Oleh: M Sayidulqisthon

Dikotomis Barat-Timur tentunya bukan hanya tentang batas teritorial geografis, namun lebih merujuk pada cara pandang, metode berpikir, dan ideologi. Beberapa produk pemikiran Barat semenjak renaissance (atau bahkan sebelum itu) seperti liberalisme, sekularisme, nihilisme, positivisme, relativisme, individualisme dan sebagainya memang menjadi momok tersendiri dalam dunia Islam.

Namun demikian tidak semua yang ada di Barat (secara geografis) menganut paham Barat (secara ideologi). Sebagai contoh nyata, berdirinya Perguruan Tinggi Zaytuna, kampus Islam dalam Liberal Art pertama di negeri paman sam. Beberapa tenaga pengajar di Zaytuna merupakan tokoh ternama dunia keilmuan Islam, seperti Syekh Hamza Yusuf, Zaid Shakhir dan lainnya.

Nama Zaytuna diambil dari kata zaitun, salah satu nama pohon yang disebut dalam Al-Quran. Nama Zaytuna juga merujuk pada nama salah satu madrasah ternama di Tunis, Universitas Zaitunah. Perguruan Tinggi Zaytuna sudah ada sejak 1996 dalam bentuk instansi tidak resmi, hingga pada tahun 2009 Zaytuna resmi dibuka. Dan menyusul pada tahun 2010, dibuka program pascasarjana.

Dalam usianya yang masih muda, Zaytuna sudah memperoleh akreditasi dari Western Association of Schools and Colleges (WASC), lembaga yang juga mengeluarkan akreditasi untuk beberapa universitas ternama seperti Stanford University, dan University of California di Berkeley. Proses akreditasi Perguruan Zaytuna bisa dibilang cukup singkat, dimulai sejak tahun 2010 kampus Zaytuna mendapatkan sinyal dari WASG untuk mengajukan akreditasi. Hingga pada  4 Maret 2015, kampus Zaytuna yang bertempat di Berkeley, Kalifornia resmi mendapatkan akreditasi dari WASG.

Misi utama Perguruan Tinggi Zaytuna adalah memebentuk dan mempersiapkan pribadi profesional dan intelektual yang berbudi tinggi dengan basis dan latar belakan tradisi keilmuan Islam yang siap menjawab tantangan masyarakat modern. Dalam bahasa lain bisa dibilang Zaytuna berusaha menghadirkan tradisi keilmuan Islam klasik dengan wajah dan warna modern.

Metode pengajaran yang dianut Perguruan Zaytuna, Liberal Art merupakan metode yang menafikan dikotomis antara satu bidang ilmu dengan bidang lainnya. Sehingga Zaytuna tidak menggunakan sistem pembelajaran fakultatif seperti yang digunakan kebanyakan universitas modern. Tentu saja semuanya tidak lepas dari prinsip awal Zaytuna, bahwa fondasi dasar dan tolok ukur seluruh ilmu adalah adab, sebagaimana yang dinyatakan Al-Attas dalam konsep ta’dib-nya.

Program sarjana di Zaytuna ditempuh normalnya dalam jangka waktu empat tahun dengan kelas Bahasa Arab (Summer  Arabic Intensive, SAI) di awal tahun ajarannya. Namun bagi mahasiswa yang mampu lulus tes kecakapan tidak diharuskan mengikuti kelas ini. Mahasiswa Zaytuna akan mendapatkan pengajaran yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan dan metode, mulai dari penghafalan teks hingga studi dan analisa kritis. Mahasiswa juga akan mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan wacana dan pandangannya, pasalnya kampus Zaytuna sangat membuka pintu untuk pertukaran pandangan dengan universitas di sekelilingnya yang memiliki basis non-muslim. Untuk menyelesaikan program sarjana  dan mendapatkan gelar Bachelor dalam teologi dan fikih, mahasiswa diharuskan setidak-tidaknya mencapai rata-rata IPK 2.0 dari keseluruhan mata kuliah.

Sedangkan untuk program pascasarjana, dalam jangka waktu dua tahun Zaytuna menekankan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menelaah teks primer  agama Islam dan karya-karya klasik (turats). Sehingga untuk bisa bergabung dalam program pascasarjana dibutuhkan kemampuan yang meliputi penguasaan kemampuan studi turats yang meliputi tafsir, fikih, kalam, jadal, dsb.

Di luar kegiatan akademis, kampus Zaytuna juga menyediakan beberapa kegiatan dan olahraga luar kelas yang juga termasuk dalam kurikulum yaitu renang, panahan dan berkuda. Di samping itu Zaytuna juga menekankan pendidikan spiritual dengan program tajwid dan tahfidz. Bagi mahasiswa yang tidak memenuhi persyaratan lulus ujian tajwid dan tahfidz diharuskan mengikuti kelas mingguan tersendiri di luar perkuliahan.

Untuk sementara jalur penerimaan mahasiswa baru hanya bisa melalui website resmi Zaytuna di www.zaytuna.edu. Kampus Zaytuna tidak menyediakan beasiswa khusus di awal, sehingga segala administrasi awal berupa biaya registrasi dan lain-lain menjadi tanggungan masing-masing mahasiswa baru. Akan tetapi setelah resmi berstatus sebagai mahasiswa, Zaytuna menyediakan beberapa opsi bantuan dari dana, seperti bantuan dari dana zakat, beasiswa Merit bagi mahasiswa berprestasi dsb. Biaya awal bagi mahasiswa baru Zaytuna (tahun akademik 2017-2018) merogoh kocek sebesar $ 40.425, dengan perincian yang dijelaskan di website resminya.

Zaytuna tidak mengharuskan mahasiswanya tinggal di asrama atau perumahan yang sudah disediakan, mahasiswa diperbolehkan bertempat tinggal di luar lingkungan kampus terutama bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga. Namun demikian, bagi mahasiswa muslim tentunya lebih direkomendasikan tinggal di perumahan mahasiswa, mengingat muslim di Amerika adalah minoritas. Di samping itu di luar jam kuliah mahasiswa juga diperkenankan memiliki pekerjaan paruh waktu, meski memang mayoritas mahasiswa menghabiskannya untuk belajar.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here