Home Tokoh Tawadhu’ dalam Menulis ala Imam Ibnu Sholah

Tawadhu’ dalam Menulis ala Imam Ibnu Sholah

306
0

Oleh: Ummu Maghfiroh

Mungkin kita pernah dapati sebuah tulisan yang saat dibaca terasa menggebu gebu, terasa arogan; salah satunya dalam penulisan opini. Emosi pembaca pun kadang ikut menyulut, dan jika itu yang dituju penulis, maka ia telah berhasil menggiring emosi pembaca. Tapi entah apakah isi tersirat dari tulisan tersebut tersampaikan atau tidak; kita tidak tau jelasnya. Demikian salah satu sekilas ungkapan yang saya dapat saat acara sharing menulis opini bersama salah satu senior.

Banyak tujuan dalam menulis, banyak pula cara yang diterapkan. Terlepas dari jenis tulisan yang sudah akrab kita kenal seperti opini atau artikel dsb, semuanya terikat dengan adab atau etika. Dalam penerapan adab tersebut, salah satunya kita bisa belajar dari para ulama. Di sini, bisa kita temui melalui karya buah pemikiran guru kita terdahulu. Setelah ini kita mulai bahas bersama ya; tepatnya dalam salah satu majelis Mustholahul Hadis bersama Syekh Hisyam al-Mirshofy.

Buku yang dipelajari dalam majelis tersebut adalah Ikhtishor Ulum al-Hadis karya Hafidz Ibnu Katsir. Di buku tersebut, Imam Ibnu Katsir menjelaskan seputar istilah dalam ilmu hadis yang mencapai 65 pembahasan, bahkan bisa dibilang lebih.

Sebelum masuk ke inti pembahasan di tulisan ini, sangat penting untuk mengetahui siapa yang kita bicarakan. Yaitu 2 ulama besar dalam bidang hadis, Imam Hafidz Ibnu Sholah dan Imam Hafidz Ibnu Kastir. Imam Hafidz Ibnu Sholah merupakan seorang muhaddist yang berasal dari Damaskus (577- 643 H). Salah satu karya fenomenalnya yaitu Ulum al-Hadist atau akrab disebut Mukaddimah Ibnu Sholah. Dari karya beliau itulah, Imam Hafidz Ibnu Kastir (701- 774 H) mengkajinya hingga lahir sebuah karya yang disebutkan di atas, Ikhtisor Ulum al-Hadis.

Masih dalam pembahasan buku yang sama; ketika mendengarkan penjelasan dari buku tersebut, saya berhenti di halaman awal pada kalimat yang dinukil dari Hafidz Ibnu Sholah. Berangkat dari hal itu, saya mencoba ingin membahas lewat tulisan ini.

Baca juga: https://bacalatansa.com/spirit-santri-ala-yahya-bin-main/

Mendoakan Pembaca, Bagian dari Adab Menulis

Suatu teks arab/literatur, kata demi kata di dalamnya memiliki makna yang mendalam. Bahkan melahirkan suatu konsep jika kita jelaskan dalam bahasa Indonesia. Salah satunya termasuk kalimat bermaksud doa yang diselipkan oleh seorang ulama dalam karyanya.

Ketika membaca karya para ulama terdahulu dalam kitab turats misalnya, kita akan temui banyak kalimat doa yang diselipkan. Seperti kalimat ” ‘Allamaniya Allah wa Iyyakum”, “Akromaniya Allah wa Iyyakum”, “waffaqaniya Allah wa iyyakum” dan lain sebagainya. Yang demikian merupakan doa yang ditunjukkan oleh penulis bagi para pembaca. Tak hanya itu, hal itu merupakan bagian dari adab. Begitulah indahnya adab ulama dalam menulis setiap karya.

Kita akan temui tradisi untuk mendoakan, dalam banyak karya para ulama. Namun, di sini hanya akan dibahas satu di antara banyak contoh lainnya. Salah satunya ada dalam karya Hafidz Ibnu Kastir. Saat masuk pada pembahasan Taqsim al- Hadis (pembagian hadis), terdapat kalimat yang saya sorot seperti yang disebutkan di atas. Yaitu kalimat bermakna doa yang dinukil dari Hafidz Ibnu Sholah.

