Home Artikel Kenangan Bersama Dr. Thaha Hubaisyi: Berbincang Seputar Turats

Kenangan Bersama Dr. Thaha Hubaisyi: Berbincang Seputar Turats

341
0

Oleh: Mufliha Ramadia MA*

Hari ini kita baru saja kehilangan salah satu guru kita, Syekh Thaha al-Dasuqi Hubaisy Allah yarham. Untuk mengenang beliau, kami selaku kru La Tansa mencoba mengulas ulang wawancara bersama beliau di periode tahun 2017–2018 yang bertemakan seputar turats. Berikut hasil wawancara yang bisa kita simak bersama.

“Al-Turats al-Islamiy” merupakan nama istimewa yang disematkan pada kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Islam terdahulu dan belajar kepada para shahabah yang menerima ilmu langsung dari Rasulullah Saw. Sedangkan kitab yang ditulis di masa modern ini belum ada penyebutan khusus yang diberikan untuknya, padahal keduanya sama-sama mengandung ilmu dan pengetahuan. Sebenarnya, apa keistimewaan dari kalimat ‘turats’ itu sendiri, juga kitab-kitabnya yang ditulis oleh para ulama Islam terdahulu? Lalu, apakah perbedaan dari kitab yang diwariskan oleh Islam dan kitab yang ditulis di zaman modern ini? Apakah keistimewaan dari turats Islam yang menjadikannya unggul dibandingkan dengan turats non-Islam dimasa modern ini? Bagaimana para golongan khalaf menggabungkan keilmuan yang telah diwariskan oleh golongan salaf ? Lalu bagaimanakah Al-Azhar mampu menjalankan perannya dalam menjaga kelestarian turats itu sendiri?

Pada edisi “Reaktualisasi Turats” ini, para kru majalah IKPM La Tansa mendatangi kediaman seorang ulama besar yaitu Syekh Thoha al-Dasuqi Hubaisy langsung di Bulaq Dakrur-Giza, guna mengkaji dan mendalami pemahaman mengenai turats juga untuk membantu para pelajar dalam menunjang semangatnya memperdalam ilmu yang didapat di al-Azhar. Oleh karena itu simak wawancara kami kali ini dan perhatikan!

( KL ) Apakah yang dimaksud dengan al-Turats al-Islamiy?

( N ) Turats adalah bagian dari pengetahuan yang diwariskan oleh umat terdahulu; dan patutlah kita bangga dan bersyukur karena belum ada satu umat pun yang mampu mengungguli umat Islam dan memiliki warisan yang berasal dari Rasulullah Saw. langsung hingga saat ini. Umat Islam didahuli oleh umat-umat lain yaitu Persia dan Romawi. Mereka mengelilingi teritorial yang menjadi cikal bakal munculnya umat Islam. Meskipun Islam yang memulai peradabannya di daerah kecil kota Madinah yang dikelilingi oleh dua imperium dengan peradaban keilmuan yang besar, namun ia belum mengambil bagian dari perkembangan peradaban mereka. Walaupun demikian pada akhirnya, Islam dapat memiliki warisan keilmuan yang tersebar luas di berbagai belahan bumi.

Warisan Islam ada dua macam. Pertama adalah warisan yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. berupa wahyu yang diturunkan Allah Swt. Sedangkan warisan yang kedua yaitu penerapan atau implikasi dan pemahaman umat Islam mengenai wahyu, serta para ulama yang dimiliki oleh umat Islam. Hal ini merupakan faktor pendorong bagi Islam menjadikan umatnya berwawasan luas dan memiliki peradaban besar, karena sebuah umat tidak akan memiliki peradaban yang besar jika tidak ada unsur pewarisan pada awal munculnya umat tersebut.

( KL ) Apakah keutamaan yang dimiliki turats Islam yang menjadikannya istimewa dan unggul dibanding dengan turats non-Islam di masa modern ini, dan apakah ada bukti yang menjelaskannya?

( N ) Tatkala kalimat “kontemporer” atau “modern” dimaksudkan pada buku-buku atau pengetahuan-pengetahuan yang memerangi umat dengan pemikiran dari luar Islam, maka buku-buku yang memerangi tersebut serta keilmuan juga warisannya pada dasarnya bersifat ‘insaniy’ (humanis-tidak memimiliki hubungan dengan Allah), sedangkan turast umat Islam bersifat ‘ketuhanan’ (memiliki hubungan langsung antara manusia dengan Allah). Adapun pengetahuan yang bersifat insaniy (humanis), bersifat terbatas pada hal konsepsi dan teori. Hal ini dapat dilihat pada beberapa ideologi seperti demokrasi dan sosialisme, di mana keduanya saling bersebrangan pemahaman dan keduanya adalah bersifat humanis. Jikalau demikian, hal ini berarti sebuah kekurangan (ma’îb) pada ideologi tersebut.

