Home Artikel Tinjauan Historis Mazhab-Mazhab Fikih yang Empat

Tinjauan Historis Mazhab-Mazhab Fikih yang Empat

282
0

 

 Oleh: Abdul Karim Abhaka

Dalam beragama Islam, seorang muslim yang telah memenuhi kriteria sebagai mukalaf, wajib baginya menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, semampu mungkin, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam teks-teks agama (al-Qur`an, sunah dan lain-lain). Seorang muslim dalam rangka menjalankan segala aturan Allah dalam hidupnya di dunia, tentunya memerlukan ilmu yang dapat mengantarkannya untuk mencapai apa yang dikehendaki oleh-Nya. Ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu fikih.

Barangkali, ada sebagian dari kita yang bertanya-tanya, dari manakah sumber ilmu fikih yang diamalkan dan beredar di tengah-tengah masyarakat muslim sekarang? Mengapa terdapat perbedaan pendapat diantara para Imam mazhab fikih yang empat? Dan bagaimanakah sejarahnya hingga sampai kepada kita? Dalam tulisan ini, penulis mencoba memaparkan tinjauan sejarah secara singkat, tentang asal-muasal kemunculan mazhab-mazhab fikih yang empat dalam Islam.

Al-Tafaqquh fî al-Dîn pada Masa Kenabian

Umat muslim diperintahkan oleh Allah Swt. untuk taat dan patuh dalam beragama, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya adalah menaati rasul-Nya. Dalam al-Qur`an, Allah Swt. secara eksplisit memerintahkan umat muslim untuk untuk menaati Rasulullah Saw. secara total, seperti disebutkan dalam (Qs. An-Nisa [4]:64). Kemudian Allah memerintahkan rasul-Nya untuk mengajarkan umatnya cara beragama dan agama itu sendiri, yang semua ajaran itu terkandung dalam al-Kitâb (al-Qur`an) dan al-Hikmah (al-Baqarah[2]:129). Mayoritas ulama tafsir, menafsirkann kata al-Hikmah, pada ayat tersebut, sebagai: al-fiqh dalam Syariat Islam. Adapun makna dari al-fiqh itu sendiri adalah: al-fahm (pemahaman). Kemudian makna al-fahm untuk al-fiqh ini dijadikan sebuah pengertian khusus, yakni sebagai: hukum-hukum syariat yang berkenaan dengan permasalahan-permasalahan cabang dalam Islam.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Abdu al-Halim An-Nu’mani dalam bukunya al-Tarbiyyah al-Fiqhiyyah fî khoir al-Qurûn. Beliau menjelaskan gambaran pengajaran agama (dalam hal ini, fikih) oleh Nabi kepada para sahabat, beserta cara-cara penggalian hukum pada masa kenabian, yang melewati empat fase.

Fase Pertama: al-Targhîb:. Nabi menanamkan kecintaan belajar dan memperdalam ilmu agama dalam diri para sahabat, hal ini disebutkan dalam wahyu yang pertama kali turun, dalam surah al-‘Alaq ayat 1. Hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi yakni: Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik, maka Allah akan menjadikannya faqîh (yang paham) dalam (ilmu) agama (H.R Bukhori).

Fase Kedua: al-Ta’lîm wa al-Tafqîh: Pengajaran agama secara mendalam sejatinya, telah dimulai sejak masa awal penyebaran agama Islam, di sebuah tempat yang bernama Dâr al-Arqâm, Makkah. Pada fase ini Nabi mengajarkan dan memahamkan para sahabat semua ajaran agama dari setiap wahyu yang turun kepadanya.

Fase Ketiga: al-Tamrîn wa al-Tahqîq: Di fase ini, Nabi mendemontrasikan para sahabat tata cara penggalian hukum suatu masalah dengan masalah lain yang mempunyai kemiripan hukum dengannya, kemudian melakukan qiyâs  atasnya.  Pada kesempatan lain, Nabi juga mengajarkan cara penggalian hukum-hukum dari dalil-dalil yang sudah ada, untuk menentukan hukum setiap permasalahan agama yang dalilnya belum ada ketika itu.

