kata arafa ya’rifu yang berarti tahu, maka ma’ruf memiliki makna: yang diketahui dengan baik, sedangkan munkar bermakna durhaka atau melanggar perintah Tuhan, tradisi seperti inilah yang harus dihindari.

Dalam sesi pertanyaan, saat ditanya bagaimana sikap beliau dalam berinteraksi dengan kitab tafsir dari manapun baik sunni maupun Syiah, ia menjawab:

“Pilih-pilihlah dalam mencari referensi dari buku, salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pengarangnya. Disisi lain jangan pernah menilai kebenaran dari ‘siapa’ orangnya, tapi nilailah kebenaran dari ide dan gagasanya, bukan personnya. Nilailah suatu ide karena faktor-faktor intern yang ada didalamnya”

Menanggapi pertanyaan ini, beliau pun turut menyinggung soal pembaruan. Katanya, pembaharuan (tajdid) itu bukan sekedar mengemukakan pendapat baru yang berbeda dengan pendapat lama, akan tetapi ada dua, memilih dari pendapat-pendapat lama apa yang lebih sesuai dengan masa kini–walaupun pendapat itu pada masa lalu dianggap belum banyak pendukung. Kedua menghapus debu-debu yang menyelubungi suatu ide. Banyak ide-ide yang bagus tapi tercampur dengan peradaban baru yang non-agamis. Oleh karena itu membaca harus kritis.

Menindaklanjuti penanya berikutnya, katanya, adakah dasar-dasar yang Abi Quraisy jadikan pedoman khususnya dalam menafsirkan ayat al-Quran agar bisa diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

“Al-Quran itu seperti berlian, dilihat dari sudut pandang manapun ia tetap memancarkan cahaya yang berbeda-beda,” begitu ujarnyaAda sebuah ungkapan bahwa Tuhan tidak bertanya 5 + 5 berapa, akan tetapi yang tuhan tanyakan 10 itu berapa ditambah berapa. Maka kebenaran itu bisa bermacam-macam.

Abbas al-Aqqad mengungkapkan dalam bukunya, seandainya sahabat Nabi hidup pada masa sekarang pasti pendapatnya yang diungkapkan pada masa nabi berbeda dengan apa yang diungkapkan pada masa sekarang. Setiap pendapat dipengaruhi oleh kecenderungan dan perkembangan ilmu. Sebagai contoh ayat al Quran khalaqal insana min alaq, dokter akan menafsirkan bahwa ‘alaq’ itu sesuatu yang bergantung di Rahim, kalau sosiolog mengatakan bahwa alaq itu berarti manusia memiliki ketergantungan. Yang lain lagi berkata bahwa alaq adalah darah. Selama tidak melanggar kaidah-kaidah agama, dan menganut kaidah-kaidah yang disepakati tafsir.

Memasuki penanya terakhir, berkata bahwa ada seorang senior pernah berkata kepada saya bahwa Antum, Prof. Quraish Shihab adalah orang yang sangat produktif, boleh saya sedikit tahu perihal itu?

“Setiap pagi saya selalu meluangkan waktu sekitar 2 jam untuk menulis. Tulislah, tapi jangan menulis seakan-akan surat cinta, tidak akan pernah jadi nanti. Tulislah, jangan takut salah maklum karena setiap manusia berpotensi untuk salah. Hanya nabi Saw yang tidak pernah salah, karena kalau salah beliau akan ditegur langsung oleh Allah,” ujarnya

Jadilah ahli di bidang kamu, dan belajarlah sesuai dengan bidang kamu. Bakat akan berkembang dengan baik apabila disertai cinta akan hal tersebut, dan cinta itu bisa diusahakan. Cinta dan hobi bisa dipupuk sampai kemudian menjadikanyang dicintai itu sebagai ibadah. Kapan saya bisa baca, saya membaca. Kapan bisa menulis, saya akan menulis. Saya tidak menganjurkan untuk membaca hal yang tidak bermanfaat dari hp, kecuali membaca tentang ilmu. Jangan habiskan waktu hanya untuk mengetik di media sosial. Saya melakukan demikian karena hobi, dan cinta itu berawal dari kecenderungan hati yang meningkat. Sampai pada akhirnya menjadikan yang dicintai sebagai ibadah.

Begitu kurang lebih nasihat pak Quraish di penghujung acara. Wallahu a’lam

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar dan santriwati di Pusat Talaqqi Al-Quran Indonesia (PTQI) Mesir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here