Hafidz Ibnu Katsir menukil dari Hafidz Ibnu Sholah, “Qola: I’lam —’Allamaka Allah wa Iyyay— Anna al-Hadis ‘Inda Ahlihi Yanqasimu ila Shohih wa Hasan wa Dho’if.” Lalu beliau mulai menjelaskan setelahnya.

Arti dari kalimat yang dikutip dari Ibnu Sholah itu kurang lebih begini, “Ketahuilah —semoga Allah mengajarkan kepadamu dan kepadaku juga— bahwasannya hadis terbagi menjadi hadis shohih, hasan, dan dho’if.”

Sebenarnya bukan kaidah kalimat yang akan dibahas, seperti dari sisi Nahwu atau Shorofnya. Namun di sini, saya mencoba melihat bagaimana cara seorang penulis menyusun struktur kalimat dalam doa dan apa rahasia di balik penulisannya.

Pada kalimat i’tirodhiyah tersebut, kita akan mencoba melihat bagaimana adab para ulama dalam menulis sebuah karya. Salah satunya seorang muhaddist, Hafidz Ibnu Sholah. Kalimat tersebut dimaksudkan sebagai doa sebelum memasuki pembahasan yang hendak disampaikan.

Secara lazimnya, kalimat doa ditunjukkan pada dirinya sendiri dulu baru kepada orang lain, seperti “Astaghfirullah Lii wa Lakum, Allamaniyallah wa Iyyakum, Waffaqniya Allah wa Iyyakum,” Karena pada dasarnya setiap orang pasti ingin melindungi dirinya sendiri terlebih dahulu. Dan memang lebih fasih seperti itu dalam bahasa Arab yang kita temui.

Namun Hafidz Ibnu Sholah mempunyai cara tersendiri dalam hal ini –meskipun ada ulama lainnya yang serupa–. Ada susunan kata yang berbeda dari biasanya, beliau mengedepankan doa untuk orang lain sebelum dirinya. Walaupun keduanya sama-sama adab para ulama dalam menulis, namun terdapat hikmah yang bisa kita ambil di sini.

Yang demikian tak lain karena bentuk tawadhu’ beliau, hingga mengedepankan orang lain dari dirinya dalam berdoa. Jika ingin mendahulukan dirinya sendiri, bisa saja bagi beliau untuk menulisnya karena memang beliau yang menulis dan punya kuasa atas karyanya sendiri. Tapi Ibnu Sholah memilih untuk mengedepankan doanya untuk para pembaca dahulu sebelum dirinya. Kurang lebih begitu yang Syekh Hisyam al-Mirshofy jelaskan tentang Hafidz Ibnu Sholah mengenai kalimat tersebut.

Dari hal ini juga saya melihat bahwa para ulama sangat memperhatikan hal sederhana, bahkan termasuk bagian dari adab. Sebenarnya memang hal kecil dan mendasar, hanya kalimat doa yang diselipkan dan setiap orang pun bisa menulisnya. Namun hal kecil dan sederhana tersebut lebih dulu hadir dari hati yang bersih, hati yang ingin karya dan tulisannya jadi doa sepanjang zaman bagi para pembaca. Bukan hanya sekedar karya yang ditunjukkan untuk ketenaran nama di kalangan massa. Bisa dikatakan bahwa cerminan adab dan tawadhu’ seseorang salah satunya ada pada kalimat singkat itu. Karena sekarang ini untuk menerapkan hal sederhana seperti itu juga sudah mulai pudar.

Ini hanya sekilas contoh dalam adab menulis yang dicontohnya Hafidz Ibnu Sholah. Adab yang beliau contohkan merupakan satu hal sederhana dari banyak hal lainnya yang belum bisa disampaikan di sini. Jika telah memperhatikan adab sesederhana itu, dapat dikatakan pasti adab atau etika lainnya turut diperhatikan.

Yang saya tuliskan ini hanya sebagian kecil dari apa yang bisa kita ambil dari para ulama terdahulu. Bukan hanya soal ilmu dan karya yang banyak, tapi bagaimana para guru kita menyampaikan kasih sayangnya melalui doa untuk para pembaca. Bukan hanya itu, mereka juga memberikan teladan berupa kerendahan hati kepada sesama.
Wallahu a’lam bi aal-showwab.

*Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here