Home Artikel Sosok yang Menjadi Keistimewaan Terbesar Umat Islam

Sosok yang Menjadi Keistimewaan Terbesar Umat Islam

304
0

 

Oleh: Bana Fatahillah*

Umat Islam harus senantiasa bersyukur, karena dirinya telah berada pada agama yang diridhoi oleh Allah Swt (inna al-Dîn ‘indallâhi al-Islâm). Kita pun setiap harinya, bahkan setiap waktunya, selalu berdoa kepada Allah untuk diperteguh dan dikuatkan dalam jalan yang lurus ini, dengan bacaan ihdinassirât al-Mustaqîm pada surat al-Fatihah. Rasa syukur ini harus benar-benar kita sadari, sebab berapa banyak manusia yang hidup di muka bumi ini, namun ia lupa untuk bersyukur hingga dicabutlah nikmat ini.

Tetap berada di jalan yang lurus merupakan sebuah rahmat dan hidayah dari Allah Swt, sebab Ia berfirman, “Allah memberi petunjuk bagi siapa yang Ia hendaki`” (Qs. Al-Qashah: 5) dan juga “Allah memberikan hikmah bagi siapa yang dikehendakinya.” (Qs. Al-Baqarah: 269). Namun saat mencapai masa  baligh, menjadi Islam bukanlah sesuatu yang sifatnya “ikut-ikutan,” ikut temen, ikut keluarga, ataupun yang lainnya, sebab ini merupakan perkara yang inti (ushul). Hal ini pun juga ditegaskan oleh ulama ahli kalam dalam kitab-kitabnya, bahwa dalam permasalahan tauhid (baca; iman) seorang tidak boleh hanya berstatus mukallid.

Meski pembahasan taklid dalam iman menuai banyak pendapat di antara pakar ilmu kalam, namun setidaknya kita dapat mengambil suatu benang merah, yakni menjadi Islam itu tidak cukup sekedar ‘ikut-ikutan’. Karena selain hidayah dari Allah, ini merupakan hal yang harus disadari oleh seorang muslim. Maka setidaknya ada suatu alasan yang menjadikan kita tetap berpegang teguh dalam ajaran yang senantiasa diridhai oleh Allah ini, yaitu Islam.

Menurut Dr. Adian, dalam kitabnya 10 Kuliah Agama Islam, salah satu keistimewaan yang dimiliki agama Islam —hingga dapat memperteguh kita dalam agama ini—ialah diutusnya sosok Nabi Muhammad Saw kepada umat Islam. Beliaulah yang menjelaskan A-Z perihal agama ini, baik dari perkara duniawi maupun ukhrawi. Uniknya, penjelasan tersebut tidak hanya dalam bentuk perkataan saja, melainkan dari perbuatan, gerak-gerik, sifat, kebiasaan, ketetapan dan lain sebagainya yang selalu dijadikan sandaran dalam setiap perbuatan seorang Muslim.

Hebatnya lagi, makhluk yang diutus oleh Allah kepada umatnya itu merupakan manusia biasa, layaknya manusia pada umumnya. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?”(Qs. Al-Furqan [25]: 7). Ia bukan tuhan bukan pula anak tuhan, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian agama, sehingga kita semua sebagai manusia punya sosok dan model yang harus dicontoh dan diteladani dalam semua lini kehidupan.

Gampangnya begini, jika ditanya kenapa umat muslim ketika makan harus duduk, maka jawabannya simpel, sebab Rasulullah mengajarkan hal demikian melalui perbuatannya. Meskipun di sana ada banyak sekali faktor-faktor yang bisa dijadikan alasan, seperti faktor kesehatan, misalnya, yang banyak diteliti oleh para dokter dari manfaatnya makan sambil duduk, setelah beberapa abad Nabi tiada

Jika urusan makan saja diperhatikan oleh Rasulullah, apalagi semua bentuk peribadatan yang telah termaktub dalam kitab suci-Nya. Maka dalam melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, dan bentuk ibadah lainnya, umat Islam tidak pernah bingung, sebab Rasulullah telah menyontohkan itu semua, yang nantinya diperjelas oleh para pewaris ilmu yang datang setelah masa kenabian.

Menurut pakar perbandingan agama tersebut, jika membandingkan dengan agama lainnya, hanya Islamlah yang memiliki satu-satunya sosok teladan bagi umatnya, yang seluruh perbuatannya dari bangun tidur samapai tidur lagi diikuti oleh umatnya. Bagi umat Kristen, Yesus adalah sosok yang paling diunggulkan. Namun jika umat Kristiani ditanya bagaimana seorang suami harus bersikap pada istrinya, mereka akan susah untuk menjawab. Sebab mereka tidak ada model atau pribadi yang bisa dicontoh dalam melaksanakan banyak hal. Sosok Yesus diposisikan sebagai Tuhan oleh mereka,  yang mana tidak mungkin melakukan hal-hal demikian. Namun bagi umat Islam, permasalahan rumah tangga amatlah jelas sebagaimana yang diajarkan oleh Baginda Nabi, sebab dirinya merupakan sosok pemimpin rumah tangga yang baik, sehingga seorang muslim pun tau bagaimana harus berumah tangga.

