Home Tokoh Syekh Zayed dan Spirit Berwakaf

Syekh Zayed dan Spirit Berwakaf

145
0

Oleh: Arif Abdurrohim*

Wakaf merupakan ibadah maliyah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Harta benda yang diwakafkan tetap, begitu pun nilai nominalnya, namun hasil dari pengelolaan wakaf selalu memberikan manfaat dari waktu ke waktu.

Donasi wakaf dapat dimulai dari skala kecil, semisal membantu pengadaan sajadah di masjid atau bahkan skala besar yaitu dengan wakaf pembangunan kota, rumah sakit dan sebagainya. Adapun dalam skala besar, Syekh Zayed merupakan salah satu figur di dalamnya. Berkat kegigihannya, spirit wakaf kembali muncul, tidak kurang dari belasan tempat di Mesir mengambil nisbah namanya. Mulai dari Syekh Zayed Hospital, Syekh Zayed Canal Suez, Syekh Zayed Language Centre hingga sebuah kota di provinsi Giza-pun -Syekh Zayed City- melabeli kotanya dengan penyebutan namanya. Pelabelan nama ini bukanlah tanpa sebab, hampir semua tempat yang mengutip nama Syekh Zayed adalah hasil tabarru’ Baitul Mal “Abu Dhabi Fund for Development” yang ia dukung berdirinya.

Serasa tak lengkap, penulis ingin memuat profil kota Syekh Zayed untuk bisa menggambarkan sedikit ke-superior-an spirit wakaf dari Syekh Zayed sendiri. Kota Syekh Zayed -atau dikenal Syekh Zayed City- adalah salah satu kota di Propinsi Giza didirikan pada tahun 1995. Kota dengan Populasi 300.000 orang ini berbatasan langsung dengan Distrik 6 Oktober. Selain itu, kota tersebut juga memiliki banyak fasilitas mewah didalamnya; Terdapat Tiara Residance, Linx Bussiness Park, Life Park, serta residen mewah Zayed Dunes Complex. Dengan beberapa fasilitas mewah tersebut melambungkan nama kota yg berusia 20 tahun ini, sekaligus menjadikan nama Syekh Zayed mulai familiar di dunia perwakafan.

Selain kota-kota administrasi dan instalasi pendidikan dan kesehatan tak lupa ia bertabarru’ di pembangunan unit-unit ibadah, Masjid Syekh Zayed salah satunya. Masjid terbesar ketiga setelah Nabawi dan Masjidil Haram ini dibangun dengan ketinggian 11 meter di atas permukaan laut dan 9,5 meter di atas permukaan tanah, sehingga bangunan itu terlihat jelas dari semua arah. Masjid tersebut dibangun sebagai monumen untuk mengkonsolidasikan budaya Islam dan pusat terkemuka untuk kajian ilmu Islam. Pada saat pembangunan masjid itu, Syekh Zayed meminta agar masjid itu didirikan di jantung kota Abu Dhabi, antara Jembatan Musaffah dan Jembatan Maqta dengan menghabiskan dana senilai AED 2,5 miliar. Sekitar 38 perusahaan kontraktor dan sekira 3.500 pekerja telah membantu mewujudkan kompleks ibadah tersebut selama hampir 12 tahun. Cakupan areanya juga luas yaitu 22,412 meter persegi. Terdapat total 82 kubah yang digunakan dalam pembangunan masjid, sedangkan kubah utamanya dianggap sebagai kubah masjid terbesar di dunia dengan tinggi 85 meter dan diameter 32,8 meter dengan kapasitas 41 ribu jamaah. Luar biasa megah bukan?

Mengenal Syekh Zayed

Syekh Zayed sendiri adalah presiden Uni Emirat Arab pertama sekaligus sebagai penguasa Abu Dhabi. Lahir tahun 1918, beliau diberi nama sesuai dengan nama kakeknya Syekh Zayed bin Khalifa Al-Nahyan yang merupakan penguasa Abu Dhabi dari tahun 1855 hingga 1909.

Kariernya dimulai sebagai Gubernur di Alain tahun 1946, mendirikan Sekolah Al-Nahyan tahun 1959, serta membangun pasar dan masjid pertama di Al-Ain. Tanggal 6 Agustus 1966 Syekh Zayed melanjutkan kekuasaan kakak laki lakinya Syekh Shakhbut bin Sultan Al-Nahyan, sebagai penguasa Abu Dhabi dengan persetujuan dari seluruh anggota keluarga bangsawan Al-Nahyan.
Pada tahun 1971, Syekh Zayed bin Sultan Al-Nahyan bersama Syekh Rashid bin Saeed Al-Maktoum menandatangani persetujuan untuk membentuk sebuah federasi antara Abu Dhabi dan Dubai. Segera setelah itu terbentuklah Uni Emirat Arab yang merupakan federasi dari tujuh wilayah ke-Emir-an, dan Syekh Zayed sebagai presiden pertama-nya. Tak sampai disitu saja, bersama dengan Syekh Jaber Al-Ahmad Al-Sabbah, Emir Kuwait, Syekh Zayed meletakkan landasan bagi terbentuknya Dewan Kerjasama Negara Teluk (Gulf Countries Cooperation Council – GCC Council) pada tanggal 25 Mei 1981.