Fase Keempat: al-Taṭbîq al-‘Amaliy: Nabi melatih beberapa sahabat untuk berijtihad dalam beberapa permasalahan agama ketika itu, namun masih di bawah bimbingan dan arahan beliau. Metode ini Nabi gunakan agar beliau mengetahui sejauh mana kapabilitas dan keahlian para sahabat (yang dipilih), dalam berijtihad. Dilaporkan dalam suatu riwayat, bahwa sudah ada enam sahabat yang berijtihad sejak masa kenabian, mereka adalah: ‘Ali ibn abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ary, Ubay ibn Ka’ab, ‘Umar ibn Khottab, Zaid ibn Tsabit, dan ‘Abdullah ibn Mas’ud.

Akar Perbedaan Pendapat.

Sebagaimana keahlian dibutuhkan untuk setiap jenis disiplin keilmuan, demikian pula dibutuhkan keahlian untuk dapat mengakses dan menentukan hukum-hukum dalam syariat Islam. Aktifitas dalam mengoperasikan keahlian ini, oleh para ulama disebut sebagai ijtihad, dan pelakunya disebut sebagai mujtahid. Karena tidak setiap muslim dapat mencapai kualifikasi ijtihad, maka jalan yang harus ditempuh seorang muslim (yang tidak dapat mencapai kualifikasi Ijtihâd) sebagai mukalaf adalah taklid. Taklid adalah keputusan dengan  sadar untuk mengikuti cara pandang dan hasil Ijtihad seorang muslim yang sudah mencapai level mujtahid, yakni dalam agama Islam dikenal dengan sebutan  “madzhab”. Jadi, ber-madzhab dalam pandangan para ulama ahlussunnah adalah: mengikatkan diri dengan satu madzhab tertentu (akidah, fikih atau akhlak) dengan penuh sadar, demi komitmen untuk menjalankan ajaran-ajaran agama Islam secara menyuluruh (kaffâh).

Sebelum munculnya mazhab-mazhab fikih yang empat, dalam sejarah Islam sudah dikenal dua mazhab yang merupakan cikal bakal dari munculnya empat mazhab fikih tersebut, yaitu mazhab ahl al-hadits di Hijaz dan ahl ar-ra’y di Irak. Jika ditelusuri akar kedua mazhab ini, ia sejatinya sudah ada sejak zaman Rasululllah Saw. Hal ini bisa kita lihat pada hadis perang (Maghâzy) tentang bani Quraizhah. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : Lâ yuṣalliyanna ahadun al-‘aṣra illâ fî banî Quraizhah.(H.R Bukhori). Dalam hadis tersebut digambarkan bahwa, Rasulullah Saw. memerintahkan pasukan muslimin untuk tidak melaksanakan shalat Ashar, kecuali setelah tiba di wilayah bani Quraizhah. Namun yang terjadi ketika itu, waktu shalat Ashar telah tiba saat mereka masih dalam perjalanan, menuju wilayah bani Quraizhah.

Hal ini berdampak pada terjadinya perbedaan pendapat antara para sahabat dalam melaksanakan perintah Rasulullah Saw.. Sebagian sahabat memahami perkataan Rasulullah Saw. secara tersirat (implisit), dan sebagian yang lain secara tersurat (eksplisit). Akhirnya, sebagian sahabat melaksanakan shalat Ashar ditengah-tengah perjalanan menuju wilayah bani Quraizhah, dan sebagian yang lain, enggan untuk melaksanakannnya kecuali setelah tiba di wilayah bani Quraizhah. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah Saw., beliau tidak menyalahkan salah satu dari dua kelompok tersebut.

Hadis diatas menunjukkan, bahwa terdapat perbedaan cara dalam memahami perkataan Rasulullah Saw. diantara para sahabat. Sebagian dari para sahabat memahami perkataan Rasulullah Saw. dengan melihat ‘illah dari maksud perkataannya. Mereka berpandangan bahwa maksud perintah Rasulullah Saw. pada hadis yang telah disebutkan di atas, adalah: supaya para sahabat “bergegas” menuju bani Quraizhah sehingga dapat melaksanakan shalat Ashar di sana. Sedangkan sebagian yang lain, tetap berpegang teguh pada makna zahir dari perkataan Rasulullah Saw., yakni: mereka disuruh beliau melaksanakan shalat Ashar, hanya di wilayah bani Quraizhah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa: perbedaan cara memahami dalil-dalil agama (al-Qur`an dan Sunah), cara penggalian hukum beserta hasilnya dalam syariat Islam sendiri, sudah ada sejak zaman kenabian.