Begitupun juga agama-agama lainnya. Saya kira agama Hindu tidak akan pernah bertanya bagaimana Tuhan Wisnu menyikat gigi, ataupun apa yang ia lakukan setelah bangun tidur; apakah ia membaca doa atau langsung pergi ke kamar mandi, atau justru ia tidur lagi. Demikian pula agama Budha, yang mempunyai sosok Sidharta Gautama dalam keyakinannya. Apakah Shidarta pernah menjelaskan bentuk peribadatan yang dilakukan orang Budha; cara duduknya, posisi tangannya, bacaan-bacaannya, atau apapun terkait ibadah secara rinci. Sekiranya ada, rasanya itu hanya hal yang dibuat-buat oleh mereka. Bahkan, secinta-cintanya kaum Komunis terhadap Karl Max, yang notabenenya juga manusia biasa, mereka tidak pernah tau bagaimana seorang Karl Max ketika tidur.

lagi-lagi ini semua karena Islam memiliki sosok manusia terbaik sepanjang masa, yang tidak ‘dituhankan’ sebagaimana kepercayaan agama lain terhadap sosok yang diagungkannya. Hal ini pun pernah ditegaskan oleh Abu Bakar dengan perkataan, “Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sungguh ia telah tiada. Akan tetapi barang siapa yang menyembah Tuhan Muhammad, sesungguhnya ia Hidup dan kekal selamanya” (man kâna ya’budu muhammadan fainnahu qad mâta. Wa man kân ya’budu rabba Muhammad fainnahu hayyun la yamûtu)

Inilah mengapa serang penyair asal Maghrib bernama Imam Bushiri mendendangkan satu bait syair yang berbunyi: “famablagha al-Ilmi annahu basyarun waannahu khaira khalqillahi kullihimi.”  (setinggi apapun pengetahuan tentang nabi, ialah bahwasanya dirinya adalah manusia biasa, dan beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah yang ada.” Syekh Zakaria al-Anshari menjelaskan bahwa penyebutan kata “basyar” ialah untuk menghilangkan prasangka bahwa ia adalah malaikat, sebab malaikat-lah makhluk yang sering disebut paling sempurna. Dan diriwayatkan, bahwa bait ini langsung dilantunkan oleh Rasulullah Saw. kepada Imam Bushiri saat bertemu dalam mimpinya.

Maka, bersyukurlah jadi orang Islam, sebab kita semua dibimbing oleh sosok Nabi Muhammad Saw. dalam setiap lini kehidupan. Dengan mengikutinya, kita semua tidak pernah bingung  bagaimana harus hidup di dunia ini, apa tujuannya, bagaimana menyeimbangi porsi dunia dan akhirat, dan lain sebagainya yang menjadi hal-hal penting bagi seorang hamba Allah di dunia dan akhirat.

Meski beliau adalah manusia layaknya manusia pada umumnya, yang juga makan, minum, merasa lapar, pernah marah, dll, namun beliau memiliki hal yang berbeda pula dari manusia yang lainnya. Inilah mengapa dalam surat al-Kahfi Allah berfirman, “katakanlah, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku…Ini artinya meski manusia biasa seperti kita, Ia adalah utusan Allah yang dikirimkan kepada manusia untuk menyampaikan risalah ilahi.

Maka wajar saja jika umat Muslim harus bergembira dengan hari kelahirannya, sebab dirinya adalah rahmat dan karunia terbesar yang diturunkan oleh Allah pada umat Muslim. Allah berfirman, “Qul bi fadlillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafraahu” . Karena Rasulullah ialah rahmat dan keutamaan-Nya—bahkan menjadi keutamaan terbesar—, maka bergembira terhadapnya pun adalah hal yang dianjurkan oleh syariat. Bahkan dalam salah satu riwayat dikatakan, kalau bukan karena Nabi Muhammad, seluruh alam ini tidak akan diciptakan.

Kita tidak bergembira sebatas di tanggal 12 Rabiul Awal saja, melainkan setiap harinya kita bergembira dengan kehadirannya. Imam Syamsuddin al-Dimasyqi dalam kitab Mawrid al-Shâdi fî Maulid al-Hâdî menjelaskan, jika Abu Lahab saja yang sudah dipastikan oleh Allah kekal di dalam neraka masih diberikan keringanan azab setiap hari Senin, karena turut bergembira atas lahirnya baginda Nabi Saw, hingga ia memerdekakan budak bernama Tsuwaibah, lantas bagaimana dengan umat Islam yang setiap harinya bergembira dengan Nabi Muhammad dan wafat dalam keadaan Islam?!

Mari sejenak kita merenungi sosok yang agung ini, khususnya di hari kelahirannya ini. Dirinya merupakan keistimewaan terbesar bagi umat muslim di seluruh dunia. Tanpa kehadirannya, kita semua pasti akan tersesat dalam gelapnya dunia ini. Semoga kita semua bisa menjadi umat beliau yang senantiasa mengikuti ajarannya, hingga mendapatkan syafaat di hari akahir kelak. Amiin. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo dan editor majalah Latansa IKPM Kairo. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here