Sedangkan turats Islam berasal dari Allah, yang dengannya umat Islam mampu mengungguli turats yang bersifat humanis. Banyak hal yang membuktikannya, khususnya apa yang ditulis oleh para ilmuwan non-muslim, seperti Nichelsen, cendikiawan Amerika yang menulis sembilan jilid buku. Dua jilid telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, tujuh jilid lagi belum. Dari kedua buku yang diterjemahkan tersebut, salah satunya berjudul “Kemenangan tanpa Peperangan”, maksudnya adalah bahwa bangsa Amerika –dengan demokrasi mereka- telah meraih kemenangan atas ideologi komunisme. Satu buku lainnya berjudul “Peluang yang Terbuka Lebar”, isinya sama dengan buku sebelumnya yang membahas tentang ideologi di luar sistem demokrasi. Dalam hal ini, Nichelsen mengklaim bahwa sistem demokrasi telah menjadi pemenang di peradaban kontemporer (modern).

Namun yang menarik di sini adalah, bahwa ia mengakui ada satu peradaban yang ditakuti oleh sistem demokrasi yang berlaku di Amerika dan dikhawatirkan peradaban tersebut akan mengungguli Amerika yang telah menjadi negara adidaya. Hal tersebut bukanlah peradaban dan sistem komunisme, Eropa, Jepang atau yang lainnya yang Nichelsen takuti, karena peradaban-peradaban tersebut memiliki mikroba yang dapat menghancurkan peradaban mereka sendiri dari dalam.

Melainkan turats Islamlah yang justru memiliki faktor-faktor yang mampu membuatnya bangkit dan berjaya yang terdapat dalam tubuh turats Islam itu sendiri. Dengan demikian, hidup dan berjayanya umat Islam terdapat dalam turats mereka, tinggal bagaimana umat Islam mau mengembangkannya atau terlelap dalam tidur mereka.

( KL ) Bagaimanakah para golongan khalaf (generasi penerus) melanjutkan usaha para golongan shalaf (generasi pendahulu) dalam kitab-kitab yang ditulis saat ini?

( N ) Setiap umat memiliki sejarahnya sendiri-sendiri; Romawi, Persia, dsb. Begitu pula umat Islam juga memiliki sejarahnya sendiri. Manusia memiliki asas akumulatif dalam kehidupannya. Akumulatif artinya, mengambil informasi, mengolah lalu menerapkan apa yang sesuai dengan lingkungannya dan membuang apa yang tidak sesuai. Berdasarkan asas ini para generasi pendahulu dari setiap umat telah melakukan berbagai eksperimen dan percobaan untuk dikembangkan. Maka, generasi penerus mereka mengambil hal-hal yang telah tertuliskan atau belum tertuliskan dari hasil eksperimen generasi pendahulu.

Dalam kaitannya dengan hal ini, selama tidak ada kontradiksi antara generasi penerus dan generasi pendahulu maka pengetahuan itu akan terus tersambung. Tugas para generasi penerus terutama para ulama, adalah melakuan review, klarifikasi dan aktualisasi terhadap turats atau warisan generasi pendahulu.

( KL ) Bagaimanakah peran al-Azhar yang menjadi cikal bakal utama dalam melakukan perannya mejaga turats hingga kehidupan di masa modern ini?

( N ) Pada awal berdirinya, al-Azhar sebuah intitusi yang menganut aliran Syiah. Namun atas kuasa Allah, al-Azhar akhirnya menganut dan menyeru kepada aliran al-Wasathi al-Sunni. Dalam perjalanannya, Al-Azhar yang menyeru kepada al-Wasathiyah al-Islamiyyah melakukan perannya sebagai pemurni ajaran Islam. Contohnya dalam akidah, selama 1000 tahun lebih hingga saat ini banyak sekali golongan dan pemikiran yang keluar dari akidah Islam, sebagai contoh di pertengahan zaman dengan adanya aliran pemikiran Bathiniyah. Dalam hal ini, al-Azhar berperan memurnikan dan membantah pemikiran tersebut sesuai dengan manhaj para Ahlu al- Sunnah wa al- Jamaah.

Dalam ranah fikih, al-Azhar menjadi wadah dalam penyelesaiaan segala permasalah berbagai mazhab. Sebagaimana pada awal berdirinya, al-Azhar adalah sebuah institusi agama Islam yang berdiri di atas dan untuk semua golongan. Maka ia tidak mengikuti satu aliran politik manapun. Selain itu, dalam menjalankan perannya yang menganut aliran wasathi al-Azhar juga mengajarkan segala hal mengenai aliran empat mazhab fikih.

Perlu dipahami pula, bahwasanya al-Azhar bukanlah lembaga yang dimiliki oleh pemerintahan Mesir, melainkan lembaga keagamaan bagi para ulama seluruh umat Islam baik di dunia belahan timur maupun barat. al-Azhar tidak hanya mengikuti perkembangan pemerintahan dan politik melainkan al-Azhar juga mengawasi dan mengikuti perkembangan umat. Karena apabila al-Azhar terbatas pada pengawasaan terhadap ranah politik saja, ia tidak akan mungkin melakukan segala peran pentingnya terhadap umat di dunia.

Namun apabila al-Azhar menjadikan umat sebagai pusat perhatian utama dengan seluruh aspek yang ada di dalamnya, maka ia akan mampu melaksanakan seluruh peran dan tugasnya dengan optimal. Sehingga apapun yang diputuskan oleh al-Azhar itu semata-mata berasal dari dan untuk umat termasuk menjaga warisan kitab turats itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here