Home Pustaka Tentang Nasihat yang amat Penting (Prolog buku “Ila Waladi” karya Ahmad Amin)

Tentang Nasihat yang amat Penting (Prolog buku “Ila Waladi” karya Ahmad Amin)

145
0

Oleh: Tim Forter IKPM

“Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasehati untuk kebenarandan menasehati untuk kesabaran” (Qs. Al-Ashr [103] : 2-3)

Pendidikan merupakan instrument terpenting dalam membangun suatu generasi. Implementasinya dapat diterapkan melalui berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan untaian nasehat atau arahan. Keduanya dapat terjalin melalui komunikasi yang baik dan sehat antar dua orang atau lebih sebagai suatu interaksi sosial dalam masyarakat.

Dalam hadisnya Rasulullah Saw.pernah bersabda: “Al-Dînu Al-Nasîhah” yakni agama adalah nasehat.  Maksudnya, nasehat merupakan salah satu pilar tegaknya agama Islam. Rasulullah-pun sering menasehati para sahabat dan umat muslim, mengarahkan mereka, memotivasi mereka, dalam rangka mendidik dan mempersiapkan suatu generasi yang siap dan matang dalam mengemban risalah islamiyyah. Hal serupa-pun dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, atba’tabi’in hingga pada zaman kita saat ini.

Salah satunya adalah nasehat seorang ayah pada anaknya. Ayah memiliki peran vital dalam keluarga. Sosoknya sangat berpengruh bagi anaknya. Hal ini bisa kita  di sejarah para umat terdahulu, dari para Nabi, orang solih, ulama salaf maupun khalaf. Kita pasti ingat petuah Luqman kepada anaknya yang dikisahkan al-Quran dalam surat tersendiri. Begitupun nasehat nasihat Nabi Ibrahim dan Ya’qub kepada anaknya. Sejumlah ulama pun tumbuh besar dalam pangkuan ayahnya. Seperti sosok Al-Subki dengan ayahnya. Bahkan, secara global, kita bisa hukumi bahwa hamper setiap ulama dan cendekiawan ternama tampil di pesta dunia lewat inspirasi dari ayahnya.

Tradisi ini pun diikuti oleh Ahmad Amin, seorang sastrawan mesir ternama, yang mencoba  memberikan kita gambaran tentang urgensi sebuah nasehat yang ia sampaikan lewat bukunya  yang bertajuk “Ila Waladi” yang ada di tangan pembaca saat ini. Buku ini dapat menjadi acuan untuk para pendidik generasi muda terkhusus para pelajar, dalam menghadapi arus globalisasi yang begitu masif dewasa ini. Buku ini berisikan nasehat-nasehat seorang ayah kepada anaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, suatu negeri yang kering dari nilai-nilai moral dan sangat menjunjung tinggi kebebasan.

Buku yang dirilis pada tahun 1950 ini  awalnya adalah serangkaian esai dengan tajuk: “Pesan untuk Anakku” yang dikumpulkan oleh Majalah Hilal Mesir sejak tahun 1949. Dalam esai-esai tersebut penulis memaparkan beragam nasihat dan hasil pengalamannya dalam mendidik anak. Selain itu, pada waktu yang bersamaan penulis memiliki seorang anak yang dalam waktu dekat akan menyelesaikan studinya di Inggris. Maka dimanfaatkanlah kondisi ini sebagai ide untuk tulisan-tulisan ini.

Buku ini juga banyak memaparkan tentang dekadensi moral dan pergeseran nilai di beberapa negara yang menjadi virus mayoritas anak muda. Berdasarkan realita yang terjadi serta pengalaman dari sang penulis, maka buku ini disuguhkan kepada para pembaca sebagai nasehat dan peringatan agar terhindar dari itu semua. Secara khusus buku ini memang disajikan untuk anaknya. Namun apa yang dikisahkan sangatlah relevan dengan keadaan saat ini. Komparasi antar  budaya barat dan timur, tradisi serta kebiasaannya, kerap menghiasi isi buku ini, sehingga kekayaan wawasan dan informasi menjadi salah satu keistimewaannya yang pantas diperhitungkan.