Kemunculan para Imam Mazhab Fikih yang Empat

Sahabat yang dikenal sebagai bapak ahl al-hadis adalah Abdullah bin Umar. Setelah kepergian Rasulullah Saw., Abdullah Ibn Umar bermukim di Madinah selama 62 tahun untuk mengajarkan agama Islam kepada para murid-muridnya, yakni para tabiin. Salah satu murid terbaiknya adalah mantan budaknya, yaitu Imam Nafi’. Pada masa setelahnya Imam Nafi’ menjadi guru Imam Malik bin Anas (w.179 H/795 M) yakni pendiri mazhab Maliki sekaligus yang mempunyai andil terbesar dalam penyebaran mazhab ahl al-hadis.

Sedangkan bapak ahl al-ra’yi dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud yakni sahabat dekat Rasulullah Saw. yang karakter dalam memahami agamanya, dekat dengan karakter Umar bin Khattab, yang lebih sering ‘memeras otak’ dalam pengambilan hukum-hukum agama, ketimbang hanya berpegang dengan makna zahir saja. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud dikirim ke Kufah, Irak. Sebagai Guru agama, Hakim sekaligus Menteri. Salah satu murid terdekat Abdullah bin Mas’ud adalah Alqamah bin Qais an-Nakhai, guru dari Ibrahim an-Nakhai, yang merupakan guru dari Hammad bin Abu Sulaiman, yakni guru utama Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (w.150 H/ 767 M). Selanjutnya Abu Hanifah lah yang mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran  mazhab ahl al-ra’y, sebagai pendiri mazhab Hanafi.

Setelah kedua pendiri mazhab tersebut, muncullah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w.204 H/820 M) yang mempelajari kedua metode mazhab tersebut langsung dari pendirinya. Pada perjalanannya dalam menuntut ilmu, ia berguru kepada banyak ulama zaman itu. Salah satu guru terbaiknya adalah Imam Malik bin Anas. Ia berguru kepadanya sampai akhir hayat beliau. Imam as-Syafi’i juga berguru kepada Muhammad bin Hasan al-Syaibani yang merupakan murid terdekat Abu Hanifah. Dengan demikian Imam Syafi’i telah menghimpun metode kedua mazhab tersebut; yakni ahl al-ra’y dan ahl al-hadis. Setelah Imam Syafi’i menjadi salah satu Imam mazhab fikih, beliau  mempunyai murid yang bernama Imam Ahmad bin Hanbal (w.241 H/765M) yang nantinya menjadi pendiri mazhab Hanbali.

Khâtimah

Dengan demikian, ilmu fikih yang kita amalkan sekarang, secara asal-muasalnya sudah ada sejak masa kenabian. Dalam bentuk: Pengajaran agama oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabat, setiap wahyu yang turun kepada beliau dan pelatihan Rasulullah beberapa sahabat terpilih dalam berijtihad. Para sahabat yang sudah dilatih secara langsung oleh Nabi untuk ber-ijtihad, kemudian menyebarkan ilmu-ilmunya ke berbagai penjuru negeri, untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka kepada generasi setelahnya, yakni para tabiin. Para tabiin yang dididik oleh para sahabat tadi, kemudian mewariskan ilmu-ilmu mereka hingga sampai kepada Imam Mazhab Fikih yang Empat, yakni: Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (w.150 H/ 767 M), Imam Malik bin Anas (w.179 H/795 M), Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w.204 H/820 M) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (w.241 H/765M). Adapun perbedaan cara berijtihad dan hukum-hukum yang dihasilkan oleh setiap imam mazhab fikih yang empat, sudah ada akarnya sejak masa kenabian. Yakni tergambarkan dengan jelas pada hadis perang (Maghâzhy), tentang bani Quraizhah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here