Home Al Azhar Wanita dalam Pandangan Islam

Wanita dalam Pandangan Islam

125
0

Oleh: Syekh Ali Jum’ah (Diterjemahkan dari akun resmi Syekh Ali Goma) 

Kaum Muslim berkeyakinan bahwa, sesungguhnya Allah menciptakan wanita dan pria dari satu jiwa, yang kemudian keduanya menjadi sosok manusia yang Allah muliakan. Keyakinan tersebut sebagai bentuk keimanan mereka kepada Allah, sebagaimana firman Allah:

Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.(6: 98)

Mereka juga mengimani bahwa keduanya -baik wanita maupun pria- mendapatkan kewajiban yang sama di hadapanNya, baik pahala maupun hukuman, karena mereka mengimani Firman Allah yang berbunyi:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13)

Disebutkan pula bahwa wanita dan pria memiliki persamaaan dalam hal beban pahala dan hukuman:

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga. (40:40)

Dan Nabi telah menegaskan ayat tersebut dengan memberikan nasehat kepada para wanita yang berbunyi :

“Hendaknya kalian saling berwasiat untuk memperhatikan dan menunaikan hak-hak para wanita”.

Dan ketika Rasul menjelaskan mengenai persamaan dan dasar ibadah serta syariah dalam Islam, Rasul mengatakan bahwa wanita adalah tanggung jawab lelaki. Dan Rasul melarang untuk melebihkan pria atas wanita -sebagaimana adat dan kebiasaan masyarakat Arab dalam hal pendidikan dan bantuan- Barangsiapa memiliki seorang anak perempuan, ia tidak menyakitinya, tidak pula menghinakannya, anak laki-lakinya tidak mempengaruhinya untuk lebih mendahulukannya atas anak perempuannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga.

Penjelasan serta pemaparan di atas, merincikan kedudukan wanita dalam nushus syar’iyyah Islamiyyah dalam al-Quran dan al-Sunnah. Jika kita telisik dari lintas sejarah yang dilewati umat Islam, kan kita dapati geliat para wanita yang telah banyak mewarnai goresan sejarah umat Islam. mewariskan kemulian-kemulian agung sebagai seorang wanita dalam tiap sudut kehidupan.

Dalam sejarahnya, sepak juang peran dari seorang wanita dalam Islam telah dimulai pada saat fajar Islam menyingsing. Yakni, wanita adalah manusia pertama yang mengimani Nabi. Wanita adalah makhluk pertama yang bersaksi di jalan Allah. Wanita adalah sosok pertama yang berhijrah menuju Allah dan Rasulullah bersama suaminya setelah Nabi Luth Saw, demikian pula sejarah menyebutkan bahwa Sayyidah Aisyah adalah manusia pertama yang dicintai Rasulullah. Sayyidah Khadijah bintu Khuwailid adalah wanita pertama yang beriman kepada Nabi beserta para sahabatnya. Tak hanya itu, bahkan ia juga menjadi tempat kembali Rasul untuk menenangkan diri dan mengamankan diri. Ia juga membantu Nabi dengan hartanya, dan Allah melimpahkan dari rahimnya seorang anak. Bahkan Nabi pun memberikan nama khusus untuk tahun perpisahannya dengannya dengan tahun “kesedihan”.

Sayyidah Summayyah bintu Khayyath istri Yasir orangtua ‘Umar adalah sosok yang pertama kali mendapatkan julukan “Sang Syahidah” dalam Islam. Ia di kenal lebih kuat dari anaknya yang masih muda, karena keberaniannya mematahkan hinaan yang dilontarkan kepada Nabi. Dan penyematan “Kafir” yang diterimanya hingga segala bentuk hinaan habis ditangannya. Hal ini menunjukkan keimanannya dan keyakinannya terhadap agamanya, nabinya, hingga ia syahid di Jalan Allah.

Kemudian disusul Sayyidah Ruqayyah bintu Rasulillah yang merupakan sosok wanita pertama yang hijrah bersama suaminya ‘Ustman bin ‘Affan.

Kedudukan wanita yang terpotret dalam sejarah Tidak hanya sebatas sosok pertama yang beriman kepada Nabi, atau sang pionir yang syahid dalam Islam, atau  perdana yang melakukan hijrah dalam Islam. Atau manusia yang paling dicintai Nabi, melainkan kedudukan wanita terekam dalam mozaik sejarah lintas masa dan zaman. Wanita menjadi penetap hukum yang duduk di pengadilan hukum, berjuang, mengajar, berfatwa,  pengendali ukuran timbangan dan segala potret perjuangan sejarah wanita yang terekam dalam sejarah umat Islam.

Tertulis dalam sejarah umat Islam,  ada sekitar lebih dari 50 wanita mengomandoi pemerintahan negeri-negeri Islam. Dimulai dari 6 masa pemerintahan Daulah Fathimiyyah di Mesir yang salah satu masanya dipimpin oleh wanita. Kemudian disusul pada permulaan abad ke 5 tahun Hijriyah, dengan perjalanan pemerintahan yang dipimpin oleh Ratu Asma’ dan Ratu Arwa yang memerintah hingga akhir abad ke 5 Hijriyyah. Kemudian disusul Ratu Zainab An-Nafzawiyyah di Andalusia, kemudian Sultan Radiyyah di Delhi di pertengahan abad ke 7 hijriyyah. Kemudian Shajar al Durr yang memimpin di abad 7 hijriyyah juga, A’ishah Al-Hurrah di Al- Andalus; Sit Al-Arab, Sit Al-’Ajam; Sit Al-Wuzaraa’; Ash-Sharifah Al-Fatimiyah; Al-Ghaliyah Al-Wahhabiyah; Al-Khatun Khatla’ Turkan; Al-Khatun Badshah; Ghazalah Ash-Shabibah dan masih banyak lainnya.

Jadi, kedudukan wanita di dalam agama Islam adalah sama dengan pria dalam beban sebagai muslim, demikian pula dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Sedangkan perbedaan diantara keduanya terletak pada hak-hak dan kewajiban zahir sebagai pria dan wanita. Dan buka dari perbedaan jenis antara pria dan wanita. Jadi perbedaan tugas bukanlah perkara yang dikaitkan dengan jenis dari keduanya.

*Diterjemahkan oleh Forum Terjemah IKPM Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here