Selain sebagai penguasa UEA, ia juga turut andil dalam berdirinya Abu Dhabi Fund for Development (ADFD) -yang mana sekarang tengah dipimpin puteranya, Syekh Mansour bin Zayed. ADFD adalah departemen bantuan yang didirikan oleh pemerintah Abu Dhabi pada tahun 1971. Dana tersebut memberikan pinjaman untuk mendanai proyek pembangunan ekonomi dan sosial. Dana ini juga berinvestasi untuk memperluas dan memperkuat ekonomi sektor swasta kliennya.

ADFD didirikan pada tahun 1971 untuk mengelola program bantuan luar negeri Uni Emirat Arab. Sejak didirikan hingga 2014, dana tersebut menyalurkan pinjaman AED 22,5 miliar dan hibah AED 39,8 miliar –AED merupakan mata uang UEA-. Hibah didanai oleh pemerintah Abu Dhabi tetapi dikelola oleh ADFD.
Syekh Zayed dimata rakyat UEA dikenal sebagai pemimpin yang peduli, dibuktikan dengan sebuah kisah, tatkala ia mengadakan kunjungan ke pelosok UEA, presiden pertama UEA ini melihat seorang lelaki tua memanjat pohon Palm dengan susah payah, tanpa pikir panjang ia menyuruh ajudannya membelikan ratusan buah Palm untuk lelaki tua tadi.

Selain ramah terhadap rakyatnya, Syekh Zayed beserta keluarganya juga dikenal peduli terhadap negara-negara berkembang di Asia, terkhusus Indonesia. Sudah banyak kesepakatan investasi antara UEA dan Indonesia sejak periode Syekh Zayed hingga turun ke sanak familinya. Yang terbaru adalah UEA melalui Pangeran Syekh Mohammed bin Zayed yang tak lain adalan putra Syekh Zayed sendiri memberikan kepercayaan besar kepada Indonesia dengan menyiapkan dana sebesar USD 22,8 miliar atau sekitar Rp 304,9 triliun (kurs 13.674 per dolar AS) untuk berinvestasi di Indonesia.

Syekh Zayed wafat pada tanggal 2 November 2004, kekuasaannya diteruskan oleh putranya Syekh Khalifa bin Zayed Al-Nahayan baik sebagai presiden UEA maupun sebagai penguasa Abu Dhabi. Walaupun jenazah Syekh Zayed sudah dikebumikan 16 tahun lalu, tapi spirit wakafnya masih menggaung ke seantero dunia hingga kini. Fa’indallahi tsawabu-l-dunya wa-l-akhirah

Kita layak berkaca dari keteladanan Syekh Zayed. Negara kita memiliki masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam, namun bisa terbilang masih kurang spiritnya terhadap praktik wakaf. Kemudian apabila ditelaah lebih lanjut, ditemukan fakta bahwa pertambahan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan bukanlah karena persoalan kekayaan alam yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk (over population); akan tetapi karena persoalan distribusi pendapatan dan akses ekonomi yang tidak adil.

Hal ini diakibatkan oleh tatanan sosial yang buruk serta rendahnya solidaritas di antara sesama anggota masyarakat ataupun sebuah sistem pengelolaan dan pemberdayaan harta umat Islam yang tidak transparan, akuntabel dan tepat sasaran sehingga menyebabkan ketimpangan sosial yang paten di antara bangsa dan umat Islam sendiri. Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dihadapi bangsa ini dan ternyata tidak mudah untuk diatasi. Penanggulangan kemiskinan memerlukan pemahaman mengenai dimensi dan pengukuran kemiskinan yang operasional sehingga menghasilkan strategi yang tepat. Lingkaran kemiskinan yang terbentuk dalam masyarakat kita lebih banyak kemiskinan struktural, sehingga upaya mengatasinya harus dilakukan melalui upaya-upaya yang nyata seperti yang dilakukan oleh Syekh Zayed.

Ditambah lagi, salah satu tujuan Islam di muka bumi adalah dalam rangka membebaskan umat manusia dari ketertindasan sekat sosial. Seharusnya kelebihan harta yang dimiliki seseorang, hendaknya menjadi alternatif positif, yang dapat digunakan dalam interaksi sosial untuk saling membantu dan tolong menolong. Karena kelebihan harta yang dimiliki, bukanlah hasil jerih payah manusia semata. Melainkan ada campur tangan sang pemilik semesta dan perlu disadari bahwa pemberian kelebihan harta tersebut, tentunya memiliki suatu tujuan dan hikmah tertentu.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here