Ahmad Amin berangkat dari masalah-masalah global yang sering terjadi pada anak muda di era modern ini. Sebab dalam analisanya, zaman ini sangatlah berbanding terbalik dengan masa yang ia rasakan dulu. Banyak perubahan yang terjadi di berbagai lini. Kendati demikian, Amin tidak memaksa anaknya menjadi dirinya di masa lalu. Namun yang ia tekankan pada anaknya adalah soal ‘prinsip’ dalam diri. Budaya dan keadaan akan terus berubah, sebab ia sifatnya dinamis. Tapi prinsip tidak boleh berubah.

Karenanya, di antara hal terpenting yang diingatkan oleh penulis adalah tentang pentingnya aspek agama dalam kehidupan. Dalam setiap ulasannya, ia menyebutkan bahwasanya aspek agama adalah asas kokoh yang harus ada pada diri seorang muslim. Dalam salah satu nasihatnya ia mejelaskan bahwa dalam diri manusia bukan hanya ada lima panca indra, melainkan enam, yaitu “Indra Agama”; barang siapa yang kehilangannya, maka ia telah kehilangan unsur terpenting dari dirinya dan pondasi terbesar dari hidupnya

“Berimanlah, walaupun orang-orang enggan untuk beriman; dan eratkanlah hubunganmu dengan Allah meskipun manusia telah memutusnya,” tulisnya kepada sang anak.

Selain tentang ini, masih banyak sekali tantangan-tantangn modern yang dibeberkan Ahmad Amin kepada anaknya. Salah satunya adalah tentang karakter dan tipe orang-orang yang belajar ke luar negri. Hal ini karena anaknya saat itu sedang menjadi duta di negri orang.

Menurutnya, belajar ke negri orang itu bukan hanya soal belajar, belajar dan belajar,  demi mendapatkan nilai akademis bagus dan lulus ujian. Itu bukan yang Ahmad Amin inginkan. Atau justru lalai akan tujuan utamanya kedatangannya dengan malas-malasan. Namun yang diingikan olehnya adalah tipe orang ketiga; mereka tidak seperti yang pertama atau kedua. Lantas seperti apa? untuk mengetahuinya silahkan baca buku Ila Waladi. Bagi saya ini nasehat penting, khususnya untuk yang sedang belajar di luar negri.

Pembaca akan disadarkan tentang realita pendidikan di masyarakat lewat untaian-untaian kata yang dirangkai oleh penulis. Pembaca juga diajak untuk menyaksikan  berbagai persoalan serta solusi untuk mengatasinya. Pada akhirnya semua itu merupakan upaya juga salah satu terobosan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya para orang tua, terhadap kebobrokan moral para remaja sebagai aset bangsa yang harus dijaga.

Ini baru satu dua di antara banyak pembahasannya. Masih ada 17 ulasan lagi yang penulis singgung dalam untaian nasihatnya. Ahmad Amin seakan bukan hanya berpesan pada anaknya, tetapi juga pada kita semua sebagai seorang anak, khususnya yang hidup di era modern ini. Penulis juga berpesan pada anaknya jangan sampai terlena hingga kesuksesanmu tak kau raih. Sebab berbagai sarana, seperti uang, pekerjaan, teknologi, semua sudah ada, maka tidak ada kata untuk tidak berhasil.

Dari ini semua, maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini harus dibaca oleh semua kalangan masyarakat sebagai nasehat, pelajaran dan pedoman dalam pendidikan. Buku ini juga cocok dibaca sambil mengisi waktu-waktu luang bersama keluarga karena penulis menyusunnya dengan Bahasa yang ringan dan lugas.

Maka buku ini menjadi salah satu poin terpenting untuk dibaca dan direnungi untuk seorang anak. Kalian akan mengangguk-angguk saat membaca pesan-pesan yang ada di dalam buku ini, karena banyaknya kesesuaian yang ada antara pesannya dan realita saat ini. jika al-Qur`an saja menganjurkan kita untuk saling menasehati dan saling mengingatkan, maka kenapa tidak dengan kita semua, khususnya nasihat orang tua kepada anaknya. Karena dalam al-Qur`an, kita semua diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Kalau tidak dengan nasihat yang baik, maka anak kita kelak akan terjerumus pada suatu perkara yang buruk.

Wallahu alam bi